Scroll untuk baca artikel
BudayaWisata

Jejak Keratuan Pugung: Dari Peradaban 2.500 SM, Lahirnya Melinting hingga Islamisasi Lampung

×

Jejak Keratuan Pugung: Dari Peradaban 2.500 SM, Lahirnya Melinting hingga Islamisasi Lampung

Sebarkan artikel ini
Foto: Taman Purbakala Pugung Raharjo berdiri tenang di Kecamatan Sekampung Udik, Lampung Timur, (foto_dok)

Disebutkan pula bahwa setelah pembagian wilayah oleh Ratu Empat Sekala Brak, Ratu Galuh berpindah ke Pugung dan mendirikan keratuan baru.

Letaknya diyakini berada di kawasan yang kini menjadi Taman Purbakala Pugung Raharjo, diapit Desa Gunung Sugih Besar dan Desa Bojong.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Meski demikian, hingga kini para arkeolog belum menemukan bukti tertulis yang dapat memastikan kapan Keratuan Pugung berdiri maupun kapan berakhir.

BACA JUGA :  Petikan Gitar Tunggal Joko Swarno Menggema di Harlah NU

Perpindahan ke Serikulo

Tradisi lisan menyebut salah satu keturunan Ratu Pugung adalah Minak Sang Bare Masakti, yang kemudian menurunkan Temenggung Kalelatun.

Pada masa Temenggung Kalelatun terjadi perpindahan besar dari Pugung menuju Serikulo, kawasan yang kini berada di Desa Negara Saka, Kecamatan Jabung.

Menariknya, di lokasi tersebut kembali ditemukan benteng tanah yang bentuknya hampir sama dengan benteng di Pugung.

Di sekitar Way Sekampung juga ditemukan pecahan keramik kuno yang memiliki karakter serupa dengan temuan di Pugung Raharjo.

BACA JUGA :  Tega, IRT di Tanggamus Buang Bayi yang Baru Dilahirkan

Temuan-temuan itu memperkuat dugaan bahwa Serikulo merupakan kelanjutan dari pusat permukiman Keratuan Pugung.

Datangnya Kesultanan Banten

Memasuki pertengahan abad XVI, sejarah Lampung mulai bersinggungan dengan sejarah Kesultanan Banten.

Berbagai sumber seperti karya Hoesein Djajadiningrat, Halwany Michrob, Tubagus Haji Achmad, hingga tradisi lisan Melinting menyebut penyebaran Islam ke Lampung tidak dilakukan melalui penaklukan militer semata.

Melainkan melalui hubungan diplomatik, perdagangan, dan perkawinan.

Tokoh sentralnya adalah Sultan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati).

BACA JUGA :  Ciremai Fest 2024, Ajang Maraton Menyusuri Spot TGGC Melalui Jabar Ultra Trail Run 

Hasanuddin menjadi Sultan pertama Banten pada 1552–1570.

Dalam tradisi Melinting diceritakan, Sultan Hasanuddin datang ke Lampung setelah mendengar kecantikan dua putri Keratuan Pugung, yakni Puteri Kandang Rarang dan Puteri Sinar Alam.

Keduanya kemudian dinikahi.

Dari sinilah sejarah Lampung memasuki babak baru.

Lahirnya Dua Keratuan Besar

Perkawinan politik tersebut melahirkan dua tokoh penting.

Dari Puteri Kandang Rarang lahir Minak Kejala Ratu, yang kelak mendirikan Keratuan Darah Putih di Kalianda.