LAMPUNG TIMUR — Di tengah viralnya pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut “orang desa tidak pakai dolar”, kenyataan di lapangan justru menghadirkan ironi menarik yakni penguatan dolar Amerika Serikat dan gejolak pangan dunia malah ikut mendongkrak harga singkong di Lampung.
Komoditas yang selama ini identik dengan pangan “kelas bawah” kini mendadak menjadi primadona petani. Harga ubi kayu di sejumlah pabrik tapioka bahkan menembus Rp2.000 hingga Rp2.050 per kilogram angka yang beberapa bulan lalu nyaris dianggap mustahil oleh petani.
Kenaikan harga tersebut menjadi angin segar setelah sebelumnya petani singkong di Lampung sempat terpukul akibat harga yang anjlok di bawah Rp1.000 per kilogram sejak tahun lalu.
Kala itu, keluhan petani merebak di mana-mana. Demonstrasi hingga desakan kepada pemerintah pusat bermunculan karena harga singkong dianggap tak lagi sebanding dengan biaya tanam dan ongkos produksi.
Kini situasinya berbalik drastis. Dalam tiga bulan terakhir, harga singkong terus merangkak naik dan membuat banyak petani kembali bergairah menanam ubi kayu. Di sejumlah wilayah sentra produksi Lampung, suasana panen pun mulai terasa lebih “manis”.
Namun kenaikan harga ini bukan semata karena produksi melimpah. Justru sebaliknya, kelangkaan bahan baku disebutkan menjadi penyebab utama harga singkong melonjak tajam.
Banyak petani sebelumnya memilih meninggalkan singkong dan beralih ke jagung, padi, maupun tanaman lainnya yang dinilai lebih menguntungkan dalam beberapa musim terakhir.
Akibatnya, pasokan ubi kayu ke pabrik tapioka menurun drastis, sementara kebutuhan industri tetap tinggi.
Fenomena ini memperlihatkan satu hal yang sering luput dari perhatian ketika petani mulai meninggalkan suatu komoditas karena harga terlalu murah, pasar justru akan “menghukum” dengan lonjakan harga di kemudian hari.
Ironisnya, saat harga singkong sedang jatuh dulu, suara petani nyaris tenggelam. Namun ketika harga melonjak dan industri mulai kesulitan bahan baku, komoditas ini kembali ramai diperbincangkan.
Di sejumlah pabrik tapioka Lampung, harga singkong saat ini tercatat sebagai berikut:
- GB 7 Lampung Tengah: Rp2.050/kg dengan potongan 15 persen
- BKM (BX) Lampung Tengah: Rp2.000/kg dengan potongan 12 persen
- Sinar Laut Kalicinta, Kotabumi, Lampung Utara: Rp1.600/kg dengan potongan 15 persen
- Muara Jaya Lampung Timur: Rp2.050/kg dengan refaksi 15 persen
Harga tersebut jauh melampaui patokan harga singkong sebelumnya yang pernah ditetapkan Pemerintah Provinsi Lampung di kisaran Rp1.300-an per kilogram.
Meski demikian, petani masih berharap kenaikan harga tidak hanya bersifat sementara. Sebab dalam praktiknya, potongan kadar air dan refaksi di pabrik sering kali membuat hasil bersih yang diterima petani jauh lebih kecil dibanding harga di atas kertas.
Selain itu, lonjakan harga kebutuhan pokok, pupuk, dan biaya tenaga kerja juga tetap menjadi beban tersendiri bagi petani di lapangan.
Namun setidaknya untuk saat ini, singkong kembali memberi harapan.
Di tengah tekanan ekonomi desa dan naiknya biaya hidup, ubi kayu yang dulu kerap dipandang sebelah mata justru sedang menunjukkan bahwa komoditas lokal pun bisa ikut “bermain” dalam pusaran ekonomi global bahkan ketika dolar sedang perkasa.***













