Scroll untuk baca artikel
AGAMA

Selawat Menggema di Cikarang Utara, Maulid Nabi Jadi Pengingat: Akhlak Bukan Sekadar Ceramah

×

Selawat Menggema di Cikarang Utara, Maulid Nabi Jadi Pengingat: Akhlak Bukan Sekadar Ceramah

Sebarkan artikel ini
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar di Lapangan Musholla Nurul Hikmah, Kampung Buni Asih RT 01/11, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu malam (26/9/2026) - foto Sendi Manoppo

BEKASI – Lapangan Musholla Nurul Hikmah di Kampung Buni Asih, Desa Cikarang Kota, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Sabtu malam (26/9/2026), berubah menjadi ruang perjumpaan warga yang sarat nuansa religius.

Bukan sekadar berkumpul untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW, warga juga diajak kembali melihat satu hal yang kerap lebih sulit dilakukan daripada sekadar mengucapkannya bahwa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah itu berlangsung mulai pukul 19.30 WIB. Warga dari berbagai kalangan hadir memenuhi lokasi kegiatan yang digelar di lapangan Musholla Nurul Hikmah, Kampung Buni Asih RT 01/11.

Lantunan selawat dari Team Hadroh Nurul Hikmah dan Al Mubarokah mengiringi rangkaian acara. Suasana pun terasa khusyuk, tetapi tetap hangat dalam balutan kebersamaan warga.

Tema yang diangkat cukup dekat dengan persoalan generasi hari ini: “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW dalam Membangun Karakter Generasi Muda yang Berakhlak Religius.”

Pesannya sederhana, tetapi justru karena itu penting. Anak muda tidak cukup hanya mengenal nama Rasulullah, hafal kisah perjuangannya atau rajin mengikuti peringatan Maulid. Keteladanan baru benar-benar hidup ketika nilai itu hadir dalam perilaku.

BACA JUGA :  Nikah Tak Tercatat Berisiko, Kemenag Kampanyekan di CFD Sudirman

Jujur ketika tidak ada yang mengawasi. Santun ketika berbeda pendapat. Bertanggung jawab ketika diberi amanah. Peduli ketika melihat orang lain kesulitan.

Sebab, kalau akhlak hanya rajin dibicarakan tetapi malas dipraktikkan, jangan-jangan yang bertambah hanya panjang ceramahnya, bukan kualitas manusianya.

Sejumlah tokoh agama hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Ustaz Sarmaji Manin dari MT Al Mubarokah, UGD Ustaz Gofur Doang, Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bekasi KH. Drs. Ahmad Sanukri, S.H., M.M., Ustaz Munawir Fuad Alfadhil, serta Ustaz Witono selaku DKM Musholla Nurul Hikmah.

Kehadiran para tokoh agama tersebut memperkuat pesan bahwa Maulid Nabi bukan hanya tradisi tahunan. Di tengah perubahan sosial dan derasnya arus informasi, peringatan Maulid dapat menjadi ruang untuk kembali mengingat fondasi kehidupan bermasyarakat: iman, akhlak, kepedulian dan persaudaraan.

Ahmad Sanukri: Maulid Jangan Berhenti pada Seremoni

Dalam kesempatan tersebut, KH. Ahmad Sanukri mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Menurutnya, inti peringatan kelahiran Rasulullah adalah bagaimana umat mampu membawa keteladanan Nabi Muhammad SAW ke dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Kolaborasi Aglomerasi Jabodetabek, Babak Baru Transportasi Terpadu dan Berkelanjutan

“Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hendaknya tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi momentum bagi kita semua untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari,” kata Ahmad Sanukri.

Ia menekankan pentingnya menanamkan nilai kejujuran, kesantunan, tanggung jawab dan kepedulian terhadap sesama, terutama kepada generasi muda.

Bagi Ahmad Sanukri, pembentukan karakter generasi muda tidak bisa hanya dibebankan kepada lembaga pendidikan maupun tokoh agama. Keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya.

Karena itu, orang tua dan tokoh masyarakat diajak memberikan contoh nyata kepada anak-anak dan remaja.

Nasihat memang penting. Tetapi dalam pendidikan akhlak, contoh sering kali berbicara lebih keras daripada seribu kata.

Dari Selawat Menuju Akhlak

Peringatan Maulid Nabi di Musholla Nurul Hikmah juga menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah semestinya tidak berhenti pada lantunan selawat.

Selawat menghidupkan suasana. Ceramah memberikan pengingat. Namun, ujian sebenarnya justru berlangsung setelah jamaah meninggalkan lapangan.

Apakah kejujuran tetap dijaga ketika tidak ada yang melihat?

Apakah kesantunan tetap dipertahankan ketika menghadapi orang yang berbeda pandangan?

Apakah kepedulian tetap tumbuh ketika melihat tetangga membutuhkan pertolongan?

Di situlah nilai keteladanan Rasulullah menemukan bentuknya dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA :  Arisan Sosilita Bekasi, Berbagi Kasih Bersama Yatim

Generasi muda juga menjadi perhatian utama dalam peringatan Maulid tersebut. Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, mereka diharapkan tetap memiliki fondasi religius tanpa kehilangan kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan kehidupan.

Kejujuran, kesabaran, kepedulian, tanggung jawab dan sikap saling menghormati menjadi nilai yang dianggap penting untuk terus ditanamkan.

Ketika Maulid Menjadi Ruang Silaturahmi

Selain pesan keagamaan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Musholla Nurul Hikmah memperlihatkan wajah lain kehidupan masyarakat: kebersamaan.

Warga datang, duduk bersama, berselawat dan mengikuti rangkaian kegiatan dalam suasana kekeluargaan.

Di tengah kehidupan masyarakat yang semakin sibuk, ruang-ruang semacam ini menjadi penting. Sebab silaturahmi tidak selalu membutuhkan acara besar. Kadang cukup satu tempat ibadah, lantunan selawat, secangkir minuman, dan kemauan untuk duduk bersama.

Dari sana, hubungan antarwarga kembali dirawat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah di Cikarang Utara akhirnya bukan hanya tentang memperingati sebuah peristiwa sejarah keagamaan.

Lebih jauh, kegiatan itu menjadi pengingat bahwa mencintai Rasulullah bukan hanya dengan mengingat kelahirannya, tetapi juga dengan berusaha menghadirkan akhlaknya dalam kehidupan.***