Scroll untuk baca artikel
NasionalPolitik

Teddy Sentil Masa Jabatan 3 Bulan, Anies Balas Telak: Dino Patti Djalal Bukan Diplomat Karbitan!

×

Teddy Sentil Masa Jabatan 3 Bulan, Anies Balas Telak: Dino Patti Djalal Bukan Diplomat Karbitan!

Sebarkan artikel ini
Anies Baswedan
Anies Baswedan

JAKARTA – Di negeri yang terkadang lebih sibuk menghitung berapa lama seseorang duduk di kursi jabatan daripada apa yang dikerjakannya, polemik antara Dino Patti Djalal dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kini memasuki babak baru.

Kali ini, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan ikut nimbrung. Namun alih-alih membalas sindiran dengan sindiran, Anies memilih cara yang lebih halus: membongkar rekam jejak panjang Dino Patti Djalal di dunia diplomasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Polemik bermula setelah Dino Patti Djalal mengkritisi sejumlah perjalanan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Kritik tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.

Dalam pernyataannya, Teddy mengapresiasi masukan Dino, namun menyelipkan kalimat yang langsung menjadi bahan perdebatan publik.

“Terima kasih atas masukan yang telah diberikan, sangat cermat dan terstruktur. Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri walau hanya diberi kesempatan sekitar tiga bulan,” ujar Teddy.

BACA JUGA :  Anies, Jumhur dan Pembebasan Alienasi Kaum Buruh

Kalimat “hanya tiga bulan” itu sontak dianggap sebagian kalangan sebagai sindiran yang lebih tajam daripada pujian itu sendiri.

Sebab dalam politik Indonesia, kadang durasi jabatan sering dijadikan ukuran prestasi. Padahal sejarah membuktikan tidak sedikit pejabat yang duduk bertahun-tahun tetapi minim karya, sementara ada pula yang meninggalkan jejak besar dalam waktu singkat.

Di tengah ramainya perdebatan tersebut, Anies Baswedan memilih mengingatkan publik bahwa nama Dino Patti Djalal sudah dikenal jauh sebelum menjabat Wakil Menteri Luar Negeri.

Melalui akun Threads miliknya, Anies mengisahkan pertama kali mengenal Dino ketika masih menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saat itu, kata Anies, Dino tampil dalam BBC World Debate di London dan berhadapan dengan diplomat senior internasional ketika posisi Indonesia sedang berada dalam sorotan dunia.

BACA JUGA :  25 Orang Dilaporkan Meninggal Akibat Covid-19

Menurut Anies, diplomat muda Indonesia tersebut tampil dengan percaya diri dan mampu menjaga kehormatan bangsa di tengah tekanan internasional.

“Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dengan diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa,” tulis Anies.

Tak berhenti di situ, Anies juga mengingatkan publik tentang kiprah Dino sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, penggagas Kongres Diaspora Indonesia, hingga pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), sebuah komunitas yang selama ini aktif mendorong diskusi kebijakan luar negeri Indonesia.

Puncaknya, Anies melontarkan kalimat yang langsung menjadi perhatian publik.

“Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.”

BACA JUGA :  Kehormatan Seorang Anies

Kalimat tersebut dianggap banyak pihak sebagai jawaban elegan atas sindiran yang sebelumnya diarahkan kepada Dino.

Jika Teddy memilih menyoroti lamanya masa jabatan, Anies justru mengajak publik melihat perjalanan karier, pengalaman, dan kontribusi yang telah dibangun selama puluhan tahun.

Perdebatan ini pada akhirnya bukan lagi soal tiga bulan atau tiga tahun.

Yang sedang diperdebatkan adalah pertanyaan klasik dalam politik dan birokrasi Indonesia: apakah seseorang dinilai dari lamanya duduk di kursi kekuasaan, atau dari jejak yang ditinggalkannya setelah kursi itu ditinggalkan?

Satu hal yang pasti, di tengah panasnya polemik politik, publik kembali disuguhi pelajaran menarik bahwa dalam dunia diplomasi, reputasi tidak dibangun dalam semalam.

Dan seperti yang disiratkan Anies, ada perbedaan besar antara pejabat yang kebetulan menjadi diplomat dan diplomat yang memang dibentuk oleh pengalaman panjang.