Peserta mengikuti diskusi meja bundar bertema “The Role of Youth in Spreading a Culture of Peace” atau Peran Pemuda dalam Menyebarkan Budaya Perdamaian.
Diskusi mengangkat bagaimana keyakinan agama dan identitas etnis dapat dicegah agar tidak digunakan sebagai alasan untuk kekerasan dan konflik.
Materi tersebut dikaitkan dengan Artikel 8, 9 dan 10 dari Declaration of Peace and Cessation of War (DPCW) yang membahas prinsip pencegahan perang, penyelesaian konflik, perdamaian antaragama dan kelompok etnis, serta penyebaran budaya perdamaian.
Peserta juga mengikuti International Religious Peace Academy for Youth Leaders.
Dalam sesi ini, mereka mempelajari kitab suci dan ajaran dari sejumlah tradisi agama, antara lain Buddha, Konghucu, Kristen, Islam dan Hindu.
Tujuannya bukan sekadar mengetahui perbedaan, tetapi memperluas pemahaman terhadap keyakinan dan budaya lain.
Hari Ketiga: Tidak Cukup Belajar, Harus Bergerak
Tahap terakhir berlangsung pada 19 September dengan tema “Act”.
Setelah melihat sejarah dan belajar mengenai perbedaan, peserta didorong masuk ke tahap yang paling sulit: melakukan tindakan nyata.
Peserta berbagi pengalaman melalui studi kasus kegiatan regional dari Youth Engagement & Peacebuilding Working Group (YEPW).
Kelompok tersebut menjadi ruang bagi anak muda untuk merancang dan menjalankan kegiatan perdamaian mereka sendiri.
Dalam sesi tersebut, peserta membahas strategi pelaksanaan proyek YEPW di wilayah masing-masing, sekaligus mengembangkan rencana kegiatan untuk 2027 dan membagi peran setiap individu.
Jadi, perjalanan tiga hari itu tidak berhenti pada foto bersama, sertifikat atau pengalaman berkunjung ke tempat bersejarah.
Setidaknya konsep yang ditawarkan program ini ingin membawa peserta melalui tiga tahapan: melihat, memahami, lalu bertindak.
Dari Seoul untuk Dibawa Pulang
Sekretaris Jenderal HWPL Kang Tae-ho mengatakan para pemuda dari berbagai negara secara langsung melihat kebutuhan akan perdamaian di tanah yang pernah mengalami perang dan masih menghadapi sejarah pembagian.
“Perdamaian bukan warisan yang kita terima, tetapi warisan yang harus kita teruskan kepada generasi mendatang,” katanya.
Ia berharap peserta membawa pulang jawaban yang mereka temukan selama berada di Korea dan menerjemahkannya menjadi tindakan di negara masing-masing.
Harapan serupa disampaikan Sarah Vermaut, mahasiswa hukum di Free University of Brussels (VUB), Belgia.
“Saya hanya seorang mahasiswa. Mengapa mereka mau mendengarkan saya?” katanya.
Namun, ia kemudian menyadari bahwa pola pikir seperti itu justru dapat menghambat perubahan.
“Kalau kita berpikir seperti itu, kita tidak bisa mengubah apa pun,” ujarnya.
Sarah berencana membagikan pengalaman yang diperolehnya kepada teman-temannya dan membuat kegiatan yang dapat melibatkan anak muda lainnya.
Perdamaian Tidak Boleh Berhenti di Seoul
Tiga hari di Seoul pada akhirnya bukan hanya perjalanan dari satu tempat bersejarah ke tempat bersejarah lainnya.
War Memorial mengajarkan harga sebuah perang. Insadong memperlihatkan pentingnya memahami perbedaan. Gwanghwamun dan Gyeongbokgung mengajak peserta memikirkan warisan, tanggung jawab, perubahan dan harmoni.
Kemudian diskusi dan proyek YEPW membawa semuanya kembali ke persoalan yang lebih dekat: apa yang bisa dilakukan setelah pulang?
Di situlah tantangan sebenarnya dimulai.
Sebab perdamaian memang mudah diucapkan di sebuah forum internasional. Yang jauh lebih sulit adalah membawanya pulang ke lingkungan sendiri ke sekolah, kampus, organisasi, komunitas dan masyarakat.
Dan mungkin itulah pesan paling menarik dari program ini: perdamaian tidak cukup dipajang seperti artefak di museum. Ia harus dipraktikkan.***








