Scroll untuk baca artikel
PERTANIANTANGGAMUS

Bupati Tanggamus: Penyuluh Jangan Hanya Pandai Rapat, Petani Butuh Pendampingan Nyata!

×

Bupati Tanggamus: Penyuluh Jangan Hanya Pandai Rapat, Petani Butuh Pendampingan Nyata!

Sebarkan artikel ini
Foto: Kantor Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Wonosobo, yang berlokasi di Pekon Dadirejo, Jumat 17 Oktober 2025.

TANGGAMUS – Kabupaten Tanggamus dikenal sebagai salah satu lumbung kopi robusta terbesar di Lampung. Memiliki kakao, lada, cengkeh, hortikultura hingga potensi perikanan Teluk Semaka, daerah ini sesungguhnya menyimpan modal besar untuk menjadi kekuatan ekonomi berbasis pertanian.

Namun menurut Bupati Tanggamus Saleh Asnawi, kekayaan alam saja tidak cukup. Masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh suburnya tanah atau luasnya lahan, melainkan oleh kualitas orang-orang yang mendampingi petani di lapangan.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Pesan itu disampaikan Bupati saat menerima audiensi Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kabupaten Tanggamus di Ruang Rapat Bupati, Senin (3/8/2026).

Didampingi Asisten Administrasi Umum Jon Novri, Kepala BPKAD Afrida Susanti, perwakilan Dinas KPTPH, Kabag Kerja Sama yang diwakili Sefon Palauti, serta Robi Iskandar, Bupati menegaskan penyuluh merupakan ujung tombak pembangunan sektor pertanian.

“Kunci Ada di Penyuluh”

Dalam arahannya, Saleh Asnawi menyampaikan bahwa produktivitas petani tidak lahir begitu saja. Dibutuhkan pendampingan, inovasi, serta transfer pengetahuan yang konsisten dari para penyuluh.

BACA JUGA :  Intimidasi di Lahan ex TDA Lampung Tengah Terjadi, Warga Ditembaki dan Ditebas Golok

“Produktif atau tidak produktifnya petani sangat bergantung pada penyuluh pertanian. Kuncinya ada di Perhiptani. Karena itu saya berharap penyuluh benar-benar hadir memberikan contoh, membimbing, dan mendampingi petani dengan ilmu yang dimiliki,” tegas Saleh Asnawi.

Pernyataan itu menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah menaruh harapan besar kepada para penyuluh sebagai garda terdepan peningkatan produksi pertanian.

Sebab sehebat apa pun program pemerintah, jika ilmu tidak sampai ke sawah, kebun, dan ladang, hasilnya akan sulit dirasakan petani.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPD Perhiptani Tanggamus Imam Mashuda memaparkan bahwa organisasinya saat ini memiliki 126 anggota, terdiri dari ASN, PPPK, tenaga bantu, hingga penyuluh purnatugas.

Menurut Imam, penyuluh bukan hanya menyampaikan teknologi pertanian, tetapi juga menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan petani.

Namun ia mengakui, berbagai kendala masih membayangi tugas para penyuluh.

Mulai dari terbatasnya pelatihan, minimnya sarana dan prasarana, hingga belum optimalnya pengembangan demonstration plot (demplot) pertanian organik serta kegiatan peningkatan kapasitas petani.

BACA JUGA :  Viral! Warga Tanggamus Mengaku Diminta Rp200 Ribu Urus Surat Nikah, Benarkah Ada Tarifnya?

“Kami ingin mengetahui mimpi besar Pak Bupati terhadap Tanggamus agar kami bisa menyelaraskan langkah dan memberikan kontribusi nyata. Tanggamus memiliki potensi besar dari kopi, kakao, hortikultura hingga komoditas lainnya yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat jika dikelola secara maksimal,” ujar Imam.

Bupati menilai Tanggamus memiliki modal alam yang luar biasa.

Kopi robusta yang telah dikenal luas, kakao, lada, cengkeh, hingga potensi perikanan Teluk Semaka seharusnya mampu menjadi mesin penggerak ekonomi daerah.

Namun potensi sebesar apa pun tidak akan berkembang bila produktivitas petani stagnan.

“Kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Tantangannya sekarang adalah bagaimana meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani. Jika petani maju, ekonomi daerah akan ikut tumbuh. Mari kita bekerja dengan sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan demi masa depan Tanggamus,” katanya.

Dalam audiensi tersebut, Saleh Asnawi juga meminta Perhiptani lebih aktif mengembangkan demplot sebagai sarana belajar langsung bagi petani.

BACA JUGA :  Harga Kopi di Empat Lawang Tertinggi Hanya Rp18 Ribu/Kilogram

Menurutnya, inovasi pertanian tidak cukup dijelaskan lewat teori atau ruang rapat.

Petani akan lebih mudah menerima teknologi baru jika melihat langsung hasilnya di lapangan.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi, meningkatkan hasil produksi, sekaligus memperkuat daya saing sektor pertanian Tanggamus.

Pertemuan berlangsung hangat dengan diskusi mengenai berbagai peluang kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Tanggamus dan Perhiptani, mulai dari peningkatan kapasitas penyuluh hingga penguatan program pemberdayaan petani.

Humor satirnya, petani tidak membutuhkan penyuluh yang hanya mahir menyusun laporan atau menghadiri rapat.

Yang mereka perlukan adalah sosok yang benar-benar hadir di tengah sawah, kebun, dan ladang, membawa solusi ketika tanaman diserang hama, hasil panen menurun, atau harga komoditas bergejolak.

Karena pada akhirnya, keberhasilan pertanian tidak diukur dari tebalnya dokumen program, tetapi dari senyum petani yang pulang membawa hasil panen lebih baik dan kehidupan yang semakin sejahtera.***