Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Harga CPO Terbang! Tembus Level Tertinggi 4 Bulan, Peluang Emas bagi Indonesia sebagai Raja Sawit Dunia

×

Harga CPO Terbang! Tembus Level Tertinggi 4 Bulan, Peluang Emas bagi Indonesia sebagai Raja Sawit Dunia

Sebarkan artikel ini
Penampakan aktivitas bongkar muat dari mobil truk muatan tandan sawit di PSM 2, Desa Gunung Agung, Sekampung Udik, Lampung Timur - foto doc Jali

Jakarta — Harga minyak sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) melonjak tajam sepanjang pekan ini dan menjadi kabar menggembirakan bagi industri sawit Indonesia. Lonjakan harga tersebut dipicu oleh kenaikan harga energi global, penguatan permintaan minyak nabati dunia, serta pelemahan mata uang Malaysia yang membuat CPO semakin kompetitif di pasar internasional.

Berdasarkan data Refinitiv, harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Mei di Bursa Malaysia Derivatives Exchange pada perdagangan Jumat (6/3/2026) ditutup di level 4.367 ringgit Malaysia per ton. Angka ini melonjak sekitar 3,8% dalam sehari dan menjadi posisi tertinggi sejak 24 Oktober 2025 atau lebih dari empat bulan terakhir.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Secara mingguan, harga CPO tercatat melonjak 8,04%, yang merupakan kenaikan terbesar sejak November 2024.

BACA JUGA :  Inilah, 10 lokasi kawasan pelarangan penangkapan ikan sidat

Lonjakan harga CPO tidak hanya dipicu faktor energi global, tetapi juga meningkatnya daya saing minyak sawit dibandingkan minyak nabati lainnya.

Saat ini, harga minyak sawit relatif lebih murah dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, dan minyak bunga matahari di pasar internasional. Kondisi ini membuat CPO menjadi pilihan menarik bagi industri pangan maupun energi.

Bahkan, harga minyak sawit kini bergerak mendekati harga gasoil, yang berpotensi meningkatkan permintaan dari sektor energi, khususnya untuk produksi biofuel.

Namun, pelaku pasar juga tetap mewaspadai potensi gangguan distribusi minyak nabati global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah yang dapat memengaruhi jalur pengiriman komoditas dunia.

Sentimen positif juga datang dari pasar minyak nabati di China. Di Dalian Commodity Exchange, kontrak minyak kedelai tercatat naik sekitar 1,13%, sementara kontrak minyak sawit melonjak 2,33%.

BACA JUGA :  299 Pekon di Tanggamus Akan Miliki Pertashop

Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru turun sekitar 0,65%. Meski demikian, pergerakan harga minyak nabati global secara umum masih memberikan dukungan bagi penguatan harga CPO karena komoditas-komoditas tersebut saling bersaing dalam pasar yang sama.

Faktor lain yang ikut menopang kenaikan harga CPO adalah pelemahan Malaysian Ringgit terhadap dolar AS.

Sepanjang pekan ini, ringgit melemah sekitar 1,37%, sehingga membuat harga CPO Malaysia menjadi relatif lebih murah bagi pembeli internasional yang menggunakan mata uang dolar.

Kondisi ini meningkatkan daya tarik pembelian dari pasar global, sekaligus memperkuat sentimen positif bagi perdagangan minyak sawit dunia.

Lonjakan harga CPO juga dipicu oleh kenaikan tajam harga minyak dunia.

Harga Brent Crude Oil tercatat melonjak sekitar 28% dalam sepekan, sementara West Texas Intermediate (WTI) bahkan melesat sekitar 35% dalam periode yang sama.

BACA JUGA :  Satu Eskavator di Perkebunan Sawit PT Prima Alumga Mesuji Dibakar OTK?

Kenaikan ini merupakan salah satu lonjakan terbesar sejak tahun 1983 dan turut mendorong permintaan bahan baku bioenergi, termasuk minyak sawit.

Secara teknikal, analis komoditas Reuters Wang Tao memperkirakan harga CPO masih memiliki peluang melanjutkan kenaikan.

Menurutnya, harga saat ini berpotensi menguji level resistensi di 4.260 ringgit per ton. Jika mampu menembus level tersebut secara konsisten, harga CPO berpeluang naik menuju kisaran 4.337 ringgit per ton.

Dengan posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, lonjakan harga CPO ini berpotensi memberikan dampak positif bagi ekspor, pendapatan negara, serta kinerja industri sawit nasional dalam beberapa waktu ke depan.***