Scroll untuk baca artikel
Lintas Daerah

Kemarau Kepung Pandeglang, 20 Kecamatan Terancam Kekeringan, BPBD Mulai Droping Air Bersih

×

Kemarau Kepung Pandeglang, 20 Kecamatan Terancam Kekeringan, BPBD Mulai Droping Air Bersih

Sebarkan artikel ini
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

PANDEGLANG – Hujan yang beberapa bulan lalu masih sering membuat warga mengeluh karena banjir, kini justru menjadi sesuatu yang dirindukan. Musim kemarau mulai menunjukkan taringnya di Kabupaten Pandeglang. Sumur-sumur mulai surut, tanah mengering, dan ancaman krisis air bersih perlahan menghampiri ratusan desa.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang mencatat sedikitnya 20 kecamatan dengan 150 desa masuk kategori berpotensi tinggi mengalami kekeringan selama musim kemarau 2026.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Artinya, hampir separuh wilayah Pandeglang kini berada dalam status siaga menghadapi krisis air.

Kalau biasanya warga menengadah berharap hujan berhenti, kini doa mulai berubah arah: semoga awan segera ingat jalan pulang.

150 Desa Masuk Zona Rawan Kekeringan

Kepala BPBD Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, mengatakan potensi kekeringan tersebut mengacu pada hasil Kajian Risiko Bencana (KRB) yang dimiliki pemerintah daerah.

BACA JUGA :  Antisipasi Kamarau, TNWK Siagankan Tim Brigadalhut

Sebanyak 20 kecamatan masuk kategori risiko tinggi, yakni:

  • Sumur
  • Sukaresmi
  • Saketi
  • Pulosari
  • Patia
  • Pagelaran
  • Menes
  • Mandalawangi
  • Labuan
  • Jiput
  • Cisata
  • Cimanggu
  • Cikeusik
  • Cikeudal
  • Cibitung
  • Carita
  • Angsana
  • Sindangresmi
  • Cadasari
  • Karangtanjung

Sementara kecamatan lainnya tetap memiliki potensi kekeringan, meski berada pada kategori sedang.

Tiga Kecamatan Sudah Mulai Kekurangan Air

Ancaman itu kini bukan lagi sekadar prediksi.

BPBD memastikan tiga kecamatan telah merasakan dampak langsung musim kemarau, yakni Karangtanjung, Angsana, dan Sindangresmi.

Di wilayah tersebut, kebutuhan air bersih masyarakat mulai terganggu sehingga BPBD telah melakukan distribusi bantuan air menggunakan mobil tangki.

“Sementara sudah mendistribusikan air bersih ke tiga kecamatan,” kata Riza.

Meski demikian, BPBD masih melakukan pendataan jumlah warga dan kepala keluarga yang berpotensi terdampak apabila kemarau berlangsung lebih lama.

Kemarau Tak Hanya Membawa Haus, Tapi Juga Ancaman Api

Musim kemarau tidak hanya identik dengan sumur yang mengering.

Ketika tanah kehilangan kelembapan, risiko kebakaran ikut meningkat.

BACA JUGA :  Pasar Lembursitu Kota Sukabumi, Mulai Beroperasi Lagi

Kepala Seksi Pemadam Kebakaran BPBD Pandeglang, Yosep Mardini, mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap potensi kebakaran rumah, lahan, maupun kawasan hutan.

Menurutnya, banyak kebakaran permukiman justru berawal dari hal-hal yang terlihat sepele.

Mulai dari kabel listrik yang sudah rapuh, colokan yang terus menancap, hingga regulator tabung gas yang tidak pernah diperiksa.

“Penggunaan instalasi listrik harus dicek secara berkala. Banyak kabel yang sudah tidak standar atau termakan usia. Charger jangan terus menempel di stop kontak. Selang dan regulator tabung gas juga perlu diperiksa,” ujarnya.

Kadang yang membuat rumah terbakar bukan petir, melainkan charger yang sudah merasa lembur 24 jam tanpa cuti.

Puntung Rokok Bisa Jadi Awal Bencana

Selain di kawasan permukiman, kebakaran juga mengintai lahan pertanian dan kawasan hutan.

BPBD mengingatkan masyarakat agar tidak membakar lahan sembarangan maupun membuang puntung rokok yang masih menyala.

Dalam kondisi vegetasi yang kering, percikan api sekecil apa pun bisa berkembang menjadi kebakaran besar.

BACA JUGA :  KDM Tegaskan Gerakan “Rereongan Poe Ibu” Bukan Iuran Wajib, Tapi Ajakan dari Hati

Yosep menegaskan, kebakaran lahan bukan hanya merugikan pemilik tanah.

Dampaknya jauh lebih luas, mulai dari rusaknya ekosistem, hilangnya daya serap air, meningkatnya risiko longsor saat musim hujan kembali datang, hingga memburuknya kualitas udara.

Karena itu, kewaspadaan masyarakat menjadi benteng pertama untuk mencegah bencana yang sebenarnya dapat dihindari.

Mitigasi Jadi Kunci

BPBD Pandeglang memastikan pemantauan terhadap wilayah rawan kekeringan terus dilakukan.

Distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di lapangan, sementara pendataan warga terdampak masih berlangsung.

Musim kemarau memang tidak bisa dihentikan.

Namun dampaknya bisa diperkecil apabila pemerintah dan masyarakat sama-sama disiplin melakukan mitigasi.

Sebab dalam menghadapi kemarau, yang paling berbahaya bukan hanya matahari yang semakin terik, melainkan rasa lengah yang membuat semua orang menganggap ancaman kekeringan dan kebakaran sebagai persoalan biasa.***