Scroll untuk baca artikel
Budaya

“Di Saat Banyak Orang Lupa Leluhur dan Hafal Influencer, Sekappung Limo Migo Justru Bangkitkan Warisan Lampung”

×

“Di Saat Banyak Orang Lupa Leluhur dan Hafal Influencer, Sekappung Limo Migo Justru Bangkitkan Warisan Lampung”

Sebarkan artikel ini
Panitia Festival Sekappung Limo Migo mematangkan agenda kegiatan menyambut makin dekatkan pelaksanaan pada 28 Juni 2026 - foto dok ist

LAMPUNG TIMUR – Di tengah zaman ketika sebagian generasi muda lebih hafal tren media sosial daripada nama leluhurnya sendiri, masyarakat Lampung Timur justru sedang menyiapkan sebuah “perlawanan budaya” yang dikemas dalam Festival Budaya Sekappung Limo Migo ke-2.

Festival yang akan digelar pada 28 Juni 2026 di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, itu bukan sekadar panggung hiburan. Ia menjadi arena besar untuk mengingatkan bahwa budaya Lampung belum pensiun, apalagi menyerah kepada gempuran modernisasi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Persiapan menuju festival tersebut semakin dimatangkan melalui rapat penguatan kepanitiaan yang melibatkan Bela Budaya Nusantara, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta berbagai unsur pendukung lainnya.

Ketua Panitia Festival Budaya Sekappung Limo Migo, Ibrahim Restu Saka, mengatakan persiapan kegiatan saat ini telah mencapai sekitar 85 persen.

“Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung agar Festival Budaya Sekappung Limo Migo ke-2 dapat berjalan lancar, tertib, dan penuh nilai budaya,” ujarnya.

BACA JUGA :  Kapolda Kepri Yan Fitri Halimansyah Dianugerahi Gelar Adat Datok Sri Indera Pahlawan

Taman Purbakala Pugung Raharjo bukan lokasi sembarangan.

Kawasan ini merupakan salah satu situs arkeologi terpenting di Provinsi Lampung yang menyimpan benteng tanah kuno, batu megalitikum, artefak purbakala, hingga jejak peradaban masa lampau yang masih menjadi misteri sekaligus kebanggaan masyarakat Lampung.

Jika media sosial menawarkan konten yang bertahan beberapa jam sebelum tenggelam, maka Pugung Raharjo menawarkan sejarah yang mampu bertahan ratusan bahkan ribuan tahun.

Karena itulah festival ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda agar tidak mengalami “amnesia sejarah” di tanah kelahirannya sendiri.

Resmi Jadi Desa Wisata Budaya Lampung

Kabar penting lainnya datang dari Ketua Umum Bela Budaya Nusantara, Mulyono atau yang dikenal dengan gelar Pangeran Bela Budaya.

Ia mengungkapkan bahwa kawasan Desa Pugung Raharjo resmi ditetapkan sebagai Desa Wisata Berbudaya Lampung berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung Nomor G/320/V.20/HK/2026 tentang Penetapan Lokasi Sasaran Program Desa Wisata Berbudaya Lampung yang ditetapkan pada 9 Juni 2026.

Dalam keputusan tersebut, Pemerintah Provinsi Lampung menetapkan 16 desa wisata berbudaya di seluruh Lampung, dan kawasan budaya Pugung Raharjo masuk dalam wilayah yang menjadi bagian pengembangan wisata budaya Provinsi Lampung.

BACA JUGA :  Jejak Leluhur Disapa Negara: Fadli Zon Resmikan Gedung Koleksi Museum Taman Purbakala Pugung Raharjo

Penetapan tersebut menjadi pengakuan resmi bahwa kawasan ini memiliki nilai sejarah, budaya, dan potensi wisata yang layak dikembangkan sebagai destinasi unggulan.

“Taman Purbakala Pugung Raharjo merupakan warisan luhur yang harus terus dijaga dan dikembangkan. Kawasan ini bukan hanya memiliki nilai sejarah, tetapi juga berpotensi besar menjadi pusat wisata budaya dan edukasi sejarah di Provinsi Lampung,” kata Mulyono.

Jokowi Datang, Tapi Jangan Bawa Warna Politik ke Panggung Budaya

Yang menarik, rapat panitia juga membahas informasi mengenai rencana kunjungan Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo, ke Joglo Randu Mas atau kawasan Bela Budaya Nusantara di Pugung Raharjo.

Kunjungan tersebut disebut berpotensi berlangsung bertepatan dengan Festival Budaya Sekappung Limo Migo.

Meski menyambut baik kehadiran tokoh nasional, panitia menegaskan satu hal penting: budaya jangan sampai berubah menjadi arena politik.

“Kami menyambut baik kehadiran siapa pun, termasuk Presiden Republik Indonesia ke-7 beserta tamu undangan lainnya. Namun kami berharap seluruh tamu tidak menggunakan atribut politik seperti baju partai dan sejenisnya demi menjaga kenyamanan, keindahan, dan nilai budaya dalam festival ini,” tegas Ibrahim.

BACA JUGA :  Bupati pastikan hadir pada pengukuhan MPAL Tanggamus

Pesan tersebut terdengar sederhana, tetapi cukup dalam.

Sebab masyarakat datang untuk menikmati budaya Lampung, bukan untuk menghitung warna partai yang hadir di lokasi festival.

Festival Sekappung Limo Migo sesungguhnya membawa misi yang lebih besar dari sekadar pertunjukan adat.

Di tengah derasnya arus globalisasi, budaya lokal sering kali terancam menjadi pajangan museum atau sekadar materi pelajaran sekolah.

Padahal budaya hidup bukan karena disimpan, melainkan karena dirawat, dipraktikkan, dan diwariskan.

Karena itu, Festival Sekappung Limo Migo diharapkan menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat, menghidupkan ekonomi budaya, memperkenalkan sejarah Lampung Timur kepada dunia, sekaligus membuktikan bahwa warisan leluhur masih memiliki tempat terhormat di masa depan.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya membangun gedung tinggi, tetapi juga mampu menjaga akar budayanya tetap berdiri kokoh.***