MAJALENGKA — Bandara Internasional Bandara Kertajati yang selama ini lebih sering dijadikan bahan candaan netizen karena minim penerbangan komersial, kini justru dilirik untuk proyek strategis bertaraf internasional.
Pemerintah Indonesia berencana mengubah Kertajati menjadi pusat perawatan pesawat tempur dan angkut berat C-130 Hercules untuk kawasan Asia. Dari bandara yang dulu kerap disebut “megah tapi lengang”, Kertajati kini diproyeksikan menjadi bengkel raksasa pesawat militer kelas dunia.
Rencana itu mencuat setelah Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin melakukan pertemuan dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth di Pentagon beberapa waktu lalu.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Amerika Serikat disebut menawarkan kerja sama pembangunan pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130 Hercules di Indonesia. Menariknya, fasilitas itu disebut akan menjadi pusat pemeliharaan Hercules untuk seluruh kawasan Asia.
“Dia menawarkan, bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia dipusatkan di Indonesia atas biaya mereka,” ujar Sjafrie saat rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, Jumat (22/5/2026).
Sjafrie mengaku tak langsung memberikan jawaban. Ia terlebih dahulu melaporkan tawaran itu kepada Presiden Prabowo Subianto.
Respons Presiden disebut singkat, tetapi langsung mengarah ke satu lokasi.
“Kasih Kertajati,” kata Sjafrie menirukan arahan Presiden.
Pernyataan itu sontak memunculkan spekulasi baru: apakah Kertajati akhirnya menemukan “takdir hidupnya” setelah bertahun-tahun dicap bandara megah dengan jadwal penerbangan yang lebih sunyi dibanding grup WhatsApp keluarga usai Lebaran?
Selama beberapa tahun terakhir, Bandara Kertajati memang kerap menjadi sorotan. Infrastruktur modern dan landasan luas tak selalu sejalan dengan tingginya aktivitas penerbangan. Bahkan di media sosial, bandara ini beberapa kali dijuluki “bandara rasa private jet” karena suasananya yang terlalu lengang.
Namun di balik sepinya penerbangan sipil, Kertajati ternyata menyimpan modal besar untuk pengembangan industri aviasi. Salah satunya adalah keberadaan kawasan GMF AeroAsia di Kertajati Aerospace Park seluas sekitar 84,2 hektare yang memang disiapkan sebagai pusat perawatan pesawat.
Meski masih dalam tahap awal pembangunan, kawasan tersebut dinilai sangat potensial untuk menopang proyek MRO berskala internasional.
Selain itu, Kertajati juga mulai menunjukkan denyut aktivitas baru sejak digunakan sebagai titik keberangkatan jamaah haji pada 2024 lalu.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pun menyebut lahan Kertajati masih sangat memadai untuk pengembangan fasilitas MRO.
“Lahan Kertajati masih cukup memadai,” ujarnya.
Menurut Dudy, kerja sama pengadaan pesawat militer umumnya memang dibarengi dengan sistem pemeliharaan dan dukungan teknis jangka panjang.
“Kalau Kementerian Pertahanan melakukan pengadaan Hercules, biasanya mereka juga bekerja sama dalam penyelenggaraan maintenance,” katanya.
Jika proyek ini benar-benar terealisasi, maka posisi Indonesia dalam industri perawatan pesawat militer regional akan melonjak signifikan. Kertajati tak lagi sekadar bandara alternatif, melainkan bisa menjadi pusat strategis aviasi pertahanan Asia.
Efek ekonominya pun diprediksi besar. Mulai dari penyerapan tenaga kerja teknisi penerbangan, pertumbuhan industri pendukung aerospace, hingga peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah Majalengka dan Jawa Barat.
Di sisi lain, proyek ini juga menjadi semacam “balas dendam infrastruktur”. Setelah lama dipertanyakan efektivitasnya, Kertajati kini justru berpeluang menjadi aset pertahanan dan industri strategis bernilai tinggi.
Karena kadang dalam hidup, termasuk nasib bandara, yang terlihat sepi belum tentu gagal. Bisa jadi hanya sedang menunggu panggilan besar datang dari Pentagon.***













