KOTA BEKASI – Musim kemarau kembali memperlihatkan wajah lain Kali Bekasi. Debit air yang terus menurun membuat aliran sungai tak lagi mampu menyamarkan pencemaran yang diduga selama ini masuk ke badan air. Air berubah menjadi hitam pekat, memunculkan keresahan warga sekaligus menjadi alarm bagi pemerintah untuk kembali memburu sumber limbah.
Fenomena tersebut bukan pertama kali terjadi. Hampir setiap musim kemarau, saat debit air Sungai Cileungsi, Sungai Cikeas, hingga Kali Bekasi menyusut drastis, warna air kembali menghitam. Kondisi ini memunculkan dugaan bahwa pencemaran telah berlangsung cukup lama dan baru terlihat jelas ketika volume air berkurang.
Merespons kondisi tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bekasi bersama Komunitas Peduli Sungai Cileungsi dan Cikeas (KP2C) melakukan investigasi lapangan dengan menyusuri aliran Sungai Cileungsi hingga memasuki wilayah administrasi Kabupaten Bogor.
Tim gabungan yang terdiri dari personel KP2C dan Pasukan Katak DLH Kota Bekasi menemukan indikasi pencemaran di sejumlah titik. Perubahan warna air menjadi hitam pekat terlihat sejak wilayah hulu Sungai Cileungsi sebelum aliran tersebut bermuara ke Kali Bekasi.
Temuan itu kemudian ditindaklanjuti dengan penelusuran lebih mendalam terhadap sejumlah saluran pembuangan yang diduga menjadi jalur masuk air limbah ke badan sungai.
Sebagai bagian dari investigasi ilmiah, UPTD Laboratorium DLH Kota Bekasi melakukan pengambilan sampel air di beberapa titik. Sampel tersebut akan dianalisis guna mengetahui kualitas air sekaligus mengidentifikasi karakteristik pencemar yang menyebabkan perubahan warna sungai.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Kiswatiningsih, mengatakan hasil investigasi awal menunjukkan indikasi bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu. Namun demikian, seluruh temuan masih harus dibuktikan melalui hasil uji laboratorium.
“Berdasarkan hasil penelusuran lapangan, indikasi awal menunjukkan bahwa sumber pencemaran berasal dari wilayah hulu. Namun demikian, kami tetap melakukan verifikasi melalui pengambilan sampel dan analisis laboratorium untuk memastikan sumber pencemar secara ilmiah. Selama ini DLH Kota Bekasi juga terus melakukan monitoring dan pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang berada di kawasan perbatasan serta di sepanjang sempadan Kali Bekasi guna memastikan kepatuhan terhadap ketentuan pengelolaan lingkungan hidup,” ujar Kiswatiningsih.
DLH Kota Bekasi menegaskan investigasi akan terus dilakukan hingga sumber pencemaran dapat dipastikan. Apabila hasil uji laboratorium menunjukkan pencemar berasal dari luar wilayah Kota Bekasi, koordinasi akan dilakukan bersama pemerintah daerah terkait serta instansi berwenang untuk penanganan lebih lanjut.
Kolaborasi bersama KP2C juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pengawasan kualitas air sungai sekaligus merespons cepat setiap laporan masyarakat terkait dugaan pencemaran lingkungan.
Bagi warga di sepanjang bantaran Kali Bekasi, air yang menghitam saat musim kemarau bukan lagi peristiwa yang mengherankan. Hampir setiap tahun, ketika hujan berhenti turun dan debit sungai menyusut, persoalan yang sama kembali muncul.
Secara ilmiah, musim kemarau bukan penyebab munculnya limbah. Namun, rendahnya debit air membuat kemampuan sungai mengencerkan bahan pencemar menjadi jauh berkurang. Akibatnya, limbah yang masuk ke aliran sungai tampak lebih pekat dan lebih mudah terlihat.
Ironisnya, fenomena ini terus berulang dari tahun ke tahun. Warga menyaksikan pola yang hampir sama: debit air turun, sungai menghitam, investigasi dilakukan, hasil laboratorium diumumkan, namun persoalan pencemaran kembali muncul pada musim kemarau berikutnya.
Bagi masyarakat, Kali Bekasi bukan sekadar saluran air. Sungai ini merupakan bagian penting dari kehidupan, ekosistem, sekaligus sumber daya yang harus dijaga bersama. Karena itu, mereka berharap penyelesaian persoalan tidak berhenti pada investigasi, tetapi benar-benar menyentuh akar masalah dengan menindak sumber pencemaran secara tegas.
Kalau musim hujan identik dengan banjir, maka musim kemarau di Kali Bekasi seolah punya “tradisi” sendiri: air surut, sungai menghitam, investigasi dimulai, lalu publik kembali bertanya, “tahun depan begini lagi?”.***













