Scroll untuk baca artikel
Agama

Menag Tegaskan Daging Kurban untuk Semua: “Tak Boleh Ada yang Kelaparan, Apa Pun Agamanya”

×

Menag Tegaskan Daging Kurban untuk Semua: “Tak Boleh Ada yang Kelaparan, Apa Pun Agamanya”

Sebarkan artikel ini
Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Provinsi Lampung bersama Rumah Aspirasi Gerindra Lampung Timur, menggelar kegiatan kurban bersama masyarakat menggelar pemotongan hewan kurban di Desa Bojong, Sekampung Udik, Kamis (28/5) - foto Jali

JAKARTA – Nasaruddin Umar menegaskan bahwa ibadah kurban pada Hari Raya Idul Adha tidak boleh dipahami sebatas ritual keagamaan umat Islam semata. Menurutnya, semangat utama kurban adalah menghadirkan kepedulian sosial, kemanusiaan, serta memastikan tidak ada masyarakat yang mengalami kelaparan, tanpa memandang latar belakang agama.

Pernyataan itu disampaikan Menag saat berada di Masjid Istiqlal, Kamis (28/5).

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Termasuk nonmuslim juga berhak mendapatkan daging kurban. Inilah wajah Islam yang sesungguhnya, Islam yang menghadirkan kasih sayang, kepedulian, dan kebermanfaatan bagi seluruh manusia,” ujar Nasaruddin.

Menurutnya, Idul Adha bukan sekadar momentum penyembelihan hewan kurban, melainkan sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Ribuan hewan kurban yang disembelih setiap tahun seharusnya menjadi simbol hadirnya keadilan sosial, pemerataan gizi, dan kepedulian terhadap sesama.

BACA JUGA :  Ijtimak Ulama Kemenag Rumuskan 8 Rekomendasi Penyempurnaan Tafsir Alquran

Ia menegaskan, nilai ibadah kurban akan kehilangan makna apabila masih ada masyarakat yang lapar, miskin, dan tidak merasakan kebahagiaan pada hari raya.

“Esensi kurban adalah berbagi. Maka siapa pun yang membutuhkan, siapa pun yang lapar, berhak merasakan manfaat dari kurban itu,” katanya.

Nasaruddin juga membuka ruang partisipasi lintas agama dalam kegiatan sosial Idul Adha. Menurutnya, membantu penyediaan maupun distribusi daging kurban merupakan tindakan kemanusiaan yang mulia dan tidak bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan maupun ajaran agama.

BACA JUGA :  Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadhan 1445 H di Gelar 10 Maret, Kemenag Imbau Saling Menghormati

“Kalau ada nonmuslim yang ingin ikut berpartisipasi membantu masyarakat melalui momentum kurban, memberikan kontribusi gizi dan protein kepada warga yang membutuhkan, itu adalah tindakan yang sangat terpuji,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, Masjid Istiqlal selama ini juga menerima bantuan hewan kurban dari sejumlah lembaga dan tokoh nonmuslim. Hewan-hewan kurban tersebut kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan tanpa membedakan suku, agama, maupun golongan.

Bagi Nasaruddin, ajaran Islam menempatkan nilai kemanusiaan sebagai bagian penting dari ibadah. Karena itu, kurban harus menjadi sarana mempererat persaudaraan, membangun empati, dan menghadirkan rasa aman bagi seluruh masyarakat.

BACA JUGA :  Buntut Pembakaran Al Quran, Ajakan Untuk Boikot Produk Swedia Bermunculan

Ia pun mengutip pesan Rasulullah SAW tentang pentingnya memastikan tidak ada manusia yang kelaparan pada hari raya, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

“Ada hadis Nabi yang mengingatkan bahwa tidak boleh ada yang kelaparan pada hari itu, apa pun agamanya. Islam mengajarkan kasih sayang universal,” tutur Nasaruddin.

Pernyataan Menag tersebut menjadi penegasan bahwa Idul Adha bukan hanya tentang penyembelihan hewan, tetapi juga tentang menghadirkan nilai rahmatan lil ‘alamin — Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Di tengah keberagaman Indonesia, semangat berbagi tanpa sekat agama dinilai menjadi wujud nyata ajaran Islam yang damai, inklusif, dan penuh kepedulian sosial.***