Scroll untuk baca artikel
Opini

Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan yang Terus Datang atau Sekadar Peristiwa Sejarah?

×

Lailatul Qadar: Malam Seribu Bulan yang Terus Datang atau Sekadar Peristiwa Sejarah?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi
Ilustrasi

Catatan – Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Setiap Ramadan, umat Islam menunggu satu malam yang disebut Al-Qur’an sebagai “lebih baik dari seribu bulan.” Malam itu adalah Lailatul Qadar malam yang diyakini penuh rahmat, pengampunan, dan penentuan takdir.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Masjid dipenuhi jamaah. Mushaf Al-Qur’an dibuka. Doa dipanjatkan hingga larut malam.

Namun di balik semangat spiritual itu, ada pertanyaan teologis yang jarang dibahas secara terbuka:

Apakah Lailatul Qadar hanya terjadi sekali dalam sejarah ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan atau ia benar-benar hadir setiap tahun?

Pertanyaan ini bukan sekadar akademik. Ia menyentuh cara umat Islam memahami waktu, wahyu, dan makna ibadah Ramadan.

BACA JUGA :  Malam Lailatul Qadar 2026 Diprediksi 14 Maret? Ini Penjelasan Kaidah Imam Al-Ghazali

Pendapat pertama menempatkan Lailatul Qadar sebagai peristiwa monumental dalam sejarah kenabian. Dasarnya adalah ayat pembuka Surah Al-Qadr:

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya pada malam kemuliaan.”

Ayat ini merujuk pada turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad. Dalam perspektif ini, kemuliaan Lailatul Qadar melekat pada momentum wahyu pertama.

Beberapa riwayat tafsir menisbatkan pandangan ini kepada ulama tabi’in seperti Ikrimah, murid dari Ibn Abbas.

Menurut pendekatan ini, Lailatul Qadar pada dasarnya adalah malam historis malam ketika langit dan bumi pertama kali terhubung melalui wahyu.

Jika demikian, kemuliaannya terikat pada peristiwa tunggal yang tidak berulang.

Namun pandangan ini tidak menjadi arus utama dalam tradisi keilmuan Islam.

Mayoritas ulama justru berpendapat bahwa Lailatul Qadar berulang setiap Ramadan.

BACA JUGA :  Catatan untuk rencana pemerintah Jokowi melegalkan 3,3 juta lahan sawit illegal

Pandangan ini dipegang oleh banyak tokoh besar dalam sejarah Islam seperti Ibn Taymiyyah, Al-Nawawi, dan Ibn Kathir.

Dalil paling kuat berasal dari hadis Nabi yang diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim:

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.”

“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.”

Sebagian ulama kemudian menyimpulkan pendekatan yang lebih komprehensif.

Lailatul Qadar memang pertama kali menjadi mulia karena turunnya Al-Qur’an, tetapi kemuliaannya tidak berhenti pada peristiwa tersebut.

Allah menjadikan malam itu tradisi langit yang terus hadir setiap Ramadan hingga akhir zaman.

Dengan kata lain:

  • Sejarahnya terjadi sekali
  • Kemuliaannya berulang setiap tahun

Pendekatan ini menjelaskan mengapa umat Islam sejak masa sahabat hingga hari ini tetap mencari Lailatul Qadar.

BACA JUGA :  Eskapisme, Eksternalitas dan Inferiorisme

Perdebatan tafsir ini menunjukkan satu hal penting: tradisi intelektual Islam selalu hidup dengan diskusi dan perbedaan pandangan.

Namun dalam praktik ibadah, umat Islam sebenarnya tidak pernah terpecah.

Semua sepakat melakukan hal yang sama: menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan salat malam, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.

Sebab pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan hanya persoalan kapan ia datang.

Yang lebih penting adalah siapa yang siap menyambutnya.

Karena bisa jadi malam itu datang… tetapi hati kita justru sedang sibuk dengan dunia.

Dan jika itu terjadi, maka yang hilang bukan hanya satu malam.

Melainkan kesempatan ibadah yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.***