BANDUNG – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Barat 2026 kembali menjadi topik hangat yang membuat sebagian orang tua mulai rajin mengecek ponsel setiap lima menit sekali. Menanggapi situasi tersebut, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru menganggap proses penerimaan siswa sebagai “kiamat pendidikan”.
Menurut pria yang akrab disapa KDM itu, saat ini proses SPMB masih berada pada tahap Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB). Tahap ini berlangsung sejak 29 Mei 2026 dan kini resmi diperpanjang hingga 11 Juni 2026 pukul 23.59 WIB.
“Masih punya waktu yang cukup untuk membenahi. Kita perbaiki,” ujar KDM saat meninjau pelaksanaan SPMB di Kantor Dinas Pendidikan Jawa Barat, Selasa (9/6/2026).
KDM menegaskan bahwa hasil PCMB bukanlah penentuan akhir nasib pendidikan seorang siswa. Pengumuman hasil pemetaan dijadwalkan pada 13 Juni 2026 pukul 14.00 WIB.
Jika belum diterima di sekolah tujuan, para siswa tidak perlu langsung menganggap masa depan suram atau mulai mencari sekolah dengan sistem “siapa cepat dia dapat”. Pemerintah Provinsi Jawa Barat masih membuka dua tahapan lanjutan SPMB.
Tahap pertama akan berlangsung pada 15–19 Juni 2026 dengan pengumuman hasil pada 25 Juni 2026.
Sementara bagi yang masih belum beruntung, masih tersedia SPMB Tahap 2 yang dibuka pada 30 Juni hingga 6 Juli 2026 dengan pengumuman pada 10 Juli 2026.
Dengan kata lain, sistem ini belum selesai hanya karena nama belum muncul di daftar pertama. Masih ada kesempatan berikutnya melalui kuota yang belum terisi.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi juga menanggapi berbagai isu mengenai dugaan praktik jual-beli kursi sekolah yang setiap tahun selalu muncul layaknya sinetron musim baru.
Namun kali ini KDM memilih bersikap tegas.
“Sebutin siapa yang jual beli. Di mana, sebutin. Jangan isu. Sebutin namanya, gurunya siapa, pejabatnya siapa. Laporkan, proses hukum,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat tidak ingin SPMB hanya dipenuhi rumor tanpa bukti yang berujung menciptakan kepanikan publik.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengklaim berbagai perbaikan sistem digital telah dilakukan untuk memastikan pelaksanaan SPMB berlangsung lebih objektif, transparan, dan minim gangguan teknis.
Penentuan hasil seleksi disebut mengacu pada petunjuk teknis SPMB 2026 yang telah ditetapkan.
Meski demikian, publik tentu berharap transparansi tidak hanya hadir dalam slogan dan konferensi pers, tetapi juga benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang setiap tahun harus berjibaku dengan server, kuota sekolah, hingga persaingan masuk sekolah favorit.
Disdik Jabar Perpanjang PCMB, Ribuan Murid Belum Mengisi Data
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, mengungkapkan bahwa keputusan memperpanjang masa pengisian PCMB dilakukan karena masih terdapat murid yang belum melakukan pengisian data hingga batas waktu sebelumnya.
Menurutnya, seluruh lulusan SMP, MTs, maupun Paket B diimbau memanfaatkan tambahan waktu tersebut untuk menentukan sekolah tujuan sesuai jalur yang tersedia.
“Dengan perpanjangan waktu ini, semakin banyak murid yang dapat mengikuti proses pemetaan dan memperoleh akses pendidikan jenjang menengah,” kata Purwanto.
SPMB memang selalu menjadi momen yang menguras energi orang tua. Grup WhatsApp mendadak lebih aktif dari grup arisan, rumor beredar lebih cepat dari pengumuman resmi, dan setiap perubahan jadwal langsung menjadi bahan diskusi nasional tingkat RT.
Namun satu hal yang perlu dicatat, proses penerimaan siswa di Jawa Barat tahun ini masih panjang. Bagi siswa yang belum mendapatkan sekolah pada tahap awal, peluang masih terbuka melalui dua tahap seleksi berikutnya.
Karena itu, sebelum panik, marah, atau mempercayai kabar yang belum jelas sumbernya, ada baiknya menunggu informasi resmi dan mengikuti seluruh tahapan yang telah ditetapkan.
Lagipula, kata KDM, ini proses penerimaan sekolah, bukan final Piala Dunia yang hanya berlangsung satu kali kesempatan.***













