KOTA BEKASI – Revitalisasi Pasar Kranji Baru tampaknya belum kehabisan episode. Saat para pedagang masih menunggu kepastian kapan bisa kembali berdagang di gedung baru, justru disuguhi polemik lain yang tak kalah menarik yakni dugaan pergantian nama perusahaan pengembang di tengah proyek yang progresnya masih bikin banyak orang bertanya, “Ini lagi dibangun atau lagi dipikirin?”
Nama perusahaan pengembang yang selama ini dikenal sebagai PT Anisa Bintang Blitar mendadak disebut berubah menjadi PT Anugerah Bekasi Bersaudara. Yang bikin unik, singkatannya tetap sama yakni PT ABB. Seolah hanya ganti seragam, tapi nomor punggung tetap dipertahankan.
Informasi ini mencuat setelah muncul dalam pemberitaan media online yang mengutip penjelasan Kepala Bagian Kerja Sama Setda Pemkot Bekasi, Bilang Harahap, terkait pembahasan adendum kerja sama pengelolaan pasar. Dalam penjelasan itu, nama PT Anugerah Bekasi Bersaudara disebut sebagai pihak pengelola proyek revitalisasi Pasar Kranji Baru.
Sontak, kabar tersebut menyebar cepat di kalangan pedagang dan masyarakat. Maklum, proyek revitalisasi Pasar Kranji Baru sendiri sudah cukup lama jadi bahan obrolan. Dari yang awalnya dijanjikan menjadi simbol kebangkitan ekonomi pedagang, kini justru lebih sering dibahas karena progres pembangunan yang dinilai jalan di tempat.
“Gedung baru harusnya sudah ditempati sejak 2022. Tapi sekarang pedagang malah sibuk nebak-nebak nama perusahaan,” celetuk seorang pedagang sambil tertawa pahit.
Sorotan pun datang dari sejumlah pemerhati pembangunan di Kota Bekasi. Mereka menilai, apabila benar terjadi perubahan identitas perusahaan di tengah proyek berjalan, maka hal tersebut tidak bisa dianggap persoalan administrasi biasa. Sebab, proyek revitalisasi pasar menyangkut kontrak kerja sama, legalitas, tanggung jawab investasi, hingga kepastian hukum bagi para pedagang.
Publik pun mulai bertanya-tanya.
Apakah benar hanya salah sebut nama?
Atau memang ada perubahan badan usaha yang belum dijelaskan secara utuh ke masyarakat?
Di tengah riuh spekulasi itu, Direktur PT Anisa Bintang Blitar, Rama, langsung membantah keras isu pergantian nama perusahaan.
“Tidak benar ada pergantian nama. Perusahaan kami tetap PT Anisa Bintang Blitar. Kemungkinan ada kekeliruan dalam penyampaian informasi kepada media,” ujar Rama saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Pernyataan tersebut bukannya meredam polemik, justru memunculkan pertanyaan baru. Jika memang tidak ada perubahan nama, lalu kenapa nama berbeda bisa muncul dalam pembahasan resmi adendum kerja sama?
Sampai saat ini, belum ada klarifikasi lanjutan dari Pemerintah Kota Bekasi terkait perbedaan penyebutan nama perusahaan tersebut. Situasi ini membuat para pedagang makin resah. Mereka khawatir proyek revitalisasi yang sudah bertahun-tahun tersendat justru makin tidak jelas arahnya.
Tokoh pedagang Pasar Kranji Baru, Sri Mulyono, mengaku isu pergantian nama perusahaan sudah ramai beredar di grup WhatsApp pedagang. Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan betapa carut-marutnya pengelolaan proyek revitalisasi pasar tersebut.
“Kita dapat kiriman dari grup WhatsApp pedagang. Katanya PT ABB ganti nama. Pedagang makin resah aja,” ungkap Mulyono.
Ia menegaskan, yang dibutuhkan pedagang saat ini bukan polemik identitas perusahaan, melainkan kepastian pembangunan. Sebab, para pedagang sudah terlalu lama menunggu janji revitalisasi yang sampai sekarang belum benar-benar terasa hasilnya.
Di mata masyarakat, kisruh ini menjadi simbol klasik proyek pembangunan yang lebih cepat menghasilkan kontroversi dibanding bangunan jadi. Nama perusahaan ramai dibahas, adendum sibuk dirapatkan, tapi gedung pasar masih belum juga memberi kepastian kapan benar-benar bisa digunakan.
Ironisnya, di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, para pedagang justru harus menghadapi ketidakjelasan berkepanjangan. Revitalisasi yang semestinya menjadi solusi, perlahan berubah menjadi cerita bersambung yang tiap episodenya selalu menyisakan tanda tanya.
Pedagang menunggu satu hal sederhana: penjelasan terbuka dan transparan. Sebab untuk proyek sebesar revitalisasi pasar rakyat, masyarakat tentu berharap yang dibangun bukan hanya narasi, melainkan juga kepercayaan.***












