Catatan Harian Abdul Rohman Sukardi
WawaiNEWS.ID – Transformasi digital tidak hanya mengubah cara manusia membaca berita. Ia sedang mengubah struktur kekuasaan informasi secara radikal.
Media kini memasuki fase yang dapat disebut sebagai homeless media. Sebuah kondisi ketika informasi tidak lagi “tinggal” secara permanen di institusi media tertentu, melainkan berpindah-pindah melintasi platform digital yang dikendalikan algoritma.
Berita tidak lagi lahir, tumbuh, lalu mati di ruang redaksi. Kini informasi hidup di TikTok, Instagram, X, YouTube, Threads, Telegram, hingga grup WhatsApp keluarga yang kadang lebih cepat dari breaking news televisi.
Dalam ekosistem baru ini, institusi media kehilangan monopoli sebagai penjaga gerbang informasi (gatekeeper). Peran itu perlahan diambil alih algoritma.
Hari ini, bukan hanya editor yang menentukan berita mana yang muncul di hadapan publik. Tetapi mesin digital yang bekerja berdasarkan klik, durasi tontonan, emosi, interaksi, dan potensi viralitas.
Algoritma tidak bertanya: “Apakah berita ini penting?”
Algoritma bertanya: “Apakah orang akan berhenti scrolling?”
Di situlah lanskap media berubah total.
Jika dulu media adalah gedung besar dengan ruang redaksi, percetakan, dan struktur hierarkis, maka kini media bisa berupa satu orang dengan ponsel, akun media sosial, dan kemampuan membangun perhatian publik.
Penulis independen, kreator konten, podcaster, hingga citizen journalist menjadi aktor utama dalam arus informasi modern. Mereka tidak membutuhkan kantor mewah atau mesin cetak. Mereka hanya membutuhkan audiens.
Dan dalam ekonomi digital hari ini, perhatian adalah mata uang paling mahal.
Secara ekonomi, pergeseran itu sangat nyata. Lebih dari 70 persen belanja iklan global kini mengalir ke platform digital seperti Google, Meta, TikTok, dan YouTube. Media konvensional perlahan kehilangan dominasi finansialnya.
Dulu perusahaan media menguasai distribusi informasi. Kini distribusi dikuasai platform teknologi.
Redaksi memproduksi berita. Tetapi platform menguasai lalu lintas perhatian.
Analogi sederhananya seperti ini:
Platform digital adalah jalan raya.
Algoritma adalah polisi lalu lintas.
Penulis independen adalah kendaraan yang berlomba mencari perhatian.
Audiens adalah tujuan akhir seluruh arus informasi.
Dalam sistem seperti ini, yang menentukan pengaruh bukan lagi siapa yang paling benar. Tetapi siapa yang paling mampu menguasai arus perhatian publik.
Inilah era attention economy, sebagaimana dijelaskan Herbert A. Simon: ketika informasi melimpah, maka perhatian manusialah yang menjadi langka.
Akibatnya, konten yang memicu emosi lebih mudah menang dibanding konten yang membutuhkan perenungan. Kemarahan lebih cepat viral dibanding argumentasi. Sensasi lebih cepat menyebar dibanding verifikasi.
Maka jangan heran jika hari ini judul bombastis kadang lebih berkuasa dibanding isi yang substansial.
Dalam kondisi itu, penulis independen memiliki dua wajah sekaligus: pembebas dan sekaligus korban sistem.
Di satu sisi, mereka memperluas demokratisasi informasi. Mereka mampu memotong birokrasi redaksi yang lambat, menghadirkan perspektif alternatif, dan membangun kedekatan langsung dengan audiens tanpa perantara institusi.
Tetapi di sisi lain, mereka juga hidup dalam ketergantungan penuh terhadap algoritma yang tidak transparan. Hari ini viral, besok tenggelam. Hari ini dibanjiri engagement, besok hilang dari peredaran digital hanya karena perubahan sistem distribusi platform.
Ironisnya, banyak kreator akhirnya tidak lagi memproduksi konten berdasarkan nilai informasi, tetapi berdasarkan “apa yang disukai algoritma.”
Pada titik itu, algoritma bukan lagi alat bantu distribusi. Ia berubah menjadi pengarah budaya dan perilaku sosial.
Lebih jauh lagi, fenomena homeless media melahirkan paradoks baru. Informasi menjadi sangat bebas, tetapi kepercayaan publik justru makin rapuh.
Semua orang bisa menjadi media. Tetapi tidak semua orang memiliki standar verifikasi, disiplin etik, dan tanggung jawab jurnalistik.
Akibatnya, batas antara fakta, opini, propaganda, hiburan, dan manipulasi menjadi kabur.
Disinformasi menyebar secepat meme. Hoaks kadang lebih cepat dipercaya dibanding klarifikasi resmi. Bahkan dalam banyak kasus, kebenaran kalah cepat dibanding sensasi.
Di sinilah media konvensional sebenarnya belum mati. Perannya hanya berubah.
Media arus utama mungkin kalah dalam kecepatan viralitas, tetapi masih memiliki fungsi penting sebagai institusi verifikasi, investigasi mendalam, pengujian data, dan legitimasi informasi.
Jika penulis independen menguasai arus perhatian, maka media profesional seharusnya menguasai kualitas dan kredibilitas.
Masalahnya, sebagian media justru ikut terseret logika algoritma. Judul dibuat semakin provokatif, isu dipadatkan demi klik, dan kedalaman analisis dikorbankan demi kecepatan tayang.
Media akhirnya berlomba menjadi cepat, tetapi kehilangan kedalaman.
Padahal demokrasi yang sehat tidak hanya membutuhkan informasi yang viral. Demokrasi membutuhkan informasi yang benar.
Karena itu, masa depan media kemungkinan bukan lagi pertarungan antara media lama dan media baru. Tetapi pertarungan antara kredibilitas melawan kekacauan informasi.
Pada akhirnya, lanskap media modern tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki “rumah” informasi paling besar.
Tetapi oleh siapa yang mampu mengendalikan arus perhatian publik di tengah sistem digital yang bergerak cepat, tanpa pusat tetap, tanpa batas geografis, dan tanpa jeda.
Dan di zaman ini, satu unggahan kadang lebih berpengaruh dibanding satu ruang redaksi penuh wartawan.***









