Scroll untuk baca artikel
Opini

Timor dalam Nagarakretagama: Jejak Nusantara yang Dipatahkan Kolonialisme

×

Timor dalam Nagarakretagama: Jejak Nusantara yang Dipatahkan Kolonialisme

Sebarkan artikel ini
Timor dalam Nagarakretagama

Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi

WawaiNEWS.ID – Membaca sejarah politik Nusantara abad ke-14, Nagarakretagama selalu menjadi salah satu pintu masuk terpenting untuk memahami bagaimana Majapahit memandang dunia di sekelilingnya. Kakawin yang ditulis Mpu Prapanca pada 1365 itu bukan sekadar puisi pujian kerajaan, melainkan dokumen politik yang memetakan cakupan pengaruh, jaringan relasi, serta imajinasi geopolitik zamannya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Di dalam teks itu, nama Timor disebut sebagai bagian dari lingkup yang terhubung dengan Majapahit. Bagi pembacaan modern, penyebutan ini hampir pasti merujuk pada Pulau Timor wilayah yang kini terbelah menjadi dua entitas politik: Indonesia dan Timor-Leste.

Fakta ini penting. Sebab jauh sebelum lahirnya paspor, imigrasi, pagar perbatasan, dan cap stempel negara modern, Timor telah masuk dalam cakrawala politik Nusantara. Ia bukan pulau asing yang berdiri sendiri di pinggir peta, melainkan simpul dalam jaringan maritim yang hidup dan bergerak.

Nusantara Bukan Gugusan Pulau Terpisah

Kesalahan terbesar cara pandang modern adalah melihat masa lalu kepulauan ini sebagai kumpulan pulau yang saling terisolasi. Padahal sumber-sumber sejarah menunjukkan hal sebaliknya.

Catatan Dinasti Ming dari Tiongkok menggambarkan Jawa sebagai pusat penting perdagangan dan diplomasi Asia Tenggara. Kapal-kapal datang dan pergi, membawa barang, utusan, berita, dan kepentingan politik. Jawa menjadi salah satu poros utama lalu lintas kawasan.

BACA JUGA :  Anis Baswedan Tidak Memiliki Loyalis Organik

Tomé Pires dalam Suma Oriental pada awal abad ke-16 juga menunjukkan bahwa wilayah kepulauan ini telah lama terhubung dalam jaringan ekonomi besar. Rempah dari Maluku bergerak ke barat. Beras dari Jawa mengalir ke berbagai pelabuhan. Kayu cendana dari Timor menjadi komoditas bernilai tinggi yang dicari pasar internasional.

Artinya, Nusantara kala itu bukan serpihan geografis yang tercerai-berai, tetapi satu ekosistem maritim. Laut bukan pemisah, melainkan jalan raya utama.

Timor: Pinggiran yang Sesungguhnya Pusat

Dalam narasi kolonial, wilayah timur kerap diposisikan sebagai daerah pinggiran. Terbelakang. Jauh dari pusat peradaban. Tetapi sejarah membantah stereotip itu.

Timor sejak lama dikenal karena kayu cendananya komoditas mewah bernilai tinggi untuk ritual, obat, dan perdagangan internasional. Karena itu, Timor justru penting dalam arus ekonomi kawasan. Ia bukan halaman belakang, melainkan salah satu ruang strategis.

Penyebutan Timor dalam Nagarakretagama menegaskan bahwa Majapahit memahami nilai strategis kawasan itu. Hubungan dengan Timor kemungkinan berbentuk perdagangan, tributari, diplomasi, atau pengakuan simbolik. Tidak harus berarti pendudukan militer permanen seperti model negara modern.

Majapahit Bukan Negara Modern

Di sinilah banyak orang salah kaprah. Ketika mendengar “wilayah Majapahit”, sebagian membayangkan peta dengan garis tegas seperti atlas sekolah. Seolah-olah sudah ada kantor kecamatan, sertifikat tanah, dan papan “Selamat Datang di Kabupaten Majapahit Barat”.

BACA JUGA :  Muslim Nasionalis dan Transnasionalis

Padahal struktur politik Asia Tenggara kala itu lebih tepat dipahami melalui konsep mandala: pusat kekuasaan kuat dengan lingkar pengaruh yang makin longgar ke luar. Kekuasaan ditentukan oleh loyalitas, hubungan dagang, perkawinan politik, dan kemampuan memobilisasi jaringan bukan garis batas lurus di atas kertas.

Karena itu, Timor dalam konteks Majapahit bukan berarti provinsi administratif. Ia adalah bagian dari orbit pengaruh sebuah pusat kekuasaan maritim.

Datangnya Kolonialisme: Saat Peta Dibekukan

Semua berubah ketika bangsa Eropa datang. Portugis, lalu Belanda, membawa logika baru: wilayah harus dipatok, dipetakan, dibagi, dan dimiliki secara eksklusif.

Dunia maritim Nusantara yang cair dan lentur dipaksa masuk ke kotak-kotak kolonial. Jalur dagang lama dipecah. Relasi antarpulau diputus. Batas yang dulu lentur menjadi pagar kaku.

Pulau Timor menjadi contoh telanjang. Satu pulau dibelah antara Portugis dan Belanda. Warisan pembelahan itu terus berlanjut hingga lahir Timor Timur, konflik panjang, referendum, dan akhirnya Timor-Leste merdeka.

Kolonialisme bukan sekadar mengambil rempah dan tanah. Ia juga merusak memori keterhubungan.

Warisan yang Masih Kita Tanggung

Hari ini Indonesia dan Timor-Leste berdiri sebagai dua negara sahabat dan berdaulat. Namun batas politik yang memisahkan keduanya adalah hasil sejarah kolonial yang relatif baru jika dibanding usia panjang hubungan antarwarga di kawasan itu.

BACA JUGA :  Habis Mega Bintang, Terbitlah Mega Anies

Masyarakat di perbatasan masih berbagi bahasa, adat, garis keluarga, dan jejak sejarah yang jauh lebih tua daripada pagar negara. Ini bukti bahwa identitas sosial sering kali lebih kuat dan lebih tua daripada konstruksi politik modern.

Membaca Ulang Timor dalam Nagarakretagama

Karena itu, penyebutan Timor dalam Nagarakretagama seharusnya tidak dibaca sempit sebagai klaim teritorial kuno yang dipakai untuk debat nasionalisme murahan. Itu cara baca malas dan ahistoris.

Yang lebih penting, ia adalah jejak bahwa pernah ada dunia Nusantara yang terhubung oleh laut, perdagangan, budaya, dan diplomasi. Dunia yang tidak mengenal tembok tinggi antarbangsa. Dunia yang dipreteli kolonialisme lalu diwariskan kepada kita dalam bentuk batas-batas yang sering kita anggap alamiah.

Padahal tidak. Banyak batas negara modern adalah bekas goresan pena penjajah.

Penutup

Timor dalam Nagarakretagama bukan sekadar nama tempat di naskah tua. Ia adalah pengingat bahwa Asia Tenggara pernah memiliki tata dunia sendiri sebelum datang kapal-kapal Eropa membawa meriam, salib, dan peta.

Dan mungkin, jika ingin membangun masa depan kawasan yang lebih damai dan setara, kita perlu mengingat kembali sejarah keterhubungan itu bukan terus mabuk oleh warisan sekat kolonial.

Abdul Rohman Sukardi
Abdul Rohman Sukardi

Jakarta, ARS
(Abdul Rohman Sukardi – Eksponen Aktivis 98, Esais & Penulis Independen).***