Pernikahan itu menjadi simbol penyatuan dua peradaban: kerajaan adat Lampung dan pusat dakwah Islam di tanah Jawa.
Dari pernikahan tersebut lahirlah seorang putra yang diberi nama Muhammad Aji Saka, bergelar Minak Kejalo Ratu.
Kelak, tokoh inilah yang lebih dikenal masyarakat Lampung dengan nama Ratu Darah Putih.
Berbeda dengan ayahnya, Minak Kejalo Ratu tumbuh besar di lingkungan Keratuan Pugung.
Sunan Gunung Jati telah kembali ke Cirebon untuk memimpin pemerintahan dan melanjutkan dakwah Islam.
Perjalanan Mencari Sang Ayah
Ketika beranjak dewasa, Minak Kejalo Ratu memutuskan berlayar menuju Cirebon.
Perjalanan itu bukan sekadar ingin bertemu ayah kandung.
Ia juga membawa amanah keluarga serta ingin mempererat hubungan antara dua kerajaan.
Namun perjalanan abad ke-16 tentu tidak mudah.
Menurut hikayat, rombongan Minak Kejalo Ratu beberapa kali mendapat gangguan.
Mereka diuji oleh orang-orang yang meragukan identitasnya.
Bahkan ketika memasuki lingkungan Kesultanan Cirebon, para pengawal kerajaan ikut mempertanyakan pengakuannya sebagai putra Sunan Gunung Jati.
Bagi orang-orang istana, pemuda dari Lampung itu hanyalah orang asing.
Darah yang Menjadi Bukti
Pertemuan antara ayah dan anak akhirnya terjadi.
Namun Sunan Gunung Jati belum mengenali putranya.
Minak Kejalo Ratu memang lahir dan dibesarkan jauh dari Cirebon.
Menurut hikayat, Sunan Gunung Jati kemudian memohon petunjuk kepada Allah SWT.
Ia mengambil sebutir padi, lalu menggoreskannya pada bagian mata aji, yakni titik di tengah dahi putranya.
Sang Sunan berikrar:
Jika darah yang keluar berwarna putih, maka benar ia adalah darah dagingku. Jika merah seperti darah manusia pada umumnya, berarti ia bukan putraku.
Atas kehendak Allah, menurut tradisi lisan tersebut, dari goresan kecil itu mengalir darah berwarna putih.
Peristiwa itulah yang diyakini menjadi asal-usul gelar Ratu Darah Putih.
Sejak saat itu, seluruh keraguan sirna.
Minak Kejalo Ratu diakui sebagai putra Sunan Gunung Jati.
Lahirnya Keratuan Melinting
Sementara itu, garis keturunan Minak Kejalo Bidien berkembang di wilayah Meringgai.
Dari sanalah kemudian lahir Keratuan Melinting, salah satu keratuan adat terbesar di Lampung.













