KANKER prostat bisa datang tanpa banyak suara. Tidak selalu ada rasa sakit, tidak selalu langsung membuat tubuh drop, bahkan pada tahap awal penyakit ini dapat berjalan nyaris tanpa gejala. Ketika keluhan mulai terasa, persoalannya bisa saja sudah lebih serius.
Data American Cancer Society (ACS) memperkirakan terdapat 313.780 kasus baru kanker prostat di Amerika Serikat pada 2025, dengan sekitar 35.770 kematian akibat penyakit tersebut.
Kanker prostat terjadi pada kelenjar prostat, organ kecil pada sistem reproduksi pria yang kira-kira seukuran kacang kenari dan berperan menghasilkan cairan yang membantu memberi nutrisi serta melindungi sperma.
Yang membuat penyakit ini patut diwaspadai bukan hanya jumlah kasusnya, tetapi juga sifatnya yang bisa “diam-diam bekerja”.
Kanker prostat tidak selalu mengetuk pintu dengan keras. Kadang ia datang seperti tamu tak diundang yang bahkan tidak membunyikan bel.
Karena itu, pemeriksaan dan konsultasi medis menjadi penting, terutama bagi pria yang memasuki usia lebih tua atau memiliki faktor risiko tertentu.
Jangan Tunggu Kencing Jadi Drama
Salah satu persoalan kanker prostat adalah gejalanya tidak khas.
Direktur Urologi dan Transplantasi Ginjal Rumah Sakit CK Birla, Jaipur, India, Devendra Kumar Sharma, mengatakan gejala kanker prostat dapat menyerupai gangguan saluran kemih lainnya.
Perubahan pola buang air kecil dapat menjadi salah satu tanda yang perlu diperhatikan, antara lain:
- frekuensi buang air kecil meningkat;
- muncul dorongan kuat atau mendesak untuk buang air kecil;
- aliran urine melemah;
- aliran urine tersendat atau terputus-putus;
- kesulitan memulai buang air kecil;
- merasa kandung kemih belum benar-benar kosong;
- lebih sering buang air kecil pada malam hari.
Gejala seperti itu memang tidak otomatis berarti kanker prostat. Pembesaran prostat jinak atau peradangan prostat juga dapat menimbulkan keluhan serupa.
Namun justru di situlah masalahnya.
Banyak pria mungkin menganggap perubahan pola kencing sebagai “ya namanya juga umur”.
Padahal, tubuh tidak pernah mengirimkan surat resmi yang berbunyi: “Pak, ini cuma faktor usia.”
Setiap perubahan yang menetap atau mengganggu sebaiknya diperiksakan kepada tenaga kesehatan.
Ada Darah? Jangan Anggap Sepele
Selain perubahan saat buang air kecil, tanda lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah darah dalam urine atau air mani.
Nyeri di punggung bagian bawah atau tulang serta penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan juga dapat muncul pada sebagian kasus, terutama ketika penyakit sudah lebih lanjut.
Arun Kumar Balakrishnan, direktur pelaksana sekaligus kepala ahli urologi, ahli bedah robotik dan ahli uro-onkologi di Asian Institute of Nephrology and Urology (AINU), Chennai, mengatakan gejala-gejala tersebut tidak boleh diabaikan meskipun bisa juga disebabkan oleh kondisi non-kanker.
Prinsipnya sederhana:
gejala bukan diagnosis.
Artinya, seseorang yang mengalami sulit buang air kecil belum tentu terkena kanker prostat. Sebaliknya, tidak mengalami keluhan juga bukan jaminan seseorang pasti bebas dari kanker.
Itulah mengapa evaluasi medis diperlukan.
PSA: Tes Darah Sederhana, Tapi Bukan Alat Ramal
Salah satu pemeriksaan yang digunakan dalam deteksi dini kanker prostat adalah prostate-specific antigen (PSA).
PSA merupakan protein yang diproduksi oleh sel prostat dan dapat diukur melalui tes darah. Kadar PSA yang meningkat dapat berkaitan dengan kanker prostat, tetapi juga dapat meningkat akibat kondisi lain seperti pembesaran prostat jinak dan prostatitis. Karena itu, hasil PSA tinggi tidak otomatis berarti kanker.
Dengan kata lain, PSA bukan bola kristal yang sekali melihat langsung bisa berkata, “Ini kanker.”
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan nilai yang mencurigakan, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebabnya.
American Cancer Society menekankan bahwa keputusan melakukan skrining kanker prostat sebaiknya dilakukan melalui diskusi dan pengambilan keputusan bersama dokter, dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kondisi dan faktor risiko masing-masing pria.
Usia 50 Tahun, Saatnya Mulai Bertanya kepada Dokter
Tidak tepat jika semua pria usia di atas 50 tahun otomatis harus menjalani PSA setiap tahun tanpa konsultasi.
ACS merekomendasikan pembahasan mengenai skrining dimulai sekitar usia 50 tahun bagi pria dengan risiko rata-rata yang diperkirakan memiliki harapan hidup setidaknya 10 tahun.
Untuk pria dengan risiko lebih tinggi, pembahasan dapat dimulai lebih awal: sekitar 45 tahun bagi kelompok berisiko tinggi dan sekitar 40 tahun bagi pria dengan risiko yang sangat tinggi, misalnya memiliki lebih dari satu kerabat tingkat pertama yang didiagnosis kanker prostat pada usia muda.
Sementara itu, pedoman USPSTF menyatakan keputusan skrining PSA untuk pria usia 55–69 tahun perlu dibuat secara individual setelah membahas manfaat dan potensi kerugiannya bersama tenaga kesehatan. USPSTF tidak merekomendasikan skrining PSA secara rutin untuk pria berusia 70 tahun ke atas.
Perbedaan rekomendasi tersebut menunjukkan satu hal penting:
skrining bukan perlombaan siapa paling cepat mengambil darah, tetapi keputusan medis yang perlu disesuaikan dengan risiko masing-masing orang.
Kenapa Deteksi Dini Begitu Penting?
Kanker prostat yang ditemukan ketika masih terbatas di prostat memiliki pilihan penanganan yang berbeda dibandingkan penyakit yang sudah menyebar.
Deteksi dini bertujuan menemukan kanker ketika masih berada pada tahap yang lebih memungkinkan untuk ditangani. Namun skrining juga memiliki konsekuensi, termasuk kemungkinan hasil positif palsu, pemeriksaan lanjutan, biopsi, overdiagnosis, hingga overtreatment. Karena itu, keputusan skrining memang perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya.
Inilah alasan mengapa pemeriksaan rutin tidak boleh dipahami sebagai “tes kanker” semata.
Pemeriksaan adalah pintu masuk untuk mengetahui kondisi kesehatan lebih awal.
Pria Sering Terlambat Karena Merasa Baik-Baik Saja
Masalah kanker prostat adalah seseorang dapat merasa sehat sementara penyakit belum tentu memberikan tanda yang jelas.
Karena itu, jangan menunggu sampai buang air kecil berubah menjadi perjuangan tengah malam, aliran urine seperti keran mampet, atau tubuh mengalami penurunan berat badan tanpa sebab.
Jika sudah muncul keluhan baru atau memburuk, jangan menebak-nebak sendiri penyebabnya.
Periksakan.
Dan bagi pria yang memasuki usia risiko, terutama yang memiliki riwayat keluarga kanker prostat atau faktor risiko lainnya, bicarakan dengan dokter apakah pemeriksaan PSA sesuai untuk kondisi mereka.
Sebab dalam urusan kanker prostat, satu prinsip yang layak diingat:
lebih baik repot bertanya kepada dokter hari ini daripada sibuk mencari jawaban ketika penyakit sudah terlanjur berkembang.
Yang perlu diingat, PSA bukan vonis kanker dan tidak semua gangguan kencing adalah kanker prostat. Tetapi perubahan yang menetap juga bukan sesuatu yang layak dianggap sekadar “efek umur”.
Tubuh boleh menua.
Kewaspadaan jangan ikut pensiun.***












