JAKARTA – Pasar keuangan Indonesia dihantam sentimen negatif bertubi-tubi menjelang akhir pekan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali loyo dan menunjukkan tren melemah yang mengkhawatirkan. Kondisi ini kian diperparah oleh rontoknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat aksi angkat kaki massal para investor asing.
Berdasarkan data penutupan perdagangan pada Jumat (29/5/2026), mata uang Garuda terkapar melemah 35 poin atau minus 0,20 persen. Rupiah kini terpuruk di level Rp 17.881 per dolar AS, merosot dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di angka Rp 17.846 per dolar AS.
Kurs JISDOR BI Ikut Ambles
Kejatuhan rupiah ini tidak hanya terjadi di pasar spot. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga mencatat pelemahan yang cukup tajam.
Hari ini, kurs referensi JISDOR merosot ke level Rp 17.883 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan signifikan dibanding hari sebelumnya yang bertengger di posisi Rp 17.789 per dolar AS.
Pelemahan ini semakin mendekatkan mata uang Indonesia ke zona psikologis baru yang rawan, yakni Rp 18.000 per dolar AS.
IHSG dan Saham Unggulan LQ45 Ikut Terkapar Akibat Rebalancing MSCI
Sentimen negatif tidak berhenti di sektor mata uang. Lantai bursa tanah air pun ikut kebakaran. IHSG di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada Jumat sore seiring dengan masifnya aksi jual oleh investor kakap.
Penyebab Utama: Investor utama asing dilaporkan tengah gencar mengalihkan dana mereka keluar dari pasar saham domestik. Langkah ini dilakukan dalam rangka penyesuaian (rebalancing) portofolio terhadap indeks global terkemuka, Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Berikut adalah potret merah membara penutupan pasar saham sore ini:Indeks Saham Posisi Penutupan Pelemahan (Poin) Persentase (%) IHSG 6.127,38 Turun 2,81 poin -0,05% Indeks LQ45 (Saham Unggulan) 611,17 Turun 9,23 poin -1,49%
Koreksi tajam pada Indeks LQ45 hingga mendekati 1,5 persen mengindikasikan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) yang biasanya menjadi motor penggerak bursa, justru menjadi korban utama dari aksi lepas saham oleh investor asing kali ini.
Para pelaku pasar kini bersiap mengantisipasi langkah dan intervensi yang akan diambil oleh Bank Indonesia guna menahan laju pelemahan rupiah agar tidak berdampak lebih buruk pada stabilitas ekonomi nasional di awal pekan depan.***








