JAKARTA – Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, umat Muslim mengenang satu peristiwa besar yang mengubah arah sejarah dunia: hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.
Hijrah bukan sekadar perpindahan kota. Ia adalah simbol keberanian meninggalkan tekanan, ketidakadilan, dan keterbatasan menuju harapan baru. Dari peristiwa itulah kalender Hijriah dimulai.
Namun ada fakta sejarah yang menarik.
Saat kalender Hijriah pertama kali berjalan, Islam belum menjadi kekuatan besar dunia. Umat Muslim saat itu masih berupa komunitas kecil yang sedang berjuang membangun kehidupan baru di Madinah.
Sementara di luar Jazirah Arab, dunia sedang dikuasai para “sultan global” zamannya. Ada kerajaan yang menguasai jutaan kilometer wilayah, memiliki tentara raksasa, mengendalikan jalur perdagangan internasional, bahkan menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia.
Jika saat ini dunia mengenal negara-negara adidaya, maka pada abad ke-7 Masehi, panggung internasional dikuasai enam kekuatan besar berikut.
Ironisnya, hampir semuanya kini tinggal menjadi bab dalam buku sejarah.
1. Bizantium: Sang Penguasa Mediterania yang Merasa Tak Terkalahkan
Di sisi barat dunia, berdiri Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel.
Pada masanya, Bizantium ibarat “superpower” global. Wilayahnya membentang dari Anatolia, Suriah, Palestina hingga Mesir. Kota Konstantinopel menjadi pusat perdagangan, politik, dan agama yang sangat berpengaruh.
Dipimpin Kaisar Heraclius, Bizantium memiliki tentara besar, birokrasi rapi, dan ekonomi kuat.
Namun seperti banyak penguasa besar dalam sejarah, mereka menghadapi satu masalah klasik: terlalu sibuk berperang.
Konflik berkepanjangan melawan Persia Sasaniyah menguras kas negara, melelahkan tentara, dan membuat fondasi kekaisaran perlahan retak.
Pelajarannya sederhana: bahkan kekaisaran sebesar Bizantium pun bisa kehabisan tenaga ketika lebih banyak bertengkar daripada membangun.
2. Persia Sasaniyah: Rival Abadi yang Sama-Sama Kelelahan
Jika Bizantium adalah “Amerika”-nya zaman itu, maka Persia Sasaniyah adalah rival setara yang tak kalah kuat.
Berpusat di wilayah Iran modern, Persia menguasai jalur perdagangan penting yang menghubungkan Asia Tengah, India, Timur Tengah hingga Mediterania.
Istana Persia terkenal mewah. Administrasinya canggih. Militernya disegani.
Di bawah Khosrow II, Persia mencapai puncak kejayaan.
Namun ada satu ironi besar.
Saat sedang merasa berada di puncak dunia, Persia justru sedang menuju jurang keruntuhan.
Perang tanpa henti melawan Bizantium membuat dua raksasa ini seperti petinju yang saling menghajar hingga keduanya kehabisan tenaga. Ketika mereka sibuk bertarung, sejarah diam-diam sedang menyiapkan pemain baru dari Jazirah Arab.
3. Dinasti Tang: China yang Sedang Naik Kelas
Ketika Bizantium dan Persia sibuk bertarung, China justru sedang membangun.
Dinasti Tang yang berdiri pada 618 Masehi menjadi salah satu pemerintahan paling sukses dalam sejarah China.
Ibu kotanya, Chang’an, menjelma menjadi kota metropolitan terbesar di dunia pada zamannya.
Pedagang, ilmuwan, diplomat, dan tokoh agama dari berbagai negara datang ke kota ini.
Jika media sosial sudah ada saat itu, Chang’an mungkin akan disebut sebagai “pusat dunia yang sesungguhnya”.
Tang membuktikan satu hal penting: kejayaan tidak selalu lahir dari peperangan, tetapi sering kali berasal dari stabilitas, perdagangan, pendidikan, dan inovasi.
4. Kerajaan Aksum: Penguasa Laut Merah yang Sering Terlupakan
Tak banyak yang mengenalnya sekarang. Namun pada abad ke-7, Kerajaan Aksum di Afrika Timur adalah pemain penting dalam ekonomi global.
Berada di wilayah Ethiopia dan Eritrea modern, Aksum menguasai jalur perdagangan Laut Merah yang menjadi urat nadi hubungan antara Afrika, Arab, India, dan Mediterania.
Emas, gading, rempah-rempah, dan berbagai komoditas penting melintasi wilayah ini.
Bila saat ini dunia mengenal Terusan Suez sebagai jalur strategis, maka Laut Merah pada masa itu adalah “jalan tol ekonomi internasional”.
Aksum menunjukkan bahwa lokasi geografis bisa menjadi sumber kekuatan yang luar biasa.
Namun sejarah juga membuktikan bahwa jalur perdagangan bisa berubah, dan ketika arus perdagangan berpindah, kejayaan suatu kerajaan ikut bergeser.
5. Kerajaan Harsha: Penguasa India Utara yang Membawa Masa Keemasan
Di India Utara, Raja Harsha berhasil menyatukan wilayah yang luas dan menghadirkan stabilitas politik setelah masa-masa penuh konflik.
Di bawah pemerintahannya, India berkembang menjadi pusat agama, filsafat, budaya, dan pendidikan.
Universitas-universitas kuno berkembang pesat. Perdagangan tumbuh. Seni dan sastra mengalami kemajuan.
Harsha memahami sesuatu yang sering dilupakan banyak penguasa: kekuatan tidak hanya diukur dari luas wilayah, tetapi juga dari kemampuan membangun peradaban.
Karena pada akhirnya, tentara bisa memenangkan perang, tetapi ilmu pengetahuan memenangkan masa depan.
6. Maya: Peradaban Hebat yang Tak Pernah Mendengar Nama Bizantium
Sementara Bizantium dan Persia sibuk memperebutkan dunia lama, di belahan bumi lain terdapat peradaban yang bahkan mungkin tidak mengetahui keberadaan mereka.
Peradaban Maya berkembang pesat di kawasan Meksiko Selatan, Guatemala, Belize, Honduras, dan El Salvador.
Mereka membangun kota-kota megah, piramida raksasa, sistem kalender yang rumit, hingga perhitungan astronomi yang sangat akurat.
Yang menarik, semua itu berkembang tanpa kontak dengan dunia Eropa, Timur Tengah, atau Asia.
Ini menjadi pengingat bahwa sejarah manusia tidak pernah hanya berpusat pada satu kawasan.
Ketika satu peradaban merasa menjadi pusat dunia, bisa jadi di tempat lain ada peradaban hebat yang sedang tumbuh tanpa pernah memperhatikannya.
Dari Madinah yang Sederhana, Lahir Perubahan Besar
Di tengah kemegahan enam kekuatan dunia tersebut, Madinah pada tahun 622 Masehi hanyalah sebuah kota yang jauh dari pusat kekuasaan global.
Tidak memiliki istana megah.
Tidak memiliki tentara raksasa.
Tidak menguasai jalur perdagangan internasional.
Tidak memiliki kekayaan sebesar Bizantium atau Persia.
Namun dari kota sederhana itulah lahir perubahan besar yang kemudian mengubah sejarah dunia.
Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian angka dalam kalender. Ia mengingatkan bahwa sejarah tidak selalu ditentukan oleh mereka yang paling kuat, paling kaya, atau paling berkuasa.
Karena berkali-kali sejarah membuktikan, kerajaan terbesar bisa runtuh, kekaisaran paling kuat bisa hilang, dan penguasa paling perkasa bisa menjadi catatan kaki sejarah.
Sebaliknya, sebuah gagasan, keyakinan, dan perjuangan yang lahir dari tempat sederhana justru mampu bertahan melampaui zaman.
Itulah pelajaran terbesar dari hijrah: perubahan besar sering kali tidak dimulai dari pusat kekuasaan, melainkan dari keberanian untuk memulai langkah pertama.









