Scroll untuk baca artikel
Olahraga

PSG Juara Liga Champions Lagi, Luis Enrique Resmi Naik Kelas Setara Guardiola, Arsenal Pulang Membawa Luka

×

PSG Juara Liga Champions Lagi, Luis Enrique Resmi Naik Kelas Setara Guardiola, Arsenal Pulang Membawa Luka

Sebarkan artikel ini
PSG berhasil kembali jadi juara Liga Champions usai mengalahkan Arsenal lewat adu penalti dengan skor akhir 4-3 dalam final yang digelar di Puskas Arena, Hungaria pada waktu setempat Sabtu (30/5) - (Reuters/Phil Noble)

BUDAPEST – Jika selama bertahun-tahun Paris Saint-Germain (PSG) dicap sebagai klub kaya yang hobi belanja pemain bintang tetapi alergi terhadap trofi Liga Champions, maka era itu kini resmi berakhir.

Di bawah komando Luis Enrique, PSG kembali menaklukkan Eropa setelah menundukkan Arsenal lewat drama adu penalti 4-3 usai bermain imbang 1-1 pada final Liga Champions 2025/2026 di Puskas Arena, Budapest, Sabtu (30/5/2026) malam WIB.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Kemenangan ini bukan sekadar menambah koleksi trofi di lemari PSG. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi pengukuhan status Luis Enrique sebagai salah satu pelatih terbaik generasinya.

Jika sebelumnya perdebatan selalu berkutat pada nama Pep Guardiola, kini publik sepak bola Eropa harus memberi ruang bagi satu nama lain yang berdiri sejajar: Luis Enrique.

Data Squawka mencatat, Enrique menjadi pelatih asal Spanyol kedua yang berhasil mengoleksi tiga gelar Liga Champions.

Sebelumnya hanya Guardiola yang mampu mencapai level tersebut.

Menariknya, keduanya menorehkan prestasi itu bersama dua klub berbeda.

Guardiola meraih dua gelar bersama Barcelona dan satu gelar bersama Manchester City.

BACA JUGA :  Atlet Peparnas Jabar Peraih Medali Bakal Diguyur Bonus, Nilainya Sama dengan Atlet PON

Sementara Enrique memenangkan satu trofi bersama Barcelona dan kini dua gelar bersama PSG.

Lebih unik lagi, keduanya sama-sama menjadi arsitek yang menghadirkan gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub.

Guardiola melakukannya bersama Manchester City pada musim 2022/2023.

Enrique melakukan hal serupa bersama PSG pada musim 2024/2025 sebelum kembali mengulanginya musim ini.

Jika dulu PSG identik dengan proyek mahal yang sering tersandung di babak-babak krusial, kini mereka berubah menjadi mesin pemenang yang jauh lebih matang.

Dan di balik transformasi itu berdiri sosok Luis Enrique.

Arsenal, Tak Terkalahkan Sampai Bertemu Takdir

Di sisi lain, Arsenal harus menerima kenyataan pahit.

Perjalanan luar biasa yang mereka bangun sejak fase liga akhirnya runtuh tepat di garis finis.

Yang membuat kekalahan ini terasa lebih menyakitkan adalah fakta bahwa The Gunners datang ke final dengan status belum terkalahkan sepanjang kompetisi.

Tim asuhan Mikel Arteta tampil dominan sejak fase liga.

Mereka menghajar Atletico Madrid 4-0, menumbangkan Bayern Munich 3-1, mengalahkan Inter Milan 3-1, hingga menutup fase awal dengan sederet kemenangan meyakinkan.

BACA JUGA :  Menuju Porprov Jabar XV, Bekasi Bangun Lapangan Voli Pasir di Bantargebang

Di fase gugur, Arsenal juga tampil nyaris sempurna.

Bayer Leverkusen, Sporting CP, hingga Atletico Madrid gagal menghentikan langkah mereka menuju Budapest.

Namun sepak bola sering kali memiliki selera humor yang kejam.

Setelah melewati begitu banyak rintangan, Arsenal justru tersandung di langkah terakhir.

Ibarat pelari maraton yang memimpin sejak kilometer pertama, tetapi terpeleset tepat beberapa meter sebelum garis finis.

Semua kerja keras selama berbulan-bulan tetap tercatat dalam sejarah, tetapi trofi akhirnya terbang ke Paris.

PSG Tak Lagi Sekadar Klub Sultan

Gelar kedua Liga Champions secara beruntun menjadi bukti bahwa PSG kini bukan lagi sekadar klub dengan rekening tebal.

Mereka telah berkembang menjadi kekuatan sepak bola yang benar-benar matang.

Dulu kritik terhadap PSG selalu sama: banyak bintang, sedikit karakter.

Kini narasi itu berubah.

PSG berhasil membuktikan bahwa proyek olahraga mereka tidak hanya bergantung pada uang, tetapi juga pada fondasi taktik, mental juara, dan kepemimpinan yang kuat.

Luis Enrique menjadi sosok sentral dari perubahan tersebut.

Ia datang ketika banyak pihak meragukan masa depan PSG pasca era megabintang.

BACA JUGA :  Piala Soeratin Tasikmalaya Bukti Regenerasi Sepak Bola Muda Berkualitas

Namun alih-alih meredup, klub asal Paris itu justru menemukan identitas baru.

Dan identitas itu kini menghasilkan dua trofi Liga Champions beruntun.

Guardiola Tidak Lagi Sendirian

Selama satu dekade terakhir, Guardiola kerap dianggap sebagai standar emas pelatih modern.

Namun setelah keberhasilan musim ini, sulit membantah bahwa Luis Enrique kini berdiri di level yang sama.

Tiga gelar Liga Champions.

Sukses di dua klub berbeda.

Menciptakan sejarah baru bagi klub yang belum pernah juara.

Serta kemampuan membangun ulang tim menjadi kekuatan dominan.

Daftar pencapaian tersebut membuat perbandingan keduanya bukan lagi sekadar wacana.

Ia kini menjadi fakta.

Dan jika Guardiola selama ini menjadi profesor sepak bola modern, maka Luis Enrique baru saja menyelesaikan ujian akhirnya dengan predikat cum laude.

Sementara bagi Arsenal, malam di Budapest akan dikenang sebagai malam ketika rekor tak terkalahkan mereka bertabrakan dengan satu kenyataan pahit: dalam sepak bola, yang dikenang bukan siapa yang paling lama bertahan, melainkan siapa yang mengangkat trofi di akhir cerita.***