Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Lautan Slankers Guncang Palembang: Konser HS Hey Slank ‘Berani Kita Beda Tour’ Pecah Total!

×

Lautan Slankers Guncang Palembang: Konser HS Hey Slank ‘Berani Kita Beda Tour’ Pecah Total!

Sebarkan artikel ini
Foto suasana Baper Massal, momen ribuan slankers kompak nyanyi 'Terlalu Mani' di Konser HS Hey Slank bertajuk “Berani Kita Beda Tour” sesi ketujuh digelar di Palembang, Sumatera Selatan, Minggu (24/5/2026) malam.- foto dok/Jali

PALEMBANG – Slank kembali membuktikan satu hal yakni zaman boleh berubah, genre musik boleh berganti, tapi Slankers tetap punya cara sendiri mengubah lapangan jadi lautan manusia. Minggu malam (24/5/2026), kawasan Jakabaring, Palembang, berubah menjadi arena nostalgia massal dalam gelaran HS Hey Slank “Berani Kita Beda Tour” sesi ketujuh.

Bukan tiket digital, barcode, atau aplikasi mahal yang jadi syarat masuk konser kali ini. Cukup membawa dua bungkus rokok HS Mild atau Slim yang masih bersegel lengkap dengan cukainya, ribuan orang langsung bisa bergabung dalam pesta musik yang riuh sejak sore hingga malam. Sebuah konsep konser yang sukses membuat industri hiburan dan industri tembakau berjalan beriringan di tengah gegap gempita musik rock jalanan khas Slank.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Jakabaring pun mendadak sesak. Dari anak muda, komunitas Vespa, penggemar lawas, hingga Slankers lintas generasi tumpah ruah memenuhi area konser. Mereka datang bukan sekadar menonton, tetapi merayakan memori kolektif tentang lagu-lagu yang sejak dulu menemani patah hati, kritik sosial, sampai perjalanan hidup.

Suasana Konser HS Hey Slank ‘Berani Kita Beda Tour’ pecah ketika Kaka naik ke atas panggung. Ribuan suara langsung bersatu menyanyikan lagu demi lagu. Tak ada sekat VIP yang terlalu terasa. Yang ada hanya satu identitas yakni Slankers.

BACA JUGA :  KDM Cetak Kelas Menengah Baru di Jabar, Anak Miskin Didorong Masuk Sekolah Industri Unggulan

Vokalis Kaka mengaku antusias kembali menyapa penggemar di Palembang. Menurutnya, Sumatera Selatan merupakan salah satu basis Slankers terbesar di Pulau Sumatera.

“Gara-gara HS ini Slank bisa datang ke Palembang. Banyak yang mensyukuri, termasuk saya,” ujar Kaka saat konferensi pers minggu pagi jelang Konser HS Hey Slank ‘Berani Kita Beda Tour’.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi cukup menggambarkan bagaimana konser ini bukan sekadar panggung musik. Ada mesin bisnis besar yang bekerja di belakangnya. Musik, komunitas, rokok, UMKM, hingga branding sosial dilebur jadi satu paket hiburan rakyat.

Tak tanggung-tanggung, konser ini juga menghadirkan sederet nama nasional seperti Tony Q Rastafara, Superiots, dan Stand Here Alone. Sementara musisi lokal Palembang seperti Mahalara dan Kopral Jono ikut memanaskan atmosfer.

Yang menarik, dua band hasil audisi lokal D’Aterix dan Brainfreeze ikut diberi panggung. Di tengah industri musik yang sering hanya memutar nama-nama lama, langkah ini terasa seperti oase kecil bagi band independen daerah yang biasanya cuma jadi penonton di kotanya sendiri.

Sebelum konser dimulai, ratusan komunitas motor dan Vespa juga melakukan riding melintasi sejumlah titik ikonik Palembang. Kota Wong Kito malam itu benar-benar seperti sedang menggelar festival rakyat versi Slankers: bising, padat, bebas, tapi tetap penuh solidaritas.

BACA JUGA :  4 Pelaku Pengeroyok Wartawan Media Online di Madina Diringkus

Direktur Komersial HS, Tessa Arya Pradana, menyebut Palembang dipilih karena memiliki kedekatan emosional dengan owner HS, Haji Suryo, yang berasal dari Sumatera.

“Pak Haji Suryo lahir di Lampung, besar di Bengkulu. Beliau dari Sumatera, wong kito lah!”

Namun di balik romantisme konser dan jargon “Berani Kita Beda”, terselip fakta bisnis yang tak kalah menarik. Sumatera disebut menyumbang sekitar 25 persen penjualan HS atau setara 135 juta batang rokok. Angka yang menunjukkan bahwa konser musik kini bukan lagi sekadar hiburan, tetapi juga strategi pemasaran paling efektif untuk mendekati pasar anak muda dan komunitas.

Tessa bahkan mengakui penjualan HS di Palembang meningkat signifikan dalam tiga bulan terakhir.

“Untuk perusahaan rokok yang belum dua tahun, itu signifikan. Makanya kami buka pabrik di Lampung.”

Kolaborasi Slank dan HS sendiri disebut bukan semata urusan sponsor. Ivanka menilai HS punya visi pemberdayaan yang sejalan dengan komunitas Slankerspreneur wadah UMKM milik para Slankers.

“Belum pernah kita tour yang sponsornya fasilitasi UMKM untuk jualan,” kata Ivanka.

Di titik ini, konser berubah menjadi lebih dari sekadar hiburan. Ada narasi pemberdayaan, ada semangat komunitas, ada bisnis, ada citra sosial, semuanya bercampur dalam satu panggung penuh distorsi gitar dan kepulan asap rokok.

HS juga mengklaim telah mempekerjakan ratusan pekerja disabilitas dan ribuan tenaga kerja tanpa pengalaman sebelumnya. Sebuah narasi inklusif yang tentu terdengar manis di tengah kerasnya persaingan industri.

Terlepas dari semua dinamika itu, satu hal sulit dibantah bahwa Slank masih punya magnet besar. Setelah puluhan tahun berdiri, mereka tetap mampu mengumpulkan ribuan orang hanya dengan gitar, lagu-lagu sederhana, dan nostalgia yang tidak pernah mati.

Palembang malam itu bukan cuma venue konser. Ia berubah menjadi ruang temu lintas generasi, tempat para Slankers kembali merasa muda, bebas, dan sedikit lupa pada kerasnya hidup meski hanya untuk semalam.

Dan seperti biasa, ketika konser usai, yang tersisa bukan cuma sampah bungkus rokok dan suara serak penonton. Tapi juga satu pertanyaan klasik, apakah Slank yang mengikuti zaman, atau justru zaman yang diam-diam masih mengikuti Slank?

Ribuan penonton kompak sing along bareng Slank di Konser HS Palembang, bikin suasana berubah jadi penuh nostalgia dan merinding bareng-bareng.

Dari lirik pertama sampai akhir, semua larut dalam satu suara. Palembang malam ini bukan cuma rame, tapi penuh kenangan.***