Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

20 Ribu Anak Terpukau! SD Al Madina Buktikan Musik Tradisional Tak Pernah Ketinggalan Zaman di Hari Anak Nasional 2026

×

20 Ribu Anak Terpukau! SD Al Madina Buktikan Musik Tradisional Tak Pernah Ketinggalan Zaman di Hari Anak Nasional 2026

Sebarkan artikel ini
Musik Tradisional Modern SD Al Madina Inklusif Berkarakter Tampil Memukau di Hadapan 20 Ribu Anak pada Hari Anak Nasional 2026, Selasa (28/7) - foto dok

SERANG – Di tengah era ketika banyak anak lebih akrab dengan layar gawai daripada bunyi alat musik tradisional, sekelompok siswa dari SD Al Madina Inklusif Berkarakter justru menunjukkan pesan berbeda. Mereka membuktikan bahwa budaya Nusantara tetap mampu memikat, selama disajikan dengan kreativitas dan semangat zaman.

Momen itu terjadi dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang digelar di Stadion Heroik Grup 1 Kopassus, Kabupaten Serang. Di hadapan sekitar 20.000 anak dari berbagai sekolah, penampilan Group Musik SD Al Madina berhasil mencuri perhatian dan mengundang tepuk tangan panjang dari ribuan peserta yang memadati stadion, Selasa (28/7).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Penampilan tersebut turut disaksikan Bunda PAUD Kabupaten Serang yang juga merupakan Ibu Bupati Serang, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Serang, para kepala sekolah, guru, orang tua, serta tamu undangan lainnya.

Di bawah arahan Teacher Gilang, Kepala Pendopo Kahyangan Al Madina sekaligus Guru Musik SD Al Madina Inklusif Berkarakter, para siswa menghadirkan pertunjukan yang memadukan alat musik tradisional dengan sentuhan aransemen modern. Perpaduan irama, koreografi yang energik, serta kepercayaan diri para siswa menghadirkan suasana meriah sekaligus mengingatkan bahwa warisan budaya dapat tetap hidup tanpa kehilangan daya tariknya.

BACA JUGA :  Saat Anak Lebih Sibuk Menatap Layar, Dedi Mulyadi Mengingatkan: Masa Depan Bangsa Dipertaruhkan

Di tengah derasnya arus hiburan digital, pertunjukan itu seolah menyampaikan pesan sederhana namun kuat: anak-anak tetap bisa jatuh cinta pada budaya bangsanya ketika diberi ruang untuk mengenalnya dengan cara yang menyenangkan.

“Anak-anak sekarang memang hidup di era digital. Tidak ada yang salah dengan teknologi, tetapi akan sangat disayangkan jika mereka tumbuh tanpa mengenal akar budayanya sendiri,” ujar Teacher Gilang.

Menurutnya, seni tradisional tidak boleh hanya menjadi pajangan di buku pelajaran atau tampil saat upacara seremonial. Seni harus menjadi pengalaman yang hidup, dimainkan, dirasakan, dan dinikmati oleh anak-anak.

“Kami ingin membuktikan bahwa seni musik tradisional dapat dikemas secara modern tanpa kehilangan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Melalui musik, anak-anak belajar mencintai budaya bangsa, membangun karakter, disiplin, kerja sama, dan percaya diri untuk tampil di hadapan ribuan orang,” ungkapnya.

BACA JUGA :  HGN di Tanggamus dihadiri 550 guru TK dari 10 cabang

Bagi para siswa, tampil di depan sekitar 20 ribu peserta bukan sekadar menunjukkan kemampuan bermusik. Mereka belajar mengelola rasa gugup, bekerja dalam tim, saling menghargai, dan memahami bahwa setiap nada yang dimainkan memiliki makna kebersamaan.

Pendopo Kahyangan Al Madina yang dipimpin Teacher Gilang selama ini menjadi ruang pembinaan seni dan budaya di lingkungan Yayasan Al Madina Abdi Nusantara. Melalui berbagai kegiatan seni pertunjukan, musik tradisional, hingga pelestarian budaya Nusantara, sekolah berupaya membentuk generasi yang kreatif, berkarakter, dan memiliki kebanggaan terhadap identitas bangsanya.

Keikutsertaan SD Al Madina dalam Hari Anak Nasional 2026 juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak semata-mata diukur dari nilai rapor atau prestasi akademik. Sekolah memiliki tanggung jawab yang lebih besar, yakni menumbuhkan karakter, kreativitas, empati, serta kecintaan terhadap budaya Indonesia.

BACA JUGA :  Miliki Dana BOS Fantastis, SMKN 1 Gadingrejo Masih Tarik Uang ke Orang Tua Melalui Komite Sekolah?

Sedikit satire yang patut direnungkan, mungkin anak-anak tidak kekurangan hiburan. Yang sering kurang adalah kesempatan untuk mengenal budayanya sendiri dengan cara yang menyenangkan. Ketika ruang itu diberikan, mereka membuktikan bahwa gamelan, angklung, kendang, dan musik Nusantara masih mampu mengalahkan riuh notifikasi telepon genggam.

Penampilan SD Al Madina Inklusif Berkarakter pada Hari Anak Nasional 2026 menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukanlah pekerjaan masa lalu, melainkan investasi masa depan. Sebab, bangsa yang besar bukan hanya melahirkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang mengenal jati dirinya.

Mengusung semangat “Melestarikan Budaya, Menginspirasi Generasi. Berkarya dengan Seni, Berkarakter untuk Negeri,” SD Al Madina kembali menegaskan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang mampu menyeimbangkan ilmu pengetahuan, karakter, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa.***