Scroll untuk baca artikel
Lampung

Dekat Musala, Arena Judi Sabung Ayam Diduga Jadi “Mesin Pencetak Maling” di Sekampung Udik

×

Dekat Musala, Arena Judi Sabung Ayam Diduga Jadi “Mesin Pencetak Maling” di Sekampung Udik

Sebarkan artikel ini
Foto dokumen, saat suasana judi sabung ayam di wilayah desa Jembrana kecamatan Waway Karya yang diunggah oleh Fb . Dok wawai News

LAMPUNG TIMUR – Warga Desa Bauh Gunung Sari, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, kini hidup dalam keresahan yang tak lagi bisa ditutup-tutupi. Arena perjudian sabung ayam dan koprok yang diduga beroperasi terang-terangan di Dusun 3 Setaran disebut bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, tetapi sudah menjelma menjadi “penyakit kampung” yang perlahan menggerogoti rasa aman masyarakat.

Ironisnya, lokasi perjudian itu disebut berada tak jauh dari tempat ibadah. Saat azan Maghrib mulai berkumandang, suara ayam aduan dan riuh taruhan justru masih terdengar. Sebuah pemandangan yang oleh warga disebut sebagai “kontras paling nyaring antara seruan ibadah dan godaan perjudian.”

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kalau azan Maghrib sudah terdengar, harusnya orang pulang ambil wudu. Ini malah masih sibuk hitung uang taruhan,” celetuk seorang warga dengan nada getir.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aktivitas perjudian tersebut disebut berlangsung hampir setiap hari. Namun, keramaian memuncak pada Rabu dan Minggu, ketika para pemain dan penonton berdatangan dari berbagai wilayah.

BACA JUGA :  Bupati Lamteng dan Isteri Terkonfirmasi Positif Covid-19

“Setiap hari ada aktivitas, tapi kalau Rabu dan Minggu itu paling ramai. Motor berjejer, orang berkerumun dari siang sampai sore,” ujar warga lain yang meminta identitasnya dirahasiakan.

Warga menduga maraknya perjudian berbanding lurus dengan meningkatnya angka kriminalitas di wilayah mereka. Bukan rahasia lagi, sejak arena judi itu aktif, kasus pencurian hasil bumi hingga kendaraan petani disebut makin sering terjadi.

Mulai dari kelapa, jagung, singkong, hingga sepeda motor milik petani, semua disebut menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan. Bahkan warga menyindir, di kampung mereka sekarang “yang tidak hilang cuma tiang listrik dan kuburan.”

Kekhawatiran warga itu kembali terbukti setelah peristiwa memilukan menimpa Sugiono (63), petani asal Desa Bauh Gunung Sari, Kamis pagi (28/5/2026).

BACA JUGA :  Iseng Cium Istri Orang, Pria di Sekampung Udik Dipermak Suaminya

Pagi itu, Sugiono berangkat ke ladang seperti biasa untuk memeriksa tanaman sekaligus mencari rumput pakan ternak. Ia memarkir sepeda motor Honda Supra X miliknya di pinggir jalan kebun. Karena khawatir pencurian, motor tersebut sudah diamankan ekstra ketat menggunakan rantai dan gembok.

“Sudah saya rantai dan saya gembok rapat-rapat sebelum saya tinggal masuk ke ladang,” tutur Sugiono.

Namun sekitar 40 menit kemudian, ia justru mendapati pemandangan yang membuat dadanya sesak. Saat kembali ke lokasi parkir, Sugiono melihat seseorang berada di dekat motornya sebelum akhirnya kabur ke arah semak-semak.

Yang tersisa hanyalah kobaran api.

Motor miliknya hangus terbakar.

Sugiono menduga pelaku kesal karena gagal membawa kabur kendaraan yang sudah dirantai dan digembok. Alih-alih menyerah, pelaku justru nekat membakar motor tersebut sebelum melarikan diri.

“Mungkin karena tidak bisa dibawa, akhirnya dibakar begitu saja,” katanya lirih.

Di usia yang sudah tidak muda lagi, Sugiono sempat mencoba mengejar pelaku. Namun tenaganya tak mampu menembus semak dan medan ladang yang berat. Ia hanya bisa menyaksikan motornya berubah jadi rangka besi hitam.

BACA JUGA :  Main Kartu Berujung Maut di Negara Batin, Lamtim: Pelaku Ngaku Tembak Korban Saat Rebutan Pistol

Peristiwa itu memantik kemarahan warga. Mereka menilai aparat penegak hukum tidak boleh lagi tutup mata terhadap aktivitas perjudian yang disebut-sebut sudah lama berlangsung.

Warga mendesak aparat kepolisian segera menindak tegas arena judi sabung ayam dan koprok tersebut sebelum keresahan masyarakat berubah menjadi ledakan emosi sosial.

“Kalau dibiarkan terus, jangan salahkan warga kalau nanti hilang kepercayaan. Masa tempat judi lebih ramai daripada ronda malam?” sindir seorang warga.

Masyarakat berharap keamanan di Kecamatan Sekampung Udik bisa kembali pulih, sehingga petani tidak lagi dihantui rasa takut kehilangan hasil panen maupun kendaraan hanya karena ulah pelaku kriminal yang diduga tumbuh subur di tengah maraknya praktik perjudian ilegal.***