Scroll untuk baca artikel
Zona Bekasi

Wali Kota Bekasi Sentil Generasi Rebahan: Karang Taruna Diminta Jadi Mesin Penggerak Pemuda, Bukan Sekadar Pajangan Organisasi

×

Wali Kota Bekasi Sentil Generasi Rebahan: Karang Taruna Diminta Jadi Mesin Penggerak Pemuda, Bukan Sekadar Pajangan Organisasi

Sebarkan artikel ini
Wali Kota Bekasi Tri Adhianto membuka Temu Karya Karang Taruna VII Kota Bekasi dan menegaskan pentingnya pembangunan sumber daya manusia sebagai fondasi utama kemajuan daerah di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur. - foto dok

KOTA BEKASI – Di tengah era ketika sebagian anak muda lebih akrab dengan notifikasi media sosial daripada musyawarah organisasi, Pemerintah Kota Bekasi mengingatkan bahwa masa depan daerah tidak hanya ditentukan oleh jalan mulus, gedung tinggi, atau proyek beton bernilai miliaran rupiah.

Yang jauh lebih menentukan adalah kualitas manusianya.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pesan itu disampaikan Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto saat membuka Temu Karya Karang Taruna VII Kota Bekasi yang dihadiri pengurus Karang Taruna dari berbagai kecamatan dan kelurahan, termasuk Ketua Karang Taruna Jawa Barat, Ahmad Taufik.

Dalam forum yang menjadi momentum evaluasi sekaligus regenerasi organisasi kepemudaan tersebut, Tri Adhianto menegaskan bahwa pembangunan kota tidak boleh terjebak pada ukuran fisik semata.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus menjadi prioritas utama jika Kota Bekasi ingin bersaing di masa depan.

“Pembangunan kota tidak hanya diukur dari banyaknya jalan, gedung, atau infrastruktur yang dibangun. Yang paling penting adalah bagaimana membangun kualitas sumber daya manusia,” tegas Tri.

Pesan itu terasa relevan di tengah tantangan generasi muda saat ini yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari pengangguran, rendahnya keterampilan kerja, hingga kecenderungan sebagian anak muda yang lebih aktif berdebat di media sosial daripada terlibat langsung dalam kegiatan sosial masyarakat.

Karang Taruna, menurut Tri, seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kepedulian sosial bagi generasi muda.

Bukan sekadar organisasi yang hidup saat ada lomba 17 Agustus, kegiatan seremonial, atau momentum politik lima tahunan.

Karena sesungguhnya kekuatan Karang Taruna berada di akar rumput, yakni tingkat kecamatan, kelurahan, RT, dan RW.

Di situlah pemuda berhadapan langsung dengan persoalan masyarakat yang nyata, mulai dari pengangguran, kemiskinan, kenakalan remaja, hingga persoalan sosial lainnya.

Dalam sambutannya, Tri juga mengingatkan bahwa Pemerintah Kota Bekasi saat ini terus membangun berbagai infrastruktur strategis seperti jalan, drainase, hingga polder pengendali banjir.

Namun ia menegaskan bahwa pembangunan fisik tanpa diimbangi pembangunan manusia hanya akan menghasilkan kota yang megah secara tampilan tetapi miskin kualitas sosial.

Ibarat membeli mobil mewah, tetapi tidak memiliki pengemudi yang mampu mengendarainya.

“SDM yang kuat adalah fondasi kemajuan Kota Bekasi di masa depan,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi kritik halus terhadap cara pandang pembangunan yang selama ini sering hanya berfokus pada proyek fisik yang mudah difoto dan dipamerkan, sementara investasi pada manusia kerap membutuhkan waktu lebih panjang untuk menghasilkan dampak nyata.

Di balik semangat membangun pemuda, sejumlah persoalan internal Karang Taruna juga mencuat dalam forum tersebut.

Mulai dari komunikasi organisasi yang dinilai masih perlu diperkuat hingga belum tersedianya sekretariat permanen Karang Taruna Kota Bekasi sebagai pusat koordinasi kegiatan.

Masalah klasik ini bukan hanya terjadi di Bekasi.

Banyak organisasi kepemudaan di Indonesia menghadapi tantangan serupa: semangat anggota tinggi, tetapi dukungan fasilitas dan konsolidasi organisasi sering kali belum optimal.

Karena itu, Tri menekankan pentingnya penguatan kelembagaan dari tingkat pusat hingga daerah agar Karang Taruna memiliki legitimasi dan arah gerak yang lebih jelas.

Dalam suasana yang penuh dinamika organisasi, Tri menggunakan analogi yang cukup ringan namun mengena.

Ia mengibaratkan perbedaan pandangan dalam organisasi seperti pilihan masyarakat saat mendukung negara favorit di ajang Piala Dunia.

Ada yang mendukung Brasil, Argentina, Jerman, atau Inggris.

Mereka boleh berbeda pilihan, bahkan berdebat sengit sepanjang pertandingan.

Namun setelah peluit akhir berbunyi, semua kembali pada tujuan yang sama: menikmati pertandingan dan mendukung kemajuan sepak bola.

Begitu pula dalam organisasi.

Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang sehat dan wajar. Yang tidak sehat adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi konflik berkepanjangan yang justru menghambat organisasi berkembang.

Temu Karya Karang Taruna VII Kota Bekasi sejatinya bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan atau rapat organisasi rutin.

Forum ini menjadi pengingat bahwa tantangan pembangunan masa depan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah.

Generasi muda harus mengambil peran lebih besar.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, persaingan kerja yang semakin ketat, serta perubahan sosial yang berlangsung cepat, Karang Taruna dituntut menjadi laboratorium kepemimpinan yang melahirkan pemuda-pemuda tangguh dan berdaya saing.

Karena pada akhirnya, jalan yang mulus bisa dibangun dalam hitungan bulan.

Gedung megah bisa berdiri dalam beberapa tahun.

Tetapi membangun karakter, integritas, dan kualitas generasi muda membutuhkan proses yang jauh lebih panjang.

Dan masa depan Kota Bekasi akan lebih ditentukan oleh kualitas pemudanya daripada sekadar tinggi rendahnya bangunan yang berdiri di atasnya.

BACA JUGA :  Pemkot Bekasi Akui Tak Mampu Bayar Ganti Rugi Tanah Pasar Semi Pondok Gede, Meski Tunduk pada Putusan MA