Scroll untuk baca artikel
AgamaPersona

Guru RA Digaji Rp6.000 Sehari, Parkir Motor Lebih Mahal! Potret Ironis Penjaga Generasi Emas Indonesia

×

Guru RA Digaji Rp6.000 Sehari, Parkir Motor Lebih Mahal! Potret Ironis Penjaga Generasi Emas Indonesia

Sebarkan artikel ini
Umi Hanik Wahyuni, Guru RA Tarbiyatul Athfal Desa Gilis Sarang- foto dok ist

WawaiNEWS.ID – Kalau ada pertanyaan, guru mana yang paling layak diperhatikan negara?

Jawabannya mungkin bukan guru yang setiap bulan menerima tunjangan profesi puluhan juta rupiah. Bukan pula guru yang sibuk mengejar angka kredit.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Jawabannya adalah guru Raudlatul Athfal (RA).

Mereka mengajar anak-anak yang baru belajar memegang pensil, mengeja huruf hijaiyah, memakai sepatu sendiri, hingga belajar mengucapkan kata “maaf” dan “terima kasih”. Mereka membentuk karakter sebelum anak mengenal rumus matematika.

Ironisnya, penghargaan yang mereka terima sering kali bahkan tidak cukup untuk membeli sebungkus nasi.

Di Desa Gilis, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, ada sosok bernama Umi Hanik Wahyuni.

Sejak tahun 2017, ia mengajar di RA Tarbiyatul Athfal.

Setiap pagi pukul 07.00 hingga sekitar pukul 10.00 WIB, ia mendampingi puluhan anak usia dini. Tidak jarang ia pulang lebih siang karena masih harus merapikan kelas, membereskan administrasi, atau memastikan semua anak telah dijemput orang tuanya.

Bagi sebagian orang, mengajar anak PAUD mungkin terdengar sederhana.

Padahal kenyataannya jauh lebih melelahkan.

BACA JUGA :  Seleksi BAZNAS Bekasi Bocor, Nama Diduga Parpol Tetap Lolos

Anak menangis.

Anak berebut mainan.

Anak tiba-tiba marah.

Ada yang berlari tanpa tujuan.

Ada yang merengek minta ibunya.

Bahkan ketika ada murid yang buang air di celana, gurulah yang membersihkan dengan penuh kesabaran.

Semuanya dilakukan sambil tetap tersenyum.

Karena bagi guru RA, senyum adalah bagian dari kurikulum.

Honor yang Membuat Hati Terdiam

Lalu, berapa negara dan masyarakat menghargai pekerjaan itu?

Rp6.000 per hari.

Ya.

Enam ribu rupiah.

Nominal yang bahkan lebih murah daripada biaya parkir motor di banyak kota.

Dengan honor sekitar Rp150.000 hingga Rp200.000 per bulan, Umi tetap datang mengajar dengan wajah ceria.

Saat ditanya mengapa masih bertahan, jawabannya justru membuat siapa pun tercekat.

“Saya ngajar di RA untuk isi aktivitas pagi. Kalau sore mengajar TPQ. Bagi saya mengajar RA itu hiburan, karena saya senang bertemu anak-anak.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi justru menyimpan pelajaran besar tentang keikhlasan.

Umi menganggap mengajar sebagai bagian dari pengabdian seorang santri Ma’hadul ‘Ulum Asy-Syar’iyyah (MUS) Sarang.

Ilmu agama yang dipelajari di pesantren ia amalkan dengan mendidik anak-anak.

Tanpa menghitung untung-rugi.

Tanpa menawar pengorbanan.

Gaji Tak Tetap, Hidup Tetap Berjalan

Umi adalah ibu dari tiga anak.

Suaminya bekerja serabutan.

Kadang ada pekerjaan.

Kadang tidak.

Sesekali diminta memimpin tahlil.

Di rumah, mereka memelihara delapan ekor kambing sebagai tambahan penghasilan.

Bagaimana mereka bertahan?

Jawaban Umi kembali sederhana.

“Kuncinya hidup sederhana.”

Kalimat yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang.

Namun bagi keluarga yang menggantungkan hidup dari penghasilan yang tak menentu, itu adalah bentuk ketangguhan.

Generasi Emas Dibangun oleh Guru Bergaji Receh

Setiap hari pemerintah berbicara tentang Indonesia Emas 2045.

Tentang bonus demografi.

Tentang pembangunan sumber daya manusia.

Tentang generasi unggul.

Namun fondasi semua cita-cita itu justru sedang dibangun oleh guru-guru RA dengan honor yang bahkan kalah dari harga segelas kopi.

Mereka mengajari anak mengenal Tuhan.

Belajar disiplin.

Belajar berbagi.

Belajar menghormati orang tua.

Belajar menjadi manusia baik.

Ironisnya, profesi yang begitu mulia masih diperlakukan seolah pekerjaan sukarela.

Di tengah keterbatasan itu, secercah harapan datang dari Kementerian Agama Kabupaten Rembang bersama Baznas Rembang.

Sebanyak 80 guru RA yang belum menerima sertifikasi maupun bantuan lain memperoleh insentif pendidikan sebesar Rp750.000 per orang.

Total bantuan mencapai Rp60 juta.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Rembang, Moh. Mukson, menyebut guru RA sebagai pejuang pendidikan yang luar biasa.

“Perjuangan mereka berat, tetapi wajah mereka selalu ceria.”

Dana tersebut berasal dari zakat ASN Kementerian Agama yang disalurkan melalui Baznas.

Ketua Baznas Rembang, Moh. Ali Anshory, menjelaskan guru RA termasuk golongan fi sabilillah sehingga berhak menerima zakat.

Namun keterbatasan anggaran membuat baru 80 guru yang bisa dibantu.

“Kalau penghimpunan zakat mencapai Rp10 hingga Rp15 miliar setahun, tentu lebih banyak guru yang dapat kami bantu.”

Keikhlasan adalah nilai luhur.

Tetapi keikhlasan tidak boleh dijadikan pembenaran untuk membayar guru dengan angka yang nyaris tak masuk akal.

Karena guru RA bukan sekadar menjaga anak.

Mereka sedang membangun karakter bangsa.

Mereka sedang menanam nilai agama.

Mereka sedang membentuk fondasi generasi Indonesia masa depan.

Kalau guru yang membentuk generasi emas hanya dihargai Rp6.000 sehari, mungkin yang perlu dievaluasi bukan keikhlasan para guru.

Melainkan cara kita menghargai mereka.***