Scroll untuk baca artikel
Nasional

“Saat Menteri Agama Datang ke Akad Nikah, Pengantin Mendadak Jadi Pemeran Pendukung di Hari Pernikahannya Sendiri”

×

“Saat Menteri Agama Datang ke Akad Nikah, Pengantin Mendadak Jadi Pemeran Pendukung di Hari Pernikahannya Sendiri”

Sebarkan artikel ini
Pasangan pengantin di KUA Semarang Selatan yang Menikah Dihadiri Menteri Agama, Semarang, pada Jum'at (5/6/2026) - foto doc Kemenag

WawaiNEWS.ID – Di negeri yang segala sesuatunya bisa menjadi acara seremonial, bahkan akad nikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA) pun mendadak naik kasta ketika Menteri Agama RI ikut hadir sebagai saksi hidup sekaligus pusat perhatian.

Inilah yang dialami pasangan Brian Fatihatul Syifa dan Ajeng Dwi Pratmawati. Mereka awalnya hanya ingin menikah dengan tenang, mengucap ijab kabul, berfoto bersama keluarga, lalu pulang sebagai suami istri. Namun takdir berkata lain. Beberapa hari sebelum hari H, mereka menerima kabar yang cukup untuk membuat tekanan darah naik tanpa perlu kopi.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, akan hadir langsung dalam akad nikah mereka.

“Baru dikabari hari Selasa,” ujar Ajeng.

Tentu saja. Karena apa lagi yang lebih menenangkan calon pengantin selain kabar bahwa akad nikahnya akan disaksikan langsung oleh pejabat tertinggi Kementerian Agama?

Biasanya calon pengantin hanya deg-degan menghadapi penghulu. Brian dan Ajeng mendapatkan bonus paket lengkap: penghulu, keluarga besar, tamu undangan, kamera, dan Menteri Agama.

Ketika hari akad tiba, suasana KUA Semarang Selatan berubah drastis. Tempat yang biasanya identik dengan antrean administrasi dan urusan dokumen mendadak terasa seperti lokasi kunjungan kenegaraan skala mini. Menteri Agama hadir. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam hadir. Pejabat kementerian hadir. Kamera hadir. Yang hampir tidak hadir hanyalah rasa tenang pasangan pengantin.

BACA JUGA :  Seleksi Petugas Haji Tingkat Pusat Dibuka, Ada 8 Formasi Salah Satunya Media Center

Ajeng mengakui dirinya gugup.

“Awalnya deg-degan, tapi habis itu senang.”

Brian pun merasakan hal yang sama.

“Sama, ada kagetnya juga.”

Tentu kaget. Tidak setiap hari seseorang datang ke KUA untuk menikah lalu mendapati dirinya menjadi bagian dari agenda kementerian.

Meski demikian, prosesi tetap berjalan lancar. Ijab kabul terlaksana tanpa perlu revisi, tanpa rapat koordinasi, dan tanpa nota dinas tambahan. Brian dan Ajeng resmi menjadi pasangan suami istri.

Namun di balik momen tersebut, terdapat agenda yang lebih besar. Kehadiran Menteri Agama merupakan bagian dari program “Bimas Islam Mantu” yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam.

Program ini sekaligus menjadi panggung peluncuran Gerakan Jumat Aman, Sehat, Resik, Indah, dan Asri atau Gemah KUA.

Nama programnya cukup panjang. Hampir sepanjang harapan para pasangan yang baru menikah.

Melalui program ini, pemerintah ingin menunjukkan bahwa KUA bukan lagi sekadar tempat mengurus buku nikah dan legalisasi pernikahan. KUA didorong menjadi pusat layanan keagamaan yang lebih aktif, lebih ramah, lebih bersih, lebih asri, dan tentu saja lebih fotogenik untuk dokumentasi kegiatan resmi.

BACA JUGA :  Tak Ada yang Lihat Hilal, Lebaran “Resmi Mundur”: Pemerintah Tetapkan Idul Fitri 1447 H Jatuh Sabtu, 21 Maret 2026

Dalam kesempatan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan filosofis mengenai makna pernikahan.

Menurut beliau, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua manusia yang saling mencintai, melainkan sebuah “mitsaqan ghalizha” atau perjanjian kokoh yang harus dijaga sepanjang hayat.

Beliau bahkan mengibaratkan hubungan suami dan istri seperti hubungan langit dan bumi.

Langit sebagai simbol suami.

Bumi sebagai simbol istri.

Keduanya bekerja sama melahirkan kehidupan.

Sebuah analogi yang indah sekaligus mengingatkan bahwa setelah pesta usai, foto-foto selesai diunggah, dan ucapan selamat berhenti berdatangan, kehidupan rumah tangga sesungguhnya baru dimulai.

Karena pada akhirnya, tantangan pernikahan bukanlah mengucapkan akad nikah selama beberapa detik.

Tantangannya adalah tetap saling memahami setelah bertahun-tahun menghadapi tagihan listrik, harga kebutuhan pokok, jadwal keluarga besar, dan pertanyaan klasik yang lebih mengerikan daripada wawancara kerja:

“Kapan punya anak?”

Menteri Agama juga mengajak pasangan pengantin untuk memaknai rumah tangga layaknya menjaga alam.

Butuh komitmen.

Butuh kesabaran.

Butuh tanggung jawab.

Dan kadang-kadang butuh kemampuan menahan diri untuk tidak memperdebatkan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak penting, seperti siapa yang lupa mematikan lampu atau siapa yang terakhir kali mengganti galon.

Sebelum sampai pada hari akad, Brian dan Ajeng juga merasakan langsung pelayanan KUA mulai dari pendaftaran hingga bimbingan perkawinan.

BACA JUGA :  Fenomena Anak Muda SCBD,  Ridwan Kamil: Kreativitas dan Inovasi yang Patut Didukung

Menurut Ajeng, pelayanannya cepat dan ramah.

Sebuah testimoni yang cukup berharga di tengah budaya masyarakat yang sering kali lebih cepat menyebarkan keluhan dibandingkan pujian.

Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa wajah pelayanan publik perlahan mulai berubah. Setidaknya, masyarakat berharap perubahan itu tidak hanya muncul saat ada kunjungan pejabat.

Kini Brian dan Ajeng telah resmi menjalani kehidupan sebagai suami dan istri.

Harapan mereka sederhana.

Ajeng berharap rumah tangga mereka semakin baik dan jauh dari konflik.

Brian berharap kehidupan mereka semakin maju.

Sebuah harapan yang terdengar sederhana, tetapi justru menjadi inti dari setiap pernikahan.

Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah pernikahan berkesan bukanlah berapa banyak pejabat yang hadir, seberapa panjang daftar tamu undangan, atau seberapa ramai sorotan kamera yang mengabadikan momen.

Yang paling penting adalah bagaimana dua orang memutuskan untuk berjalan bersama menghadapi kehidupan yang panjang dan penuh kejutan.

Meski demikian, harus diakui bahwa tidak semua pasangan bisa bercerita kepada anak cucunya kelak:

“Dulu waktu ayah dan ibu nikah, Menteri Agama datang langsung ke akad.”

Dan itu jelas menjadi bonus cerita yang cukup sulit ditandingi oleh album foto pernikahan mana pun.***