Scroll untuk baca artikel
Opini

Kisah Kecebong, Kampret dan Kadal Gurun

×

Kisah Kecebong, Kampret dan Kadal Gurun

Sebarkan artikel ini
imggram.org/wahyusubek

Kini, suasana kebangsaan Indonesia mengalami polarisasi yang cukup beresiko, berbahaya dan begitu memprihatinkan.

Hanya lewat satu cuplikan tertentu di media sosial, realitas sosial terancam konflik horizontal dan konflik vertikal.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Budaya kesantunan dan budi pekerti di adab ketimuran seketika berangsur-ansur menghilang.

BACA JUGA :  Reformasi Jilid II atau Sekadar Gertakan Politik? Ketika Isu Impeachment Terbentur Tembok Konstitusi dan Mandat Rakyat

Ruang sosial publik terisi sesak dengan caci-maki dan hujatan. Mirisnya, istilah-istilah binatang diarahkan untuk menghakimi sesama anak bangsa.

Rasanya luka itu begitu dalam dan membekas tak mudah kembali pulih.

Persada Indonesia yang mulia dan luas ini hanya menjadi negara yang dipenuhi kebinatangan.

Sementara kemanusiaan semakin sulit ditemukan dan begitu mahal untuk dimiliki.

BACA JUGA :  Perang yang Menguntungkan Penonton: Ketika AS–Israel dan Iran Bertarung, Dunia Energi dan Industri Senjata Berpesta

Begitulah ketika cerita dan dongeng fabel dilakonkan manusia. Sulit mewujudkan kehidupan rakyat yang menginsyafi Pancasila, UUD 1945 dan NKRI.

Jangankan untuk mewujudkan kemakmuran dan keadilan.

Menghadirkan semangat kebangsaan dalam
framing kebhinnekaan dan kemajemukan, sudah terseok-seok dan sering mengalami kebuntuan.

Kisah Kecebong, Kampret dan Kadal Gurun menjadi episode panjang dan tak berkesudahan.

BACA JUGA :  Dirgahayu Penjajahan Bangsa

Republik kini kering spiritualitas, gersang moralnya dan mengalami kemarau kemanusiaan.

Bersamaan dengan itu kebinatangan rutin tampil dalam panggung-panggung sosial politik para pucuk dan alas grassroots.***