Scroll untuk baca artikel
LINTAS DAERAH

Korban Arupadhatu 1 Teridentifikasi, Jejak ABK Ditemukan di Pulau Enggano Usai Operasi SAR Dihentikan

×

Korban Arupadhatu 1 Teridentifikasi, Jejak ABK Ditemukan di Pulau Enggano Usai Operasi SAR Dihentikan

Sebarkan artikel ini
Foto Surakman ABK KM Arupudhatu 1 yang membawa lima jurnalis saat Anak Krakatau meletus - dok ist

BANTEN — Misteri hilangnya kapal Arupadhatu 1 di perairan Selat Sunda saat membawa lima jurnalis dan tiga kru untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau mulai menemukan titik terang. Satu korban yang sebelumnya berstatus hilang kini berhasil diidentifikasi.

Operasi Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri memastikan jenazah laki-laki tanpa identitas yang ditemukan di perairan Sawang Bengkok, Desa Kahyapu, Kecamatan Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, merupakan SU, salah satu Anak Buah Kapal (ABK) Arupadhatu 1.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Identifikasi tersebut menjadi kepingan penting dari pencarian kapal yang hilang kontak sejak 8 September 2026. Ironisnya, kepastian identitas korban justru datang setelah operasi pencarian resmi dihentikan.

Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan proses identifikasi dilakukan melalui koordinasi Biddokkes Polda Banten dengan Biddokkes Polda Bengkulu, sebelum data jenazah diperiksa oleh tim DVI Pusdokkes Polri.

“Setelah menerima informasi adanya penemuan jenazah di wilayah Pulau Enggano, kami berkoordinasi dengan Polda Bengkulu untuk dilakukan proses identifikasi dan pencocokan dengan data antemortem dari keluarga korban kapal Arupadhatu 1,” ujar Hengki dalam konferensi pers, Rabu (23/9/2026).

BACA JUGA :  Gunung Anak Krakatau Naik ke Level III Siaga, Kapal Dilarang Dekat! Lampung Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang

Tim DVI mencocokkan sejumlah data primer, mulai dari sidik jari, data gigi hingga DNA keluarga korban.

Hasil pemeriksaan DNA kemudian memberikan kepastian. Jenazah yang sebelumnya hanya tercatat sebagai Mr X secara genetis identik dengan SU, ABK Arupadhatu 1 yang menjadi salah satu korban hilang.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan DNA oleh Operasi DVI Pusdokkes Polri, jenazah Mr X tersebut secara genetis teridentifikasi sebagai SU yang merupakan ABK kapal Arupadhatu 1 dan salah satu korban hilang kontak saat kapal tersebut melakukan peliputan erupsi Gunung Anak Krakatau,” kata Hengki.

Berangkat Meliput Erupsi, Tak Pernah Kembali

Arupadhatu 1 bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin, 7 September 2026 sekitar pukul 14.00 WIB.

Kapal tersebut membawa delapan orang, terdiri dari lima jurnalis dan tiga kru. Tujuannya kawasan Gunung Anak Krakatau untuk melakukan peliputan aktivitas erupsi.

BACA JUGA :  PECAH TELOR, Komisioner Bawaslu Medan Terjaring OTT

Namun sehari kemudian, kabar berubah menjadi operasi pencarian.

Kapolsek Carita Iptu Supandi menerima informasi hilangnya kontak kapal pada Selasa, 8 September 2026 sekitar pukul 13.55 WIB dari seorang jurnalis Antara Banten.

Sejak saat itu, pencarian digelar bersama unsur gabungan. Wilayah laut dibagi menjadi sejumlah sektor karena area pencarian membentang luas hingga wilayah perairan yang mengarah ke Lampung dan Bengkulu.

Pada hari ke-10 operasi, sebanyak 24 kapal dikerahkan untuk menyisir 11 sektor pencarian.

Berbagai benda ditemukan selama penyisiran, antara lain life jacket, pelampung botol, helm plastik, jeriken, terpal dan galon air.

Kabasarnas Banten Al Amrad menjelaskan operasi pencarian dilakukan sesuai ketentuan. Tahap awal berlangsung selama tujuh hari, kemudian diperpanjang tiga hari berdasarkan evaluasi lapangan.

Dalam periode tersebut, tim memperoleh informasi penemuan jenazah pada 12 September. Namun identitas korban belum dapat dipastikan sehingga tidak serta-merta dinyatakan berkaitan dengan Arupadhatu 1.

BACA JUGA :  3.960 Warga Jabar di Timur Tengah Dipantau, Pemprov Buka Hotline Darurat di Tengah Konflik Iran–Israel–AS

Pencarian kemudian diperpanjang hingga 14 September untuk evaluasi dan dilanjutkan selama tiga hari.

Hasilnya, tidak ditemukan tanda-tanda korban lain selain sejumlah objek yang sebelumnya telah ditemukan.

“Dari tiga hari pelaksanaan perpanjangan yang kami laksanakan, tidak ada tanda-tanda korban yang kami temukan selain objek-objek yang sudah kami sampaikan pada saat di lapangan,” ujar Al Amrad.

Enggano Menjadi Titik Penting

Jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano tidak langsung diumumkan sebagai korban Arupadhatu 1.

Basarnas harus menunggu proses identifikasi ilmiah dan pencocokan dengan data keluarga. Langkah itu diperlukan agar tidak terjadi kesalahan identitas yang justru menambah luka bagi keluarga korban.

“Kenapa tidak disampaikan dari awal? Karena seperti yang tadi disampaikan Kapolda, kita harus menunggu hasil identifikasi lebih lanjut dengan data keluarga,” jelas Al Amrad.