Scroll untuk baca artikel
BUDAYARAGAM

Terungkap! Babi Ternyata Pernah Jadi Makanan Favorit Orang Arab, Lalu Mengapa Menghilang?

×

Terungkap! Babi Ternyata Pernah Jadi Makanan Favorit Orang Arab, Lalu Mengapa Menghilang?

Sebarkan artikel ini
Foto Ilustrasi Kandang Babi - dok/Jali

WAWAI NEWS – Jika berbicara tentang Timur Tengah, banyak orang langsung mengaitkannya dengan larangan mengonsumsi daging babi. Padahal, jauh sebelum ajaran agama-agama Abraham berkembang di kawasan tersebut, babi justru pernah menjadi salah satu sumber pangan utama masyarakat Arab kuno.

Temuan sejarah dan penelitian arkeologi menunjukkan bahwa babi bukanlah hewan asing di Jazirah Arab. Bahkan, hewan bertubuh tambun itu diyakini pertama kali dijinakkan manusia di kawasan Mesopotamia sekitar 8.500 tahun sebelum Masehi (SM), sebelum akhirnya menyebar ke Eropa dan berbagai belahan dunia.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Lalu, mengapa babi yang pernah menjadi santapan favorit perlahan menghilang dari meja makan masyarakat Timur Tengah?

Jawabannya ternyata lebih kompleks daripada sekadar persoalan agama.

Mesopotamia, Tempat Awal Domestikasi Babi

Penelitian tim ilmuwan dari Kiel University, Jerman, dalam jurnal Insights: Into Early Pig Domestication Provided by Ancient DNA Analysis (2017), menyebut kawasan Mesopotamia menjadi salah satu lokasi pertama domestikasi babi di dunia.

Setelah berhasil dijinakkan, babi dipelihara sebagai sumber protein bagi masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.

BACA JUGA :  Kades Gunung Pasir Jaya Diduga Terima Setoran dari Kandang Babi

Bukti arkeologi memperlihatkan bahwa antara 5.000 hingga 2.000 SM, babi menjadi hewan ternak yang umum dipelihara di berbagai permukiman kuno Timur Tengah.

Masyarakat kala itu merawat babi selama berbulan-bulan sebelum disembelih sebagai sumber makanan keluarga.

Popularitasnya bahkan mampu bersaing dengan sapi, kambing, maupun domba.

Namun sekitar 1.000 SM, jumlah peternakan babi mulai menurun drastis.

Teori Pertama: Gurun Tak Bersahabat dengan Babi

Antropolog terkenal Marvin Harris dalam bukunya Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir menjelaskan bahwa faktor utama yang membuat babi ditinggalkan adalah persoalan lingkungan.

Menurut Harris, babi merupakan hewan yang sangat boros sumber daya.

Seekor babi membutuhkan sekitar 6.000 liter air selama masa pertumbuhannya.

Dalam satu peternakan berisi 100 ekor babi, kebutuhan air bisa mencapai 600.000 liter.

Jumlah tersebut menjadi persoalan besar di kawasan Timur Tengah yang didominasi gurun dengan sumber air sangat terbatas.

“Babi mungkin enak, tetapi memberi makan binatang itu dan menjaganya tetap sejuk akan terlalu banyak menyita sumber daya,” tulis Harris.

Tak hanya air, babi juga memerlukan makanan yang sama dengan manusia seperti gandum, kacang-kacangan, dan buah-buahan.

Artinya, manusia harus bersaing langsung dengan ternaknya sendiri untuk mendapatkan bahan pangan.

BACA JUGA :  Camat Sekampung Udik Akui Belum Tahu Soal Peternakan Babi di Desa Purwo Kencono

Dalam kondisi sumber daya terbatas, masyarakat lebih memilih menyimpan makanan itu untuk keluarganya daripada diberikan kepada babi.

Teori Kedua: Ayam Datang, Babi Tersingkir

Pendapat berbeda disampaikan sejarawan Richard W. Redding melalui penelitiannya The Pig and the Chicken in the Middle East (2015).

Ia sepakat bahwa babi membutuhkan air dalam jumlah besar, tetapi menurutnya penyebab utama hilangnya babi justru karena munculnya ayam sebagai hewan ternak yang jauh lebih efisien.

Ayam dinilai lebih mudah dipelihara, lebih hemat sumber daya, dan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

Selain menghasilkan daging, ayam juga memberikan telur yang dapat dikonsumsi setiap hari.

Ukurannya yang relatif kecil membuat ayam dapat langsung dihabiskan dalam sekali makan.

Sementara babi berukuran besar sehingga sering menyisakan daging.

Pada masa itu, teknologi pendingin dan pengawetan makanan belum berkembang.

Akibatnya, sisa daging babi berisiko membusuk sebelum sempat dikonsumsi.

“Dalam keadaan seperti ini, ayam menjadi sumber protein utama. Hal ini membuat babi tidak diperlukan lagi,” tulis Richard.

Dari Faktor Lingkungan Menjadi Budaya

Berabad-abad kemudian, perubahan pola konsumsi tersebut perlahan berkembang menjadi tradisi sosial yang semakin mengakar.

BACA JUGA :  Peternakan Babi Dekat Sekolah Tuai Protes Warga, DLH Lampung Timur Diminta Turun

Ketika agama Yahudi dan Islam muncul, larangan mengonsumsi babi kemudian menjadi bagian dari aturan keagamaan yang memperkuat kebiasaan masyarakat yang sebelumnya memang telah banyak meninggalkan hewan tersebut.

Artinya, dari sudut pandang sejarah dan antropologi, penurunan konsumsi babi telah berlangsung jauh sebelum larangan agama diterapkan secara formal.

Sejarah Mengajarkan Bahwa Pilihan Makanan Juga Dipengaruhi Lingkungan

Sejarah pangan menunjukkan bahwa manusia sering memilih makanan bukan semata karena selera, tetapi juga karena faktor lingkungan, ekonomi, dan efisiensi hidup.

Di wilayah gurun yang minim air, memelihara babi menjadi pilihan yang mahal.

Sebaliknya, ayam menawarkan solusi yang lebih praktis dan berkelanjutan.

Satirnya, sejak ribuan tahun lalu manusia sudah melakukan “efisiensi anggaran dapur”. Bedanya, saat itu yang dipangkas bukan belanja negara, melainkan hewan ternak yang dianggap terlalu boros air dan pangan.

Kini, meski babi masih dikonsumsi di sejumlah negara dan budaya, sejarah mencatat bahwa hewan tersebut pernah berjaya di Timur Tengah sebelum akhirnya perlahan menghilang dari kandang, pasar, dan meja makan masyarakat Arab.***