Scroll untuk baca artikel
NASIONAL

Rakernas IX IKABOGA Indonesia Tuntas, Dua Komisi Rumuskan Arah Baru Organisasi dan Penguatan Kompetensi Anggota

×

Rakernas IX IKABOGA Indonesia Tuntas, Dua Komisi Rumuskan Arah Baru Organisasi dan Penguatan Kompetensi Anggota

Sebarkan artikel ini
Foto bersama Pimpinan Sidang Rakernas IX IKABOGA Indonesia bersama Komisi A dan B, Kamis (5/11) - foto dok

TANGERANG – Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IX Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA Indonesia) Tahun 2026 resmi menuntaskan rangkaian pembahasannya pada 6 November 2026. Forum nasional yang berlangsung selama tiga hari, 4–6 November 2026, di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Kabupaten Tangerang, Banten, tersebut menghasilkan sejumlah rumusan strategis untuk memperkuat tata kelola organisasi, meningkatkan kompetensi anggota, serta memperluas kemitraan dengan dunia pendidikan dan industri.

Rakernas IX yang mempertemukan jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) IKABOGA dari berbagai wilayah Indonesia ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus evaluasi terhadap pelaksanaan program organisasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Berbagai laporan pertanggungjawaban dan perkembangan kegiatan dari masing-masing DPD menjadi bahan pembahasan untuk mengukur capaian program, mengidentifikasi tantangan, serta merumuskan langkah pengembangan organisasi ke depan.

Tidak berhenti pada evaluasi, forum ini juga membagi pembahasan ke dalam dua komisi utama, yakni Komisi A Bidang Organisasi serta Komisi B Bidang Program, Kompetensi, dan Kemitraan.

Dua Komisi, Satu Arah Penguatan Organisasi

Komisi A memusatkan pembahasan pada pembenahan dan penguatan fondasi organisasi. Sejumlah agenda yang dibahas meliputi evaluasi program kerja, konsolidasi DPP, DPD, dan DPC, pendataan serta pengembangan anggota, hingga penerapan AD/ART dan peraturan organisasi.

BACA JUGA :  Dari Dapur ke Negeri: IKABOGA Rayakan 38 Tahun Mengawal Gizi Bangsa

Komisi ini juga menyoroti pentingnya penguatan administrasi dan kesekretariatan, pengembangan kader, regenerasi kepemimpinan, serta koordinasi program kerja antara pengurus pusat dan daerah.

Dari pembahasan tersebut, arah rekomendasi Komisi A ditujukan untuk membangun sistem organisasi yang lebih tertib, terintegrasi, dan memiliki standar tata kelola yang seragam.

Penguatan basis data anggota menjadi salah satu aspek penting. Dengan sistem pendataan yang terintegrasi, organisasi diharapkan mampu memetakan potensi, kebutuhan, dan kapasitas anggota secara lebih akurat sehingga program pemberdayaan dapat berjalan lebih terarah.

Sementara itu, Komisi B membahas agenda yang berkaitan langsung dengan pengembangan profesi dan peningkatan daya saing anggota.

Pembahasannya mencakup evaluasi kegiatan dan pengembangan profesi, peningkatan serta pemberdayaan kompetensi, program pelatihan dan sertifikasi, kemitraan dengan dunia usaha dan industri, serta partisipasi IKABOGA dalam berbagai pameran dan kegiatan berskala nasional.

Komisi B juga diarahkan untuk menyusun rekomendasi program prioritas, rencana kerja sama strategis, serta kalender kegiatan dan promosi organisasi.

Dua komisi tersebut memperlihatkan bahwa penguatan IKABOGA tidak cukup hanya melalui pembenahan struktur kepengurusan. Organisasi juga dituntut mampu menghadirkan program konkret yang memberikan nilai tambah bagi anggota, terutama dalam menghadapi perkembangan industri makanan dan minuman yang semakin kompetitif.

Kompetensi Anggota Jadi Agenda Strategis

Mengusung tema Memperkuat Kolaborasi dengan Lembaga Pendidikan, Dunia Usaha, Industri, dan Mitra Strategis untuk Meningkatkan Kompetensi dan Pemberdayaan Anggota, Rakernas IX juga menghadirkan berbagai kegiatan pengembangan kapasitas.

BACA JUGA :  IKABOGA Indonesia Rayakan HUT ke-38: Pesta Kuliner, Literasi Boga di Grand Metropolitan Bekasi

Mulai dari Baking Class, Content Creator Class, Cooking Demo, Cooking Competition hingga fasilitasi sertifikasi kompetensi melalui Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa profesi di bidang boga kini membutuhkan kemampuan yang lebih luas. Keterampilan mengolah makanan harus berjalan beriringan dengan kemampuan mengembangkan produk, membangun identitas usaha, memasarkan produk secara digital, dan membaca peluang pasar.

Program Duplicate Dish by Rose Brand yang dilaksanakan pada 6 November turut menjadi ruang praktik bagi anggota untuk mengembangkan kreativitas dalam mengolah bahan pangan menjadi sajian inovatif yang berpotensi memiliki nilai ekonomi.

Selain itu, seminar dan business matching disiapkan untuk mempertemukan anggota dengan lembaga pendidikan, pelaku usaha, serta mitra industri. Melalui jejaring tersebut, anggota diharapkan memperoleh akses lebih luas terhadap perkembangan teknologi, inovasi produk, pemasaran, dan peluang kerja sama bisnis.

Pelaksanaan kegiatan yang beriringan dengan pameran industri makanan dan minuman KRISTA Interfood juga membuka kesempatan bagi anggota untuk mengenal perkembangan produk, teknologi, dan kebutuhan pasar secara langsung.

Konsolidasi Daerah dan Penguatan Kepengurusan

Rakernas IX juga menjadi ruang memperkuat hubungan kelembagaan antara pengurus pusat dan daerah. Laporan dari masing-masing DPD memberikan gambaran mengenai perkembangan organisasi, pelaksanaan program, serta dinamika pengembangan profesi boga di berbagai wilayah Indonesia.

BACA JUGA :  Menteri Tjahjo Kumolo Berpulang, Ini Karir Selama Hidupnya

Agenda pelantikan Dewan Pimpinan Daerah turut menjadi bagian dari rangkaian penguatan struktur organisasi dan perluasan peran IKABOGA di daerah.

Konsolidasi tersebut menjadi penting agar program organisasi tidak hanya berhenti sebagai keputusan di tingkat pusat, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kegiatan yang relevan dengan kebutuhan anggota di masing-masing daerah.

Ketua Umum IKABOGA Indonesia, Retno Murtriarti, A.Md.Par., S.E., menyampaikan bahwa Rakernas menjadi momentum untuk memperkuat soliditas pengurus sekaligus memastikan program organisasi memberikan manfaat nyata bagi anggota.

Melalui penyelesaian Rakernas IX, IKABOGA Indonesia dihadapkan pada agenda lanjutan yang tidak kalah penting, yakni menindaklanjuti berbagai rekomendasi komisi menjadi program kerja yang terukur dan dapat dilaksanakan.

Sebab, keberhasilan sebuah organisasi profesi bukan semata-mata diukur dari terselenggaranya rapat nasional atau lengkapnya struktur kepengurusan. Lebih dari itu, keberhasilan harus tercermin dari meningkatnya kompetensi anggota, berkembangnya usaha, terbukanya akses kemitraan, serta semakin kuatnya kontribusi profesi boga terhadap perekonomian masyarakat.

Rakernas IX pun menjadi titik konsolidasi untuk membawa IKABOGA Indonesia semakin adaptif, profesional, dan berdaya saing di tengah perkembangan industri kuliner nasional.***