LAMPUNG TENGAH – Di bawah langit malam yang mulai diselimuti udara sejuk, dentuman kendang pertama terdengar memecah keheningan Kampung Sukajaya, Kecamatan Anak Ratu Aji, Kabupaten Lampung Tengah, Jumat (24/7/2026) malam. Tidak lama kemudian, suara gamelan menyusul mengalun pelan, seolah menjadi panggilan bagi warga untuk keluar dari rumah masing-masing.
Satu demi satu orang berdatangan. Ada yang berjalan kaki bersama keluarga, ada yang datang berboncengan sepeda motor, bahkan anak-anak tampak berlarian lebih dulu mencari posisi paling depan. Dalam hitungan menit, halaman rumah yang menjadi lokasi hajatan berubah menjadi lautan manusia.
Malam itu bukan sekadar pesta keluarga. Hajatan seorang warga menjelma menjadi pesta rakyat yang menyatukan seluruh lapisan masyarakat.
Di barisan depan, anak-anak duduk bersila dengan mata berbinar menunggu penampilan dimulai. Di belakang mereka, para remaja sibuk mengangkat telepon genggam untuk mengabadikan setiap momen. Sementara para orang tua menikmati suasana sambil sesekali berbincang dengan tetangga yang sudah lama tidak berjumpa.
Ketika kelompok kesenian kuda lumping memasuki arena, tepuk tangan langsung bergemuruh. Irama gamelan semakin cepat, kendang ditabuh semakin menghentak, sementara para penari bergerak lincah mengikuti setiap nada yang dimainkan.
Yang membuat pertunjukan malam itu terasa berbeda adalah sebagian besar penarinya merupakan anak-anak hingga remaja putri. Mengenakan kostum berwarna cerah dengan hiasan kepala yang mencolok serta membawa kuda anyaman bambu, mereka tampil percaya diri di hadapan ratusan pasang mata.
Gerakan demi gerakan dilakukan dengan kompak. Langkah kaki yang selaras, putaran tubuh yang lentur, hingga ekspresi para penari membuat penonton larut menikmati setiap adegan. Sesekali terdengar decak kagum ketika koreografi yang mereka tampilkan berjalan begitu rapi.
Tidak sedikit warga yang mengabadikan penampilan tersebut. Kilatan lampu kamera telepon genggam terus menyala dari berbagai sudut arena, seakan setiap momen layak disimpan sebagai kenangan.
Bagi sebagian warga, pertunjukan ini bukan hanya hiburan malam. Ada nilai budaya yang terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
Salah seorang penonton mengaku sengaja mengajak anaknya datang sejak awal acara. Baginya, mengenalkan kesenian tradisional kepada generasi muda sama pentingnya dengan memberikan pendidikan di sekolah.
“Ini acara puputan warga. Saya sengaja mengantar anak saya karena memang suka menonton kuda lumping. Yang tampil juga banyak anak-anak gadis, jadi semakin menarik untuk disaksikan,” tuturnya.
Di sela-sela pertunjukan, suasana kebersamaan begitu terasa. Orang-orang yang sehari-hari sibuk bekerja kembali saling menyapa. Anak-anak bermain tanpa mengenal sekat, sementara para orang tua berbincang hangat di bawah cahaya lampu sederhana yang menerangi arena.
Tak ada tiket masuk. Tak ada kursi VIP. Semua warga menikmati pertunjukan dengan posisi yang sama, duduk berbaur tanpa memandang status sosial.
Pemandangan seperti ini menjadi potret sederhana kehidupan masyarakat pedesaan yang masih menjadikan hajatan sebagai ruang berkumpul, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.
Di tengah derasnya arus hiburan digital dan media sosial, Kampung Sukajaya justru menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Kuda lumping bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi perekat hubungan sosial. Irama gamelan yang terus mengalun seolah mengajak semua orang kembali mengingat akar budaya yang selama ini membentuk kehidupan mereka.
Malam semakin larut. Namun tak seorang pun beranjak pulang. Anak-anak masih terpaku menyaksikan para penari, para remaja terus merekam setiap atraksi, sementara tepuk tangan kembali menggema setiap kali pertunjukan mencapai puncaknya.
Malam di Kampung Sukajaya akhirnya meninggalkan satu pesan yang sederhana namun kuat: kebudayaan akan tetap hidup selama masih ada masyarakat yang mencintainya.
Di balik dentuman kendang, alunan gamelan, dan tarian kuda lumping yang memukau, tersimpan semangat gotong royong, kebersamaan, serta warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Bagi warga Sukajaya, hajatan itu bukan sekadar syukuran keluarga. Ia telah menjadi ruang temu, ruang rindu, sekaligus panggung tempat tradisi kembali bernapas di tengah kehidupan masyarakat modern.***













