JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sejak awal disebut bukan proyek bisnis. Namun di lapangan, program yang bertujuan memberi makanan layak bagi masyarakat miskin itu justru mulai dilirik sebagai “ladang usaha” oleh sejumlah pihak.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional bidang Komunikasi dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan MBG lahir dari pengalaman emosional Prabowo saat melihat kemiskinan ekstrem di kawasan Cilincing, Jakarta Utara pada 2012.
Saat itu, kata Nanik, Prabowo menyaksikan warga mengais sisa makanan buruh pabrik untuk dimakan kembali bersama keluarga. Pemandangan itu memicu kemarahan sekaligus tekadnya untuk memastikan anak-anak Indonesia tidak lagi kelaparan jika suatu saat memimpin negara.
“Pak Prabowo sangat marah melihat kondisi itu. Dari situ muncul tekad, kalau diberi amanah menjadi presiden, masyarakat terutama anak-anak harus mendapat makanan yang layak,” ujar Nanik sebagaimana dilansir Wawai News, Minggu (8/3).
Karena itulah MBG sejak awal dirancang sebagai investasi sosial, bukan proyek bisnis. Pemerintah bahkan memprioritaskan kerja sama dengan yayasan pendidikan, sosial, dan keagamaan untuk mengelola dapur program tersebut.
Logikanya sederhana: lembaga sosial yang selama ini membantu masyarakat juga mendapat dukungan untuk memperbaiki fasilitas sekolah, pesantren, atau kegiatan sosial mereka.
Namun realitas di lapangan ternyata lebih kreatif dari desain kebijakan.
Menurut Nanik, setelah target program diperluas, muncul fenomena yang ia sebut sebagai “peternak yayasan” pihak yang mendirikan yayasan hanya untuk mengelola dapur MBG, bahkan mengoperasikan lebih dari satu dapur sekaligus.
“Awalnya masih on track. Tapi setelah target makin tinggi, tiba-tiba banyak yayasan baru bermunculan. Ada yang punya lebih dari satu dapur,” ungkapnya.
Masalahnya, sebagian pengelola dapur itu mulai berpikir seperti pengusaha katering: menghitung untung-rugi, menekan biaya operasional, bahkan enggan mengganti peralatan rusak karena dianggap mengurangi margin.
Akibatnya, semangat kemanusiaan yang seharusnya menjadi ruh program berubah menjadi perhitungan bisnis ala spreadsheet.
BGN pun mengingatkan bahwa semua mitra sebenarnya hanya memiliki kontrak kerja sama satu tahun dan bisa dihentikan kapan saja jika tidak memenuhi standar.
“Kami akan luruskan lagi ke khitahnya. MBG itu program kemanusiaan, bukan bisnis. Kalau ada yang otaknya cuma mikir duit, nanti kita hapus,” tegas Nanik.***












