Scroll untuk baca artikel
Olahraga

Piala Dunia 2026 Sepi Penonton? Stadion Megah, Kursi Kosong dan Efek Trump Jadi Sorotan

×

Piala Dunia 2026 Sepi Penonton? Stadion Megah, Kursi Kosong dan Efek Trump Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini
Para penampil memeriahkan upacara pembukaan sebelum laga Grup A Piala Dunia FIFA 2026 antara tim nasional Meksiko dan tim nasional Afrika Selatan di Estadio Azteca, Kamis (11/6/2026). REUTERS/Kai Pfaffenbach

WawaiNEWS.ID – Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang menjadi edisi terbesar sepanjang sejarah justru menghadapi ironi. Alih-alih disambut gelombang penonton dari seluruh dunia, turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu malah dibayangi kursi kosong, hotel sepi, hingga minimnya antusiasme wisatawan internasional.

Biasanya, ajang empat tahunan ini menjadi magnet yang mampu menyedot jutaan pengunjung dan mendatangkan berkah ekonomi bagi kota-kota tuan rumah. Namun kali ini ceritanya berbeda. Stadion memang megah, panggung sudah siap, tetapi sebagian kursi penonton masih menunggu pemiliknya datang.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Survei American Hotel and Lodging Association menunjukkan sekitar 80 persen hotel di kota-kota penyelenggara mencatat tingkat pemesanan di bawah ekspektasi hanya beberapa hari menjelang kick-off Piala Dunia 2026. Kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa arus wisatawan tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.

Di sektor tiket, situasinya juga belum menggembirakan. Data Ticket Data menunjukkan masih tersedia sekitar 25.000 kursi melalui platform penjualan resmi FIFA. Penjualan tiket relatif kuat hanya pada pertandingan yang melibatkan tim tuan rumah, sementara laga-laga lainnya belum mampu menarik minat yang sama besar.

BACA JUGA :  SBY “Sentil” Trump dan Khamenei: Perang Bukan Tombol Remote, Dunia Bukan Arena Ego

Salah satu faktor yang disebut menjadi penyebab adalah tingginya biaya yang harus dikeluarkan penonton. Harga tiket, akomodasi, transportasi, hingga kebutuhan selama berada di Amerika Utara membuat banyak penggemar berpikir dua kali sebelum berangkat.

Belum lagi format baru Piala Dunia yang kini diikuti 48 negara dengan total 104 pertandingan. Secara teori jumlah laga yang lebih banyak berarti lebih banyak peluang menonton. Namun di sisi lain, banyak pengamat menilai banjir pertandingan justru mengurangi eksklusivitas dan urgensi setiap laga.

Jika dianalogikan secara satir, FIFA tampaknya mencoba mengubah pesta sepak bola menjadi maraton sepak bola. Masalahnya, tidak semua orang siap membeli tiket untuk pesta yang berlangsung lebih lama, lebih mahal, dan lebih melelahkan.

Fenomena stadion yang tidak terisi penuh sebenarnya bukan barang baru dalam sejarah Piala Dunia.

Pada Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, ESPN mencatat hampir 3,2 juta penonton hadir sepanjang turnamen. Namun sejumlah pertandingan fase grup tetap menampilkan pemandangan kursi kosong yang cukup mencolok, termasuk saat Yunani menghadapi Korea Selatan.

Kala itu FIFA menyalahkan pemegang tiket korporasi, lembaga pemerintah, serta pemilik tiket yang tidak hadir meski sudah membeli kursi.

BACA JUGA :  Trump Ancam Putus Dagang dengan Spanyol, Sindir Inggris Bukan “Era Churchill” Usai Akses Pangkalan Ditolak

Empat tahun kemudian di Brasil, masalah serupa kembali muncul. Harga tiket yang dianggap mahal bagi warga lokal serta distribusi tiket sponsor yang tidak optimal menjadi sasaran kritik. FIFA lagi-lagi menyebut banyak pemegang tiket memilih tidak hadir atau gagal menjual kembali tiket mereka.

Piala Dunia 2018 di Rusia pun tidak sepenuhnya bebas dari persoalan tersebut. Pada laga Uruguay melawan Mesir misalnya, FIFA mengakui sekitar 5.000 kursi tidak terisi.

Artinya, kursi kosong memang bukan kutukan baru bagi sepak bola dunia. Namun dalam konteks Piala Dunia 2026 yang dipromosikan sebagai edisi terbesar sepanjang sejarah, fenomena ini menjadi jauh lebih mencolok.

Selain faktor ekonomi, kondisi geopolitik juga ikut memengaruhi minat wisatawan.

Profesor Manajemen Olahraga North Carolina State University, Mike Edwards, menilai sejumlah kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat sebagian calon pengunjung internasional lebih berhati-hati untuk bepergian ke Negeri Paman Sam.

Ketidakpastian aturan imigrasi, kekhawatiran mengenai pemeriksaan perbatasan, hingga persepsi politik tertentu disebut menjadi faktor yang membuat sebagian wisatawan memilih menunda atau membatalkan perjalanan.

Sejumlah organisasi hak sipil, termasuk American Civil Liberties Union (ACLU), bahkan mengeluarkan panduan dan peringatan bagi warga negara asing yang berencana datang ke Amerika Serikat selama penyelenggaraan Piala Dunia.

BACA JUGA :  Selat Hormuz Ditutup Lagi! Iran Bikin Dunia Deg-degan, Trump Balas Gertak, Harga Minyak Terancam Meledak

Masalah visa juga menambah keruwetan. Banyak calon penonton mengeluhkan kebingungan prosedur serta lamanya proses penerbitan dokumen perjalanan. Padahal wisatawan internasional selama ini merupakan kelompok dengan kontribusi belanja terbesar dalam setiap gelaran Piala Dunia.

Warga Amerika Juga Sedang Mengencangkan Ikat Pinggang

Harapan FIFA untuk mengandalkan pasar domestik juga tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Masyarakat Amerika Serikat saat ini masih menghadapi tekanan ekonomi berupa kenaikan biaya hidup, harga bahan bakar yang tinggi, serta pasar tenaga kerja yang melambat. Kondisi tersebut membuat banyak keluarga lebih selektif mengeluarkan uang untuk perjalanan, hiburan, dan olahraga.

Akibatnya, Piala Dunia 2026 menghadapi tantangan yang tidak ringan. Turnamen ini memang memiliki lebih banyak peserta, lebih banyak pertandingan, dan lebih banyak stadion. Namun jumlah yang lebih besar tidak otomatis menjamin atmosfer yang lebih meriah.

Pada akhirnya, FIFA mungkin berhasil menciptakan Piala Dunia terbesar dalam sejarah. Pertanyaannya kini bukan lagi seberapa besar turnamen itu, melainkan seberapa banyak kursi yang benar-benar terisi ketika peluit pertama dibunyikan.***