Mangapul juga menyinggung adanya dugaan intervensi dalam penegakan hukum. Ia memberi contoh persoalan yang menurutnya berseberangan dengan temuan Ombudsman, meski ia tidak merinci perkara yang dimaksud dalam orasinya.
Karena itu, ia menyerukan agar pemerintah memperkuat penegakan hukum.
“Pemerintah harus membuat hukum itu jangan tumpul ke atas tapi tajam ke bawah,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan kritik bernuansa moral terhadap praktik penegakan hukum yang menurutnya tidak sesuai dengan nilai keagamaan.
“Jangan membawa nama Tuhan, tetapi hukum bobrok,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam orasi tersebut.
Bagi Mangapul, menyebut nilai ketuhanan tidak cukup apabila praktik hukum justru kehilangan kejujuran, kebersihan dan keadilan.
PKN: Indonesia Harus Berubah
Memasuki tahun kelima, PKN menyatakan akan terus menyuarakan persoalan hukum yang dianggap merugikan masyarakat.
Mangapul menegaskan organisasi yang dipimpinnya akan tetap menyampaikan kritik meski menghadapi tekanan.
“PKN akan terus menyuarakan kebenaran meskipun langit akan runtuh,” ujarnya.
Kalimat tersebut menjadi penutup pesan utama dalam peringatan HUT ke-5 LKBH dan DPP PKN.
Acara kemudian berlangsung dalam suasana sederhana dan khidmat dengan orasi singkat Ketua Umum DPP PKN, serta dihadiri pengurus, pembina, klien LKBH PKN, relawan, anggota PKN dan unsur masyarakat setempat.
Lima tahun bukan usia yang terlalu panjang untuk sebuah organisasi. Namun, bagi PKN, angka tersebut menjadi momentum untuk mengukur kembali keberadaannya: apakah organisasi hanya bertambah umur, atau juga bertambah manfaat.
Di tengah kritik terhadap penegakan hukum yang masih kerap terdengar, pesan PKN pada ulang tahunnya kali ini dibuat cukup sederhana bahwa hukum harus berdaulat, bantuan hukum harus menjangkau masyarakat, dan nilai agama jangan berhenti sebagai hiasan dalam pidato.
Pasalnya kalau hukum sudah punya aturan tetapi kehilangan kejujuran, yang tersisa bukan keadilan melainkan sekadar administrasi yang kebetulan memakai toga.***













