Scroll untuk baca artikel
Nasional

BBM Nonsubsidi dan LPG 12 Kg Naik, Rupiah Melemah, Dompet Makin Sesak

×

BBM Nonsubsidi dan LPG 12 Kg Naik, Rupiah Melemah, Dompet Makin Sesak

Sebarkan artikel ini
Satreskrim Polres Pringsewu bersama Balai Metrologi periksa SPBU Pajaresuk, pada Kamis 28 Maret 2024 - foto doc

JAKARTA – Tekanan terhadap kelas menengah kembali datang beruntun. Setelah nilai tukar rupiah melemah dan harga LPG 12 kilogram di sejumlah wilayah dilaporkan naik, kini Pertamina resmi menyesuaikan harga BBM nonsubsidi mulai Sabtu, 18 April 2026.

Kombinasi tiga faktor ini dinilai menjadi pukulan serius bagi rumah tangga produktif, pekerja urban, pelaku UMKM, hingga pengguna kendaraan pribadi yang selama ini tidak menikmati subsidi penuh namun juga belum tentu mapan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kalau dulu kelas menengah sibuk mengejar promo cashback, kini mulai sibuk menghitung pengeluaran mingguan.

Harga Baru BBM:

  • Pertamax Turbo: Rp19.400/liter
    (sebelumnya sekitar Rp13.100)
  • Pertamina Dex: Rp23.900/liter
    (sebelumnya sekitar Rp14.500)
  • Dexlite: Rp23.600/liter
    (sebelumnya sekitar Rp14.200)

Tidak Berubah:

  • Pertamax: Rp12.300/liter
  • Pertamax Green: Rp12.900/liter
  • Pertalite: Rp10.000/liter
  • Biosolar: Rp6.800/liter

Kenaikan tertinggi terlihat pada BBM diesel dan oktan tinggi, segmen yang banyak digunakan kendaraan menengah ke atas, logistik tertentu, hingga mobil diesel pribadi.

BACA JUGA :  KPK Resmi Tetapkan Edhy Prabowo Jadi Tersangka Suap Benur

LPG 12 Kg Ikut Bergerak Naik

Sebelumnya, masyarakat di kawasan Jabodetabek juga mengeluhkan kenaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram di tingkat agen dan pangkalan.

Meski nominal berbeda-beda antar wilayah, tren kenaikan ini menambah tekanan biaya rumah tangga, terutama bagi keluarga yang tidak lagi memakai LPG subsidi 3 kg.

Artinya, dapur dan garasi kini sama-sama minta anggaran tambahan.

BACA JUGA :  Jusuf Kalla, La Ode Umar dan Politik Identitas

Rupiah Melemah, Efek Berantai ke Harga Energi

Tekanan makin terasa karena rupiah juga mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya impor energi dan bahan baku cenderung meningkat.

Karena sektor energi Indonesia masih terhubung pada harga global, maka perubahan kurs sangat berpengaruh pada:

  • BBM nonsubsidi
  • LPG impor
  • Ongkos distribusi
  • Harga kebutuhan lain.***