Scroll untuk baca artikel
Budaya

Wayang Kulit Semalam Suntuk di Bersih Desa Pekon Wates Pringsewu Jadi Magnet Budaya

×

Wayang Kulit Semalam Suntuk di Bersih Desa Pekon Wates Pringsewu Jadi Magnet Budaya

Sebarkan artikel ini
Wayang kulit semalam suntuk dari Karawitan Sanggar Sawung Guling Wiyono, Pesawaran dengan Ki Dalang Gondo Sutoto dengan lakon Wisanggeni Ratu di Wates 1, Pekon Wates, Pringsewu, Kamis (16/07/2026).- foto doc

PRINGSEWU – Suara gamelan mulai mengalun ketika malam menyelimuti Pekon Wates, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Lampung, Kamis (16/7/2026). Satu per satu warga berdatangan, menggelar tikar, duduk bersila, lalu larut dalam kisah pewayangan yang akan berlangsung hingga fajar.

Tak ada yang beranjak. Anak-anak, orang tua, hingga para sesepuh desa bertahan semalam suntuk menikmati pagelaran wayang kulit. Bagi masyarakat Pekon Wates, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan, melainkan tradisi sakral yang diwariskan turun-temurun sebagai bagian dari rangkaian Bersih Desa, sebuah ritual budaya yang sarat makna syukur, doa keselamatan, dan penghormatan kepada leluhur.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Malam itu, Kepala Pekon (Kakon) Wates, Surya Dwi Saputra, menghadirkan pagelaran wayang kulit bersama Karawitan Sanggar Sawung Guling Wiyono dari Kabupaten Pesawaran dengan Ki Dalang Gondo Sutoto, S.Sn, yang membawakan lakon “Wisanggeni Ratu”.

Atmosfer budaya begitu terasa. Denting gamelan berpadu dengan tembang Jawa menghidupkan panggung sederhana di Wates I, namun mampu menghadirkan suasana yang memikat ribuan pasang mata.

Bagi masyarakat Jawa di Pekon Wates, pagelaran wayang kulit memiliki makna jauh lebih dalam dibanding sekadar pertunjukan seni.

Tradisi ini menjadi media spiritual untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil kehidupan selama setahun, memohon keselamatan, menolak bala, sekaligus menjadi momentum introspeksi diri memasuki Bulan Sura yang dipercaya memiliki nilai spiritual tinggi dalam budaya Jawa.

BACA JUGA :  Berita Duka, Mastro Campur Sari Didi Kempot Berpulang

Tradisi tersebut terus dijaga dari generasi ke generasi sehingga menjadi identitas budaya masyarakat Pekon Wates yang hingga kini tetap lestari di tengah derasnya arus modernisasi.

Lakon “Wisanggeni Ratu”, Kisah Keberanian dan Keteguhan Seorang Ksatria

Tokoh Wisanggeni dikenal sebagai putra Arjuna yang memiliki kesaktian luar biasa, berani, jujur, tegas, serta rela berkorban demi kebenaran. Nama Wisanggeni sendiri secara harfiah dimaknai sebagai “api yang menyala” atau “api yang membakar”, melambangkan semangat perjuangan yang tidak pernah padam.

Dalam perkembangan sejarah budaya Jawa, gelar “Ratu” juga memiliki keterkaitan dengan silsilah Kesultanan Banten yang pernah menyematkan gelar kebangsawanan kepada tokoh pewaris tahta.

Melalui lakon tersebut, masyarakat diajak mengambil pesan moral tentang kepemimpinan yang berani, amanah, dan berpihak kepada rakyat.

Pemandangan yang paling menyentuh justru terlihat di antara para penonton.

Sejumlah orang tua tampak duduk tanpa bergeser sejak awal pertunjukan hingga menjelang subuh. Mereka menikmati setiap adegan, dialog, hingga iringan gamelan yang mengalun sepanjang malam.

Sesekali terdengar tawa ketika punakawan tampil, lalu suasana berubah hening ketika kisah memasuki babak peperangan dan petuah kehidupan.

BACA JUGA :  Festival Sekappung Limo Migo Pasang “Pagar Adat” untuk Politik: Jokowi Dipersilakan Hadir, Bendera Partai Dilarang Masuk!

Fenomena itu menjadi bukti bahwa wayang kulit masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat, bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai ruang berkumpul lintas generasi.

Rangkaian Bersih Desa Pekon Wates sebenarnya telah dimulai sejak pagi hari.

Berbagai kegiatan religius dan sosial digelar, mulai dari pengajian, doa bersama, hingga aktivitas kemasyarakatan yang melibatkan seluruh elemen warga.

Puncaknya adalah pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang menjadi magnet masyarakat, tidak hanya dari Pekon Wates, tetapi juga dari berbagai pekon di Kecamatan Gadingrejo bahkan wilayah sekitar Kabupaten Pringsewu.

Kegiatan budaya tersebut turut dihadiri jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Gadingrejo, di antaranya Camat Gadingrejo Eko Purwanto, Danramil Gadingrejo Kapten Inf. Rendi Kurniawan, Kapolsek Gadingrejo IPTU Sugiyanto, perwakilan KUA Kecamatan Gadingrejo, Badan Kesbangpol Kabupaten Pringsewu, Babinsa, Bhabinkamtibmas, Praja Binmas, seluruh aparatur Pekon Wates, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta para pemuda.

Kehadiran berbagai unsur tersebut semakin memperkuat nilai kebersamaan dalam pelestarian budaya lokal.

Dalam sambutannya, Kepala Pekon Wates Surya Dwi Saputra, S.Pd menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat dan para donatur yang telah bergotong royong menyukseskan kegiatan tahunan tersebut.

BACA JUGA :  Sempat Buron, Satu dari Tiga Pelaku Pembunuhan di Lapo Tuak Pringsewu Akhirnya Menyerah

“Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat, panitia, para donatur, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan, baik tenaga, pikiran maupun bantuan lainnya. Tanpa kebersamaan dan semangat gotong royong, rasanya mustahil acara sebesar ini bisa terlaksana dengan meriah seperti malam ini,” ujarnya.

Menurutnya, tradisi Bersih Desa bukan hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan, memperkuat nilai gotong royong, sekaligus menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Di saat hiburan digital semakin mendominasi kehidupan masyarakat, Pekon Wates justru menunjukkan bahwa tradisi masih mampu menjadi pusat perhatian.

Pagelaran wayang kulit yang berlangsung hingga dini hari menjadi bukti bahwa budaya lokal tetap memiliki ruang di hati masyarakat apabila terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi muda.

Bersih Desa Pekon Wates akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan perayaan identitas, kebersamaan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur yang telah mengakar selama puluhan tahun. Malam itu, bukan hanya lakon Wisanggeni Ratu yang hidup di atas kelir, tetapi juga semangat gotong royong, kecintaan terhadap budaya, dan kedekatan antara pemimpin desa dengan masyarakatnya yang terasa nyata hingga akhir pertunjukan.***