Scroll untuk baca artikel
BudayaWisata

Jejak Keratuan Pugung: Dari Peradaban 2.500 SM, Lahirnya Melinting hingga Islamisasi Lampung

×

Jejak Keratuan Pugung: Dari Peradaban 2.500 SM, Lahirnya Melinting hingga Islamisasi Lampung

Sebarkan artikel ini
Foto: Taman Purbakala Pugung Raharjo berdiri tenang di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, (foto_dok)

Wilayah kekuasaan Keratuan Melinting membentang dari Way Sekampung hingga sejumlah kawasan yang kini berada di Kabupaten Lampung Timur.

Makam tokoh-tokoh seperti Minak Kejala Bidin, Pangeran Tutur Jimat, hingga Setenggul Ulung masih dapat dijumpai di kawasan Asahan dan Dusun Keramat, Negeri Agung.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Keberadaan makam-makam tersebut menjadi bagian penting dari memori kolektif masyarakat Melinting.

Warisan yang Bertahan Hingga Kini

Pada masa kolonial Belanda, Keratuan Melinting berkembang menjadi Marga Melinting.

BACA JUGA :  Ground Breaking KDKMP di Girikarto: TNI, BUMN, dan Pemkab Kompak Dorong Ekonomi Desa

Dalam sebuah kesepakatan dengan pemerintah kolonial disebutkan terdapat lima hal yang tidak boleh diubah:

  1. Bahasa Lampung.
  2. Adat Lampung.
  3. Surat Lampung.
  4. Wilayah adat.
  5. Agama Islam.

Kesepakatan itu menjadi fondasi penting dalam menjaga identitas masyarakat Melinting hingga masa modern.

Silsilah kepemimpinan kemudian berlanjut hingga Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV, yang meneruskan garis keturunan Keratuan Melinting.

Pugung Hari Ini: Situs yang Masih Menyimpan Misteri

Meski telah banyak penelitian dilakukan, satu pertanyaan besar belum terjawab:

BACA JUGA :  KH Muhayat Sampaikan Pesan Kebajikan di Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Mengapa Keratuan Pugung ditinggalkan?

Hingga kini belum ditemukan bukti arkeologis yang mampu menjelaskan secara pasti penyebab perpindahan penduduk dari Pugung menuju Serikulo, Asahan, Melinting, dan Kalianda.

Apakah karena peperangan, bencana alam, perubahan jalur perdagangan, atau faktor politik?

Pertanyaan itu masih menunggu jawaban dari penelitian-penelitian berikutnya.

Yang pasti, Taman Purbakala Pugung Raharjo bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah saksi bisu perjalanan panjang peradaban Lampung dari masyarakat megalitik, masa Hindu-Buddha, kedatangan Islam melalui Kesultanan Banten, hingga lahirnya Keratuan Melinting dan Keratuan Darah Putih.

BACA JUGA :  Desa Wana, Tiyuh Tradisi Budaya Melinting di Tenggara Lampung

Di balik setiap menhir, benteng tanah, pecahan keramik, dan makam para leluhur, tersimpan kisah tentang identitas masyarakat Lampung yang terbentuk selama ribuan tahun. Memahami Pugung bukan hanya membaca masa lalu, tetapi juga merawat akar peradaban yang masih hidup dalam adat, budaya, dan ingatan kolektif masyarakat hingga hari ini.***