Disebutkan pula bahwa setelah pembagian wilayah oleh Ratu Empat Sekala Brak, Ratu Galuh berpindah ke Pugung dan mendirikan keratuan baru.
Letaknya diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Taman Purbakala Pugung Raharjo, diapit Desa Gunung Sugih Besar dan Desa Bojong.
Meski demikian, hingga kini para arkeolog belum menemukan bukti tertulis yang dapat memastikan kapan Keratuan Pugung berdiri maupun kapan berakhir.
Perpindahan ke Serikulo
Tradisi lisan menyebut salah satu keturunan Ratu Pugung adalah Minak Sang Bare Masakti, yang kemudian menurunkan Temenggung Kalelatun.
Pada masa Temenggung Kalelatun terjadi perpindahan besar dari Pugung menuju Serikulo, kawasan yang kini berada di Desa Negara Saka, Kecamatan Jabung.
Menariknya, di lokasi tersebut kembali ditemukan benteng tanah yang bentuknya hampir sama dengan benteng di Pugung.
Di sekitar Way Sekampung juga ditemukan pecahan keramik kuno yang memiliki karakter serupa dengan temuan di Pugung Raharjo.
Temuan-temuan itu memperkuat dugaan bahwa Serikulo merupakan kelanjutan dari pusat permukiman Keratuan Pugung.
Datangnya Kesultanan Banten
Memasuki pertengahan abad XVI, sejarah Lampung mulai bersinggungan dengan sejarah Kesultanan Banten.
Berbagai sumber seperti karya Hoesein Djajadiningrat, Halwany Michrob, Tubagus Haji Achmad, hingga tradisi lisan Melinting menyebut penyebaran Islam ke Lampung tidak dilakukan melalui penaklukan militer semata.
Melainkan melalui hubungan diplomatik, perdagangan, dan perkawinan.
Tokoh sentralnya adalah Sultan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).
Hasanuddin menjadi Sultan pertama Banten pada 1552–1570.
Dalam tradisi Melinting diceritakan, Sultan Hasanuddin datang ke Lampung setelah mendengar kecantikan dua putri Keratuan Pugung, yakni Puteri Kandang Rarang dan Puteri Sinar Alam.
Keduanya kemudian dinikahi.
Dari sinilah sejarah Lampung memasuki babak baru.
Lahirnya Dua Keratuan Besar
Perkawinan politik tersebut melahirkan dua tokoh penting.
Dari Puteri Kandang Rarang lahir Minak Kejala Ratu, yang kelak mendirikan Keratuan Darah Putih di Kalianda.












