Ulama, petani dan berbagai unsur masyarakat terlibat dalam perlawanan terhadap pemerintahan kolonial Belanda.
Tetapi sekali lagi, tidak adil kepada sejarah jika Geger Cilegon hanya dijelaskan sebagai “pemberontakan akibat letusan Krakatau”.
Bukan itu persoalannya.
Kajian sejarah sosial menunjukkan bahwa pemberontakan tersebut lahir dari pertemuan berbagai faktor: tekanan ekonomi, persoalan sosial, kebijakan kolonial, konflik politik, keresahan masyarakat dan dinamika keagamaan.
Akar pergolakannya bahkan telah tumbuh jauh sebelum 1883.
Dengan demikian, Krakatau bukanlah korek api yang sendirian menyalakan pemberontakan.
Krakatau lebih tepat dilihat sebagai pukulan besar terhadap masyarakat yang sebelumnya memang telah menyimpan ketegangan.
Bencana memperdalam luka.
Luka melahirkan keresahan.
Keresahan mencari penjelasan.
Penjelasan melahirkan kesadaran.
Kesadaran bertemu jaringan sosial.
Dan dalam kondisi politik tertentu, jaringan sosial dapat berubah menjadi kekuatan perlawanan.
Gunung Berhenti Menggelegar, Tetapi Sejarah Tidak
Di sinilah saya melihat sisi paling menarik dari sejarah Krakatau.
Gunung itu meletus pada 1883.
Tetapi dampaknya tidak berhenti pada 1883.
Gelombang tsunami surut.
Abu perlahan mengendap.
Mayat-mayat dikuburkan.
Permukiman dibangun kembali.
Tetapi trauma tetap hidup.
Kemiskinan meninggalkan persoalan.
Kehilangan mata pencaharian menciptakan ketegangan.
Penafsiran keagamaan membentuk cara masyarakat memahami bencana.
Jaringan ulama dan pesantren memperkuat solidaritas.
Dan dalam lanskap sosial yang sudah penuh ketegangan, semua itu menjadi bagian dari proses panjang menuju pergolakan.
Itulah yang sering dilupakan ketika bencana hanya dibaca sebagai angka korban dan tinggi gelombang.
Bencana selalu memiliki kehidupan kedua.
Kehidupan kedua itu berlangsung di dalam ingatan manusia, struktur sosial, ekonomi, politik dan kebudayaan.
Gunung meletus secara alamiah.
Tetapi manusia kemudian memberikan makna terhadap letusan itu.
Dan makna tersebut dapat memengaruhi tindakan manusia bertahun-tahun setelah lava mendingin.
Debu Krakatau di Sentul
Pagi ini saya kembali melihat meja yang dibersihkan petugas.
Debu itu mungkin tampak sederhana.
Hanya lapisan tipis yang menempel di meja.
Tetapi debu tersebut mengingatkan saya bahwa sebuah peristiwa alam selalu mempunyai radius sosial yang lebih luas daripada radius geografisnya.
Krakatau hari ini mungkin tidak sedang mengulang 1883.
Dan kita tidak boleh menakut-nakuti masyarakat dengan membangun perbandingan yang tidak proporsional.
Namun sejarah memberikan pelajaran penting:
Bencana bukan hanya soal apa yang jatuh dari langit atau apa yang keluar dari kawah. Bencana juga tentang apa yang terjadi setelah manusia kehilangan rasa aman.
Karena itu, menghadapi erupsi bukan sekadar membagikan masker, menutup makanan, memantau abu dan menghindari kawasan bahaya.
Pemerintah juga harus membaca dampak sosialnya.
Masyarakat harus mendapatkan informasi yang benar.
Kelompok rentan harus dilindungi.
Mata pencaharian harus diperhatikan.
Dan yang tidak kalah penting, jangan sampai ruang kosong akibat ketakutan dan ketidakpastian diisi oleh kabar bohong, spekulasi, atau tafsir yang sengaja dipakai untuk memperkeruh keadaan.
Sebab sejarah Krakatau menunjukkan satu hal yang sangat penting:
Bencana alam dapat selesai lebih cepat daripada krisis sosial yang ditinggalkannya.
Dan ketika krisis sosial bertemu ketidakadilan, ketidakpercayaan kepada kekuasaan, serta jaringan solidaritas yang kuat, sejarah bisa bergerak ke arah yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.
Krakatau pernah berhenti menggelegar.
Tetapi masyarakat terus bergerak.
Gunungnya diam. Gema sejarahnya tidak.
Jakarta, ARS
Abdul Rohman Sukardi
Esais & Penulis Independen
Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.***










