Scroll untuk baca artikel
LAMPUNG

Bukan Cucu Krakatau! Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Selat Sunda, Pakar Bongkar Asal-usulnya

×

Bukan Cucu Krakatau! Daratan Baru 32,8 Hektare Muncul di Selat Sunda, Pakar Bongkar Asal-usulnya

Sebarkan artikel ini
Daratan baru di Gunung Anak Krakatau (Foto: Dok. Istimewa)

LAMPUNG SELATAN — Gunung Anak Krakatau kembali membuat geger Selat Sunda. Bukan hanya soal erupsi, kali ini daratan baru muncul di sekitar tubuh gunung api tersebut.

Daratan yang terpantau melalui citra satelit Sentinel itu bahkan disebut-sebut di media sosial sebagai “cucu Krakatau”.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Namanya memang terdengar seperti bab baru dalam silsilah keluarga Krakatau.

Tapi secara geologi, ceritanya ternyata tidak sesederhana itu.

Pakar kebencanaan sekaligus anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono Perwira Sakti, menegaskan daratan baru tersebut belum dapat disebut sebagai gunung api baru, apalagi gunung api independen.

Daratan itu lebih tepat dipahami sebagai akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut dan kemudian menyembul ke permukaan.

“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” kata Daryono melalui akun X resminya, Kamis (24/9/2026).

Dengan kata lain, sebelum publik terburu-buru membuat kartu keluarga baru untuk Krakatau, ada penjelasan geologis yang jauh lebih masuk akal.

Muncul Setelah Erupsi 25 Jam

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya mengungkap adanya penambahan daratan di sekitar Gunung Anak Krakatau berdasarkan analisis citra satelit Sentinel.

BACA JUGA :  Gunung Anak Krakatau Erupsi, Abu Vulkanik Guyur Pematang Sawa Tanggamus

Setidaknya dua daratan baru teridentifikasi di sekitar kawasan tersebut, masing-masing berada di sektor barat laut dan tenggara Gunung Anak Krakatau.

Badan Geologi menduga kemunculan daratan tersebut berkaitan dengan aktivitas erupsi menerus yang berlangsung sekitar 25 jam, sejak 4 September hingga 6 September 2026.

“Erupsi menerus selama sekitar 25 jam,” kata Kepala PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM, SS Rita Susilawati, dalam keterangan yang dikutip pada Kamis (24/9/2026).

Badan Geologi kemudian mengidentifikasi penambahan daratan seluas sekitar 32,8 hektare di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung.

Angka itu bukan ukuran kecil.

Sebagai gambaran, luas 32,8 hektare setara sekitar 328.000 meter persegi. Luasan tersebut bahkan mendekati luas kompleks Candi Prambanan yang disebut sekitar 39,8 hektare.

Namun, luas bukan berarti otomatis statusnya berubah menjadi gunung api baru.

Gunung baru tidak lahir hanya karena ada tanah baru.

Daryono menjelaskan, terbentuknya daratan baru di antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung dipengaruhi kombinasi proses vulkanik, geologi dan oseanografi.

BACA JUGA :  Lagi, Pantai Mutiara Baru di Lamtim Tercemar Limbah Hitam

Kawasan tersebut merupakan bagian dari lingkungan kaldera purba yang berkaitan dengan letusan besar Krakatau 1883. Kondisi dasar laut yang relatif dangkal memungkinkan material hasil erupsi lebih cepat menumpuk secara vertikal.

Material yang dilontarkan saat erupsi kemudian jatuh dan mengendap.

Lontaran piroklastik, batuan, abu serta aliran lava menjadi bahan utama pembentuk endapan tersebut.

Dalam kasus Anak Krakatau, material itu bukan hanya dilemparkan ke udara.

Sebagian mengalir dan bergerak menuju sektor tertentu, termasuk arah barat laut hingga barat-barat daya.

Badan Geologi mencatat erupsi menerus 4–6 September menghasilkan aliran lava menuju sektor tersebut.

Lalu laut melakukan pekerjaan berikutnya.

Arus dan gelombang mengangkut material yang lebih ringan. Material tersebut kemudian dapat terkonsentrasi dan mengendap di lokasi yang relatif lebih tenang.

Sedikit demi sedikit.

Lapisan demi lapisan.

Sampai akhirnya endapan yang sebelumnya berada di bawah permukaan air muncul sebagai daratan.

Jadi, ini lebih mirip gunung api sedang “membangun halaman rumah” dari material erupsinya sendiri, bukan tiba-tiba melahirkan gunung baru.

Bisa Membesar, Bisa Hilang Lagi

Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: apakah daratan baru itu akan bertahan?

Jawabannya belum tentu.

Daryono menjelaskan masa depan daratan tersebut sangat bergantung pada pertarungan dua kekuatan: pasokan material vulkanik versus erosi laut.

BACA JUGA :  Kades Nibung Sangkal Warganya Lakukan Pelemparan Batu ke Mobil Polisi

Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami aktivitas erupsi dan memasok material baru, daratan tersebut berpotensi bertambah luas.

Apalagi jika materialnya mendapatkan tambahan lapisan lava yang kemudian membeku menjadi batuan keras.

Namun, jika aktivitas erupsi berhenti, ceritanya bisa berbalik.

Gelombang laut dan abrasi dapat mengikis material yang masih lepas dan belum terkonsolidasi.

Daratan yang hari ini terlihat kokoh dari citra satelit bisa saja menyusut atau bahkan kembali tenggelam.

Risiko lainnya adalah longsoran bawah laut maupun erupsi eksplosif yang cukup besar untuk merusak struktur endapan muda tersebut.

Artinya, daratan baru ini belum tentu menjadi pulau permanen.

Laut masih memiliki hak veto.

Tiga Syarat Agar Disebut Gunung Api Baru

Lalu apa yang diperlukan agar sebuah daratan baru benar-benar dapat disebut gunung api independen?

Daryono menyebut setidaknya ada tiga indikator geologis penting.

Pertama, memiliki saluran magma sendiri.

Daratan baru harus memiliki jalur magma mandiri yang terhubung ke sumber magma melalui rekahan baru dan terpisah dari kawah induknya.

Kedua, memiliki aktivitas erupsi sendiri.