Scroll untuk baca artikel
Budaya

Nyi Subang Larang Santriwati Syekh Quro yang Taklukkan Prabu Siliwangi

×

Nyi Subang Larang Santriwati Syekh Quro yang Taklukkan Prabu Siliwangi

Sebarkan artikel ini

Ketika sedang inspeksi datang ke Karawang, ditemukan seorang perempuan namanya Nyai Subang Larang, murid dari Syekh Quro.

Syekh Quro yang bernama asli, Syekh Hasanuddin, ketika pulang dari Mekah, maka di sebut ummul quro, maka di sebut Syekh Quro.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

Mendirikan pesantren di Karawang, sampai sekarang masih ada pesantren Syekh Quro. Pondok Quro atau Pondok Pesantren Syekh Quro di Karawang.

Pesantren ini didirikan oleh Syekh Hasanudin atau Syekh Mursahadatillah atau Syekh Qurotil Ain atau lebih dikenal dengan sebutan Syekh Quro pada tahun 1340 Saka (1418 M) di Pelabuhan Bunut Kertayasa, Karawang Kulon, Karawang Barat sekarang.

BACA JUGA :  Idul Adha di Cirebon: Dedi Mulyadi Ajak Tingkatkan Ketakwaan dan Potong Anggaran Demi Rakyat

Jatuh hatinya Prabu Siliwangi kepada Nyai Subang Larang, dan menikah. Dari pernikahannya dikaruniai 3 anak utama, yaitu diantaranya.

Pertama seorang putra bernama Walang Soengsang lahir pada 1423 M.

Kedua dikaruniai seorang Putri bernama Nyai Rara Santang yang lahir pada 1426 M. Putra ketiga bernama Radja Sangara yang lahir pada 1427 M.

Walang Soengsang berubah namanya menjadi Abdullah Iman, kemudian Nyai Rara Santang berubah nama menjadi Saripah Moedaim.

BACA JUGA :  Suku Unik, Pria dengan Perut Buncit di Negara ini Bisa Mendapatkan Gelar Kehormatan

Keduanya pergi ke Mekah, saat selesai dan akan kembali ke tanah air, datanglah seorang laki-laki yang melihat Saripah Moedaim.

Laki-laki itu bernama Maolana Soeltan Mahmoed atau dikenal Syarif Abdullah. Syarif Abdullah meminta restu kepada kakaknya Saripah Moedaim, Abdullah Iman untuk melamarnya.

Setelah menikah Saripah Moedaim, diboyong ke Mesir, asal dari Syarif Abdullah.

Abdullah Iman pulang ke Nusantara, menemui bapaknya, setelah pulang Prabu Siliwangi punya gelar Pemanah Rasa namanya Menah Rasa.

BACA JUGA :  14 Orang Tewas Akibat Longsor, Pemprov Jabar Stop Tambang Galian C di Gunung Kuda

Ditugaskanlah kemudian untuk membimbing daerah yang disebut Lemah Wungkuk. Di daerah sini terdapat campuran etnis, ada Arab, China, dan orang lokalnya.

Campuran dalam bahasa lokal disebut dengan Caruban. Caruban artinya yang bercampur. Pekerjaan utamanya orang sekitar mengambil udang.

Udang tersebut dibuat menjadi terasi, pakai air, air asin atau Rebon. Air Rebon orang sana bilang cai Rebon, jadi Cirebon. Orangnya Caruban tempatnya berubah jadi Cirebon.