LAMPUNG TIMUR – Selama puluhan tahun, singkong di Lampung lebih sering dikenal sebagai komoditas yang dijual dalam bentuk mentah dengan harga yang fluktuatif. Padahal, di balik umbi sederhana itu tersimpan potensi ekonomi bernilai miliaran rupiah jika mampu diolah menjadi produk industri.
Kesadaran itulah yang menjadi semangat Pemerintah Kabupaten Lampung Timur bersama Kementerian Perindustrian RI untuk mendorong percepatan hilirisasi singkong sebagai komoditas unggulan daerah.
Komitmen tersebut ditandai dengan kehadiran Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza dalam Seminar dan Pendampingan Teknis Produksi serta Keamanan Pangan bagi Industri Kecil Menengah (IKM) Olahan Singkong yang digelar di Aula Rumah Dinas Bupati Lampung Timur, Kamis (16/7/2026).
Kegiatan itu disambut langsung oleh Bupati Lampung Timur Ela Siti Nuryamah, yang menilai hilirisasi merupakan jalan keluar agar petani tidak lagi bergantung pada penjualan bahan baku semata.
Dalam sambutannya, Ela menegaskan Lampung Timur memiliki modal besar untuk menjadi pusat industri olahan singkong di Indonesia. Luas lahan pertanian dan produksi singkong yang melimpah harus diikuti dengan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan.
Menurutnya, singkong tidak boleh berhenti sebagai hasil panen yang dijual mentah, tetapi harus naik kelas menjadi berbagai produk industri bernilai tinggi.
“Melalui program hilirisasi, kami berharap singkong tidak lagi hanya menjadi komoditas primer, tetapi dapat diolah menjadi tepung mocaf, tapioka, makanan ringan, produk fermentasi, hingga berbagai inovasi pangan yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional,” ujar Ela.
Bupati menilai hilirisasi bukan sekadar proses produksi, tetapi strategi besar membangun ekonomi daerah.
Jika industri berkembang, maka petani memperoleh harga yang lebih baik, IKM tumbuh, lapangan pekerjaan terbuka, investasi masuk, dan pendapatan masyarakat ikut meningkat.
Karena itu, Pemkab Lampung Timur berharap dukungan pemerintah pusat terus diperluas melalui pelatihan, pendampingan teknis, bantuan mesin produksi, peningkatan kualitas kemasan, akses pembiayaan, hingga pembangunan sentra industri olahan singkong.
“Kami meyakini dari Lampung Timur, singkong bukan sekadar hasil pertanian, tetapi bisa menjadi sumber nilai tambah, inovasi, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, kami optimistis Lampung Timur menjadi pusat hilirisasi singkong yang membanggakan Indonesia,” tegasnya.
Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza mengatakan hilirisasi menjadi salah satu strategi pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri pangan nasional.
Menurutnya, bahan baku yang sama belum tentu menghasilkan nilai ekonomi yang sama. Yang membedakan adalah inovasi, kreativitas, kualitas produk, dan kemampuan membaca kebutuhan pasar.
“Kami terus berkomitmen mendukung pengembangan industri berbasis singkong agar mampu memenuhi kebutuhan nasional sekaligus meningkatkan daya saing produk Indonesia,” kata Faisol.
Ia mengajak seluruh pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat membangun ekosistem industri singkong yang modern, efisien, dan mampu bersaing hingga pasar ekspor.
Melalui seminar tersebut, para pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) memperoleh pendampingan mengenai standar proses produksi, keamanan pangan, inovasi produk, hingga strategi pemasaran.
Pemerintah berharap peningkatan kapasitas tersebut mampu melahirkan produk-produk olahan singkong yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga memiliki daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional.
Indonesia dikenal sebagai salah satu penghasil singkong terbesar. Namun ironisnya, nilai ekonomi terbesar justru sering dinikmati setelah singkong diolah menjadi produk jadi.
Kalau singkong hanya dijual mentah, yang kenyang bisa jadi tengkulaknya. Tetapi ketika diolah menjadi tepung, makanan olahan, atau produk industri, yang ikut menikmati bukan hanya pembeli, melainkan juga petani, pelaku UMKM, hingga daerah penghasilnya.
Hilirisasi pada akhirnya bukan sekadar mengubah bentuk singkong menjadi tepung atau camilan. Yang lebih penting adalah mengubah pola pikir: dari menjual hasil panen, menjadi menjual nilai tambah.
Kini tantangannya tinggal satu: memastikan semangat hilirisasi tidak berhenti di ruang seminar, tetapi benar-benar hadir di pabrik-pabrik kecil, dapur UMKM, dan kantong para petani Lampung Timur.***













