Sedangkan dari Puteri Sinar Alam lahir Minak Kejala Bidin, cikal bakal Keratuan Melinting.
Tradisi adat menyebut setelah peristiwa itu Keratuan Pugung perlahan menghilang.
Kekuasaan kemudian berpindah kepada keturunan baru yang menjadi penghubung antara tradisi Lampung dan Kesultanan Banten.
Bandar Asahan, Bajak Laut, dan Keris Pusaka
Perjalanan sejarah belum berhenti.
Minak Kejala Bidin bersama Minak Kejala Ratu sempat membangun permukiman di Pakuan Ratu Asahan sebelum akhirnya berpisah.
Minak Kejala Ratu menuju Kalianda.
Minak Kejala Bidin menetap di wilayah yang kelak dikenal sebagai Melinting.
Dalam tradisi silsilah disebutkan Sultan Hasanuddin memberikan tiga keris pusaka kepada Minak Kejala Bidin:
- Kelambi Sani
- Atu Lawet
- Cambai Secandik
Ia juga memberikan sebuah peti berisi bala bantuan dengan pesan agar tidak dibuka sebelum tiba di Lampung.
Ketika kawasan pesisir Lampung diserang bajak laut dari timur, Kesultanan Banten mengirim seorang tokoh dari Cirebon bernama Patunggu Batang, yang kemudian dikenal sebagai Datuk Syah Bandar.
Tokoh inilah yang dipercaya mengelola Bandar Asahan, salah satu pelabuhan penting di pesisir Way Sekampung.
Lahirnya Keratuan Melinting
Perkembangan berikutnya melahirkan Keratuan Melinting.
Istilah Melinting diyakini berasal dari kata meninting, yang berarti membawa.
Menurut tradisi setempat, maknanya adalah membawa misi penyebaran Islam.












