JAKARTA — Kapal ekspedisi J7 Explorer milik Jhonlin Marine Transport, perusahaan milik pengusaha asal Kalimantan Selatan Andi Samsudin Arsyad alias Haji Isam, menjadi sorotan setelah logo resmi Kementerian Pertahanan (Kemhan) terlihat di lambung kapal.
Kemhan akhirnya buka suara. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan Brigjen Rico Ricardo Sirait menjelaskan, kapal swasta tersebut dikerahkan untuk mendukung operasi dan logistik program strategis nasional, khususnya percepatan ketahanan pangan.
“Pemanfaatannya diarahkan penuh untuk menyokong kerja besar negara dalam mewujudkan swasembada pangan,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/8).
Menurut Rico, logo Kemhan pada kapal tersebut menjadi penanda bahwa aktivitas operasional armada berada di bawah otoritas dan penugasan pemerintah. J7 Explorer digunakan untuk mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan di sejumlah wilayah, termasuk Wanam, Papua Selatan, serta wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Haji Isam membenarkan J7 Explorer merupakan miliknya. Kapal berbobot 8.076 GT itu dibangun di Batam dan selesai pada 2022.
Kapal tersebut kemudian diubah menjadi floating base camp atau pangkalan bergerak untuk mendukung proyek pencetakan sawah skala besar di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Menurut Haji Isam, keberadaan kapal menjadi penting karena kondisi geografis Papua Selatan relatif terisolasi dan minim infrastruktur darat. J7 Explorer difungsikan sebagai pusat koordinasi, tempat tinggal sementara tenaga ahli sekaligus titik tumpu logistik proyek.
Dengan model tersebut, kapal bukan hanya mengangkut kebutuhan proyek, tetapi menjadi semacam “kantor berjalan” di tengah lokasi pekerjaan.
Haji Isam menyebut skala proyek pencetakan sawah di Merauke cukup besar. Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China, sementara tenaga ahli dari China, Jepang dan Eropa turut dilibatkan.
Mobilisasi sebesar itu membutuhkan dukungan logistik yang tidak sedikit, mulai dari bahan bakar, suku cadang, makanan, tempat tinggal hingga kebutuhan operasional alat berat.
Karena akses darat terbatas, J7 Explorer menjadi salah satu fasilitas pendukung untuk memastikan rantai logistik tetap berjalan.
Haji Isam mengatakan keterlibatannya dalam proyek tersebut bukan semata-mata persoalan untung-rugi bisnis, melainkan bagian dari keterlibatan swasta dalam agenda prioritas pemerintah di bidang ketahanan pangan.
Ia berharap proyek pencetakan sawah di Merauke mampu memperkuat stok pangan nasional sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat Papua.
Namun, penggunaan kapal swasta dengan identitas resmi Kemhan tetap menarik perhatian publik. Penjelasan mengenai status penugasan, mekanisme penggunaan kapal, pembiayaan operasional dan pertanggungjawabannya menjadi penting agar tidak menimbulkan persepsi keliru.***













