Scroll untuk baca artikel
EKONOMI

Hotel Ramai, Kasir Tetap Sepi! PHRI Ungkap Industri Perhotelan Belum Benar-Benar Pulih

×

Hotel Ramai, Kasir Tetap Sepi! PHRI Ungkap Industri Perhotelan Belum Benar-Benar Pulih

Sebarkan artikel ini
Kamar Hotel
inspirasi Kamar Hotel

JAKARTA – Ramainya hotel saat libur Lebaran dan musim liburan sekolah ternyata belum mampu mengangkat kesehatan industri perhotelan nasional. Di balik tingginya tingkat hunian kamar, pelaku usaha justru masih menghadapi kenyataan pahit: tamu memang datang, tetapi keuntungan belum ikut menginap.

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) menegaskan bahwa kenaikan okupansi sepanjang semester pertama 2026 belum dapat dijadikan indikator bahwa industri perhotelan telah pulih sepenuhnya. Peningkatan jumlah tamu lebih banyak dipicu momentum musiman dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, mengatakan lonjakan okupansi pada kuartal II 2026 didorong oleh periode libur sekolah dan Lebaran. Di sejumlah destinasi wisata, tingkat keterisian kamar bahkan meningkat sekitar 20 hingga 30 persen dibandingkan hari biasa.

Namun, menurutnya, kondisi tersebut hanya memberikan napas sesaat.

“Apakah sudah pulih? Belum pulih. Justru sekarang muncul tantangan baru, mulai dari dampak konflik Iran yang meningkatkan biaya operasional hingga biaya perjalanan yang ikut naik sehingga memengaruhi pasar,” ujar Maulana, Jumat (31/7/2026).

PHRI menilai persoalan utama industri saat ini bukan sekadar jumlah tamu, melainkan kualitas pendapatan.

Banyak hotel terpaksa menawarkan berbagai potongan harga agar kamar tetap terisi. Akibatnya, okupansi memang meningkat, tetapi pendapatan per kamar justru tidak maksimal.

Fenomena ini membuat hotel kehilangan momentum high season, yang sebelumnya menjadi waktu terbaik untuk menaikkan tarif kamar.

Ironisnya, tamu menikmati harga promo, sementara pengelola hotel harus menanggung kenaikan biaya listrik, bahan makanan, operasional, hingga tenaga kerja.

Kalau diibaratkan sebuah restoran, mejanya memang penuh, tetapi kasir belum tentu tersenyum.

PHRI mencatat industri hotel sebenarnya sempat menunjukkan tren pemulihan pascapandemi Covid-19.

Mulai 2021 hingga 2024, tingkat okupansi terus meningkat seiring pulihnya mobilitas masyarakat.

Namun, tren tersebut mulai berubah pada 2025 ketika kebijakan efisiensi anggaran pemerintah mengurangi aktivitas perjalanan dinas dan penyelenggaraan kegiatan Meeting, Incentive, Convention and Exhibition (MICE) yang selama ini menjadi salah satu sumber pendapatan utama hotel.

Akibatnya, banyak hotel kehilangan pasar korporasi yang selama bertahun-tahun menjadi tulang punggung bisnis mereka.

Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata tingkat okupansi hotel nasional hingga Mei 2026 tercatat 46,96 persen.

Angka tersebut masih berada di bawah rata-rata okupansi sepanjang 2024 yang mencapai 52,50 persen.

PHRI menilai target pemulihan seharusnya bukan sekadar lebih baik dibandingkan 2025, tetapi mampu melampaui capaian sebelum perlambatan kembali terjadi.

“Kalau dibandingkan 2024, sampai Mei 2026 rata-ratanya masih 46,96 persen. Jadi belum kembali ke level yang diharapkan,” kata Maulana.

Selain persaingan tarif yang semakin ketat, pelaku usaha juga menghadapi tekanan biaya operasional akibat kondisi ekonomi global.

Konflik geopolitik di Timur Tengah disebut turut memengaruhi biaya perjalanan dan distribusi logistik, yang akhirnya berdampak pada industri pariwisata dan perhotelan.

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih membuat wisatawan semakin sensitif terhadap harga.

Akibatnya, hotel-hotel harus terus berlomba menawarkan promo demi mempertahankan tingkat hunian.

PHRI berharap pemerintah dapat menghadirkan kebijakan yang mampu mendorong pemulihan sektor pariwisata secara menyeluruh, termasuk menghidupkan kembali pasar MICE, memperkuat promosi destinasi wisata, serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Sebab, industri hotel tidak hanya bergantung pada musim liburan.

Keberlanjutan bisnis perhotelan juga ditentukan oleh aktivitas perjalanan dinas, investasi, kegiatan usaha, hingga daya beli masyarakat.

Pada akhirnya, tingginya okupansi memang menjadi kabar baik. Namun bagi pelaku industri, ukuran keberhasilan bukan hanya kamar yang penuh, melainkan bagaimana tamu yang datang juga mampu menghidupkan neraca keuangan hotel. Tanpa itu, hotel boleh ramai, tetapi pemulihan sejati masih sebatas tulisan di papan reservasi.***

BACA JUGA :  Baca! Ini Harga Minyak Goreng di Indomaret dan Alfamart