Scroll untuk baca artikel
Opini

Silmy Diciduk, Sjafrie Ditinggal? Drama Istana yang Bikin Elite Deg-degan

×

Silmy Diciduk, Sjafrie Ditinggal? Drama Istana yang Bikin Elite Deg-degan

Sebarkan artikel ini
Wakil Menteri Imipas, Silmy Karim, tampak mengenakan rompi tahanan berwarna oranye saat berada di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, Kamis (4/6/2026).- foto dok ist

Oleh: Fernando Emas Direktur Rumah Politik Indonesia

WAWAINEWS.ID – Penangkapan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Silmy Karim, oleh KPK sontak mengundang berbagai tafsir politik. Sebab, perkara yang menyeret namanya disebut berkaitan dengan dugaan praktik pemerasan terhadap warga negara asing dalam pengurusan izin tinggal yang diduga berlangsung sejak dirinya menjabat Dirjen Imigrasi hingga menjadi wakil menteri.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Secara hukum, tentu publik harus mengedepankan asas praduga tak bersalah. Namun dalam politik, sebuah penangkapan terhadap pejabat tinggi hampir selalu melahirkan pertanyaan yang lebih besar: siapa yang sebenarnya sedang kehilangan pengaruh?

Bagi mereka yang mengikuti dinamika kekuasaan nasional, nama Silmy Karim bukan sosok yang berdiri sendiri. Ia selama ini dikenal memiliki kedekatan dengan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin. Kedekatan yang oleh banyak pengamat dianggap turut membuka jalan kariernya di berbagai posisi strategis, mulai dari BUMN, Kementerian Pertahanan hingga akhirnya masuk ke Kabinet Merah Putih.

Karena itu, ketika Silmy tersandung perkara hukum, sebagian kalangan tidak hanya melihatnya sebagai persoalan individu, melainkan juga sebagai sinyal politik yang lebih luas.

Ketika Orang Dekat Tersentuh, Pesan Politik Biasanya Ikut Terkirim

Dalam dunia politik Indonesia, ada ungkapan lama: kalau pohonnya sulit ditebang, biasanya rantingnya yang mulai dipangkas lebih dulu.

Apakah penangkapan Silmy merupakan bagian dari upaya melemahkan pengaruh kelompok tertentu di sekitar Presiden Prabowo Subianto?

BACA JUGA :  Serudukan Banteng Itu (Sepertinya) Akan Disegerakan

Tentu belum ada bukti yang mengarah ke sana. Namun spekulasi itu muncul karena selama beberapa waktu terakhir publik disuguhi berbagai kabar mengenai adanya persaingan pengaruh di lingkaran dalam kekuasaan.

Nama Sjafrie Sjamsoeddin dan Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad kerap disebut berada dalam dua poros yang memiliki akses kuat terhadap Presiden Prabowo. Meski tidak pernah diakui secara terbuka, isu rivalitas tersebut terus menjadi bahan pembicaraan di kalangan politik.

Maka ketika orang yang dikenal dekat dengan Sjafrie terseret kasus hukum, sementara figur lain terlihat semakin dominan dalam berbagai agenda strategis pemerintahan, tafsir politik pun bermunculan.

Prancis, Pertahanan, dan Pertanyaan yang Menggantung

Salah satu hal yang menarik perhatian publik adalah kunjungan Presiden Prabowo ke Prancis yang banyak membahas isu pertahanan dan kerja sama militer.

Yang kemudian menjadi bahan bisik-bisik politik adalah absennya Menteri Pertahanan Sjafrie dalam agenda yang justru berkaitan langsung dengan bidang yang dipimpinnya.

BACA JUGA :  Sandera Kasus Hukum dan Kemenangan Rakyat

Dalam politik, ketidakhadiran kadang lebih nyaring daripada kehadiran.

Tentu saja ada banyak alasan administratif atau teknis yang bisa menjelaskan situasi tersebut. Namun bagi para pembaca peta kekuasaan, momen itu dianggap sebagai petunjuk bahwa ada perubahan konfigurasi di sekitar Presiden.

Survei Capres dan Alarm Kekuasaan

Politik Indonesia memiliki satu hukum tidak tertulis: loyalitas sangat dihargai, tetapi popularitas yang tumbuh terlalu cepat kadang bisa menimbulkan tanda tanya.

Beberapa waktu lalu, nama Sjafrie sempat muncul dalam sejumlah survei sebagai figur potensial dalam bursa calon presiden masa depan. Meski masih jauh dari kontestasi nyata, kemunculan nama tersebut bisa saja menimbulkan berbagai persepsi di lingkar kekuasaan.

Apakah hal itu membuat jarak politik mulai terbentuk?

Belum tentu.

Namun sejarah politik Indonesia menunjukkan bahwa hubungan antara pemimpin dan orang-orang terdekatnya sering kali berubah bukan karena konflik terbuka, melainkan karena perubahan tingkat kepercayaan.

Dasco Makin Moncer?

Di tengah berbagai spekulasi tersebut, satu nama yang terlihat semakin sering muncul dalam berbagai agenda penting adalah Sufmi Dasco Ahmad.

Jika benar terjadi pergeseran pengaruh di sekitar Presiden, maka Dasco berpotensi menjadi salah satu figur yang paling diuntungkan. Akses politik yang kuat, posisi strategis di partai, serta kedekatan dengan pusat kekuasaan membuat perannya terlihat semakin menonjol.

BACA JUGA :  Kemarau Epistemik Tempo

Ibarat pertandingan sepak bola, ketika satu pemain mulai sering duduk di bangku cadangan, biasanya ada pemain lain yang semakin sering mendapat menit bermain.

Politik Itu Bukan Persahabatan, Tapi Kepentingan

Penangkapan Silmy Karim tentu harus dilihat pertama-tama sebagai proses hukum. Namun di negeri yang politiknya sering lebih ramai daripada sinetron jam tayang utama, publik akan terus mengaitkan setiap peristiwa dengan peta kekuasaan yang sedang bergerak.

Apakah ini awal meredupnya pengaruh Sjafrie Sjamsoeddin?

Apakah Prabowo sedang melakukan penyaringan ulang terhadap lingkaran terdekatnya?

Apakah Dasco akan menjadi figur yang semakin dominan di Istana?

Jawabannya mungkin belum terlihat hari ini. Tetapi satu hal yang pasti, dalam politik tidak ada kursi yang benar-benar permanen. Hari ini duduk di barisan depan, besok bisa saja diminta bergeser ke belakang.

Karena dalam politik Indonesia, yang paling berbahaya bukanlah lawan yang menyerang dari luar, melainkan perubahan arah angin yang datang dari dalam istana. ***