Taman Purbakala Pugung Sekampung Udik bukan sekadar destinasi wisata. Di balik benteng tanah, menhir, prasasti, dan keramik kuno yang tersebar di kawasan itu, tersimpan kisah panjang tentang lahirnya peradaban Lampung, runtuhnya sebuah keratuan, hingga datangnya Islam melalui jalur diplomasi dan perkawinan politik.
Oleh: Redaksi
Ketika Lampung Timur Menjadi Pusat Peradaban
Jika suatu pagi Anda melintasi hamparan hijau Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, sulit membayangkan bahwa di balik pepohonan dan kebun-kebun warga berdiri salah satu situs purbakala terpenting di Sumatra.
Namanya Taman Purbakala Pugung Raharjo.
Sekilas, tempat ini tampak tenang. Tidak seramai Borobudur atau Muaro Jambi. Namun bagi arkeolog, sejarawan, hingga pemangku adat Lampung, Pugung Raharjo merupakan “buku sejarah” yang ditulis oleh batu, tanah, dan sungai selama ribuan tahun.
Berbagai penelitian menyebut kawasan ini telah dihuni manusia sejak sekitar 2.500 tahun sebelum Masehi. Kesimpulan itu diperoleh dari penelitian gabungan Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) bersama Pennsylvania Museum, University of Pennsylvania, Amerika Serikat, yang menemukan beragam peninggalan megalitik, artefak klasik Hindu-Buddha, hingga tinggalan masa Islam.
Artinya, jauh sebelum Sriwijaya mencapai kejayaan, bahkan sebelum Kerajaan Majapahit lahir, masyarakat telah membangun kehidupan yang teratur di kawasan Pugung.
Negeri Batu yang Menyimpan Kisah Ribuan Tahun
Nama Pugung sendiri dipercaya berasal dari bahasa lokal yang berarti tempat yang tinggi.
Sementara kata Raharjo merupakan nama yang ditambahkan setelah program transmigrasi berlangsung. Dalam bahasa Jawa, raharjo berarti subur.
Dari sinilah lahir nama Pugung, sebuah perpaduan identitas tua dan baru.
Di kawasan ini ditemukan berbagai peninggalan yang berasal dari tiga periode besar sejarah Nusantara.
Periode Megalitik (±2500–1500 SM)
Pugung dipenuhi berbagai bangunan batu yang menjadi ciri masyarakat prasejarah.
Di antaranya:
- Menhir sebagai media penghormatan leluhur.
- Dolmen atau meja batu yang diduga menjadi tempat musyawarah maupun ritual.
- Kubur batu yang oleh masyarakat dikenal sebagai Batu Mayat.
- Punden berundak, bangunan bertingkat yang diyakini menjadi pusat pemujaan roh nenek moyang.
- Benteng tanah setinggi dua hingga tiga meter dengan parit sedalam lima meter sebagai sistem pertahanan.
Menurut teori arkeolog Robert von Heine-Geldern, pembawa tradisi megalitik ke Nusantara berasal dari rumpun Austronesia sekitar 2500–1500 SM.
Temuan di Pugung memperkuat bahwa kawasan Lampung telah menjadi bagian penting dari jalur migrasi manusia purba di Asia Tenggara.
Ketika Buddha Pernah Bersemi di Pugung
Memasuki periode klasik, wajah Pugung berubah.
Di situs ini ditemukan sebuah arca batu andesit yang oleh masyarakat disebut Putri Badriah.
Namun para arkeolog menduga arca tersebut merupakan figur Bodhisattwa, menandakan kuatnya pengaruh agama Buddha di kawasan itu.
Selain itu ditemukan pula:
- Keramik Dinasti Sung (abad X)
- Berbagai fragmen benda impor dari Tiongkok
Temuan tersebut membuktikan bahwa masyarakat Pugung telah terhubung dengan jalur perdagangan internasional jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Nusantara.
Prasasti Dalung dan Awal Islam di Lampung
Memasuki abad XVI–XVII, jejak baru mulai muncul.
Para peneliti menemukan:
- Keramik Dinasti Ming
- Prasasti Dalung
Prasasti yang ditulis menggunakan huruf Arab Pegon dan bahasa Banten itu bertahun 1100 Hijriah.
Isinya memuat kesepakatan perdagangan dan pelayaran antara Kesultanan Banten dengan wilayah Lampung.
Prasasti inilah yang menjadi salah satu bukti penting hubungan politik dan ekonomi Lampung dengan Kesultanan Banten.
Keratuan Pugung, Negeri yang Hilang
Menurut naskah silsilah keturunan Ratu Darah Putih serta tradisi lisan masyarakat Melinting, kawasan ini dahulu merupakan pusat pemerintahan Keratuan Pugung.
Penguasanya dikenal sebagai Ratu Galuh.












