Scroll untuk baca artikel
Ekonomi

Proyek Bioetanol Raksasa di Lampung Resmi Digas! Pemerintah Target Lepas dari Ketergantungan Impor BBM

×

Proyek Bioetanol Raksasa di Lampung Resmi Digas! Pemerintah Target Lepas dari Ketergantungan Impor BBM

Sebarkan artikel ini
foto Kementerian Investasi /BKPM

JAKARTA – Pemerintah mulai tancap gas mempercepat transisi energi nasional lewat proyek ambisius: pengembangan bioetanol skala besar di Lampung. Tak tanggung-tanggung, proyek ini menggandeng raksasa otomotif Jepang Toyota Tsusho, anak usaha energi baru Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), serta Danantara Investment Management.

Proyek ini bukan sekadar wacana. Pemerintah menargetkan konstruksi dimulai pada kuartal III 2026, dengan tujuan besar: mengurangi ketergantungan impor BBM yang selama ini masih tinggi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Program ini sebenarnya sudah berjalan setahun terakhir, hanya saja pengembangannya dilakukan secara silent. Sekarang sudah masuk tahap koordinasi konkret,” ujar Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, Selasa (21/4/2026).

BACA JUGA :  Gandasari Trading Corp Terima Penghargaan Bea Cukai Bekasi Award 2024

Lampung dipilih bukan tanpa alasan. Provinsi ini punya keunggulan bahan baku (feedstock) melimpah:

  • Tebu
  • Ubi
  • Sorgum
  • Limbah biomassa sawit

Artinya, Lampung diproyeksikan jadi “lumbung bioetanol nasional”, bukan sekadar daerah produksi biasa.

Pemerintah bahkan sudah melakukan pengawalan intensif sejak akhir 2025, mulai dari koordinasi lintas kementerian, penjajakan mitra Jepang, hingga survei lokasi langsung di lapangan.

Proyek ini dirancang bertahap agar tidak sekadar ambisi di atas kertas:

BACA JUGA :  Harga Singkong di Lampung Anjlok, Begini Kata Pengamat Ekonomi

Tahap 1 (Pilot Project)

  • Kapasitas: 60 kiloliter/tahun
  • Target: Kuartal III 2027

Tahap 2 (Komersial)

  • Kapasitas: 60.000 kiloliter/tahun
  • Target: Kuartal IV 2028

Skalanya melonjak drastis. Dari proyek uji coba kecil, langsung menuju produksi industri besar.

Yang menarik, proyek ini mengadopsi teknologi generasi kedua (2G) yang memungkinkan penggunaan berbagai bahan baku sekaligus.

Selain itu, pengembangan juga melibatkan konsorsium riset Jepang seperti RaBIT, yang berfokus pada inovasi energi dan otomotif.

Pendekatan ini membuat produksi bioetanol lebih fleksibel dan berkelanjutan—tidak tergantung satu komoditas saja.

BACA JUGA :  Gaido Travel & Tours Salurkan Donasi Rp1 M ke Masyarakat Terdampak Covid-19

Pengembangan bahan baku juga disiapkan serius.

  • 2026: Pilot penanaman sorgum seluas 10 hektare
  • 2027: Ekspansi hingga 6.000 hektare

Lahan akan didukung oleh PTPN, menjadikan proyek ini terintegrasi dari hulu ke hilir.

Target Besar: E5, E10, Hingga E20

Proyek ini juga jadi bagian dari roadmap nasional energi:

  • E5 (2026–2027) → Campuran 5% bioetanol
  • E10 (2028–2030) → Campuran 10%
  • E20 (jangka panjang) → Target ambisius

“Kita dorong proyek ini untuk mendukung kesiapan menuju E10. Negara harus siap,” tegas Todotua.