Scroll untuk baca artikel
SOSIALZona Bekasi

Undangan Istana Datang ke Rumah Putra Sayuti Melik, Keluarga Pengetik Proklamasi: “Bahagia Rasanya”

×

Undangan Istana Datang ke Rumah Putra Sayuti Melik, Keluarga Pengetik Proklamasi: “Bahagia Rasanya”

Sebarkan artikel ini
Treyzia Noviani (65) istri dari Heru Baskoro (84) yang merupakan putra dari Sayuti Melik menerima undangan langsung dari Presiden Prabowo untuk HUT RI ke-81, Kamis (13/8) - foto dok

KOTA BEKASI — Sebuah amplop undangan dari Istana menjadi tamu istimewa di sebuah rumah di Kota Bekasi, Kamis (13/8/2026). Bukan undangan biasa, melainkan undangan dari Presiden RI Prabowo Subianto untuk keluarga Sayuti Melik, tokoh yang namanya melekat kuat dalam sejarah lahirnya Republik Indonesia.

Senyum sumringah pun terlihat dari keluarga sang pahlawan. Undangan untuk menghadiri rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan RI tersebut diantar langsung oleh Wakil Wali Kota Bekasi Abdul Harris Bobihoe bersama jajaran Kementerian Sekretariat Negara.

GESER UNTUK BACA BERITA
GESER UNTUK BACA BERITA

“Kami mengantarkan undangan HUT RI 81 dari Pak Presiden Prabowo. Ini merupakan penghormatan dari beliau kepada keluarga pahlawan nasional Pak Sayuti Melik yang merupakan pengetik naskah Proklamasi,” ujar Harris.

Undangan berwarna biru muda dengan lambang Garuda itu diterima langsung oleh Treyzia Noviani (65), istri Heru Baskoro (84), putra Sayuti Melik. Bagi keluarga, kedatangan undangan tersebut bukan sekadar agenda kenegaraan. Ada rasa haru sekaligus bahagia karena nama dan perjuangan orang tua mereka kembali mendapat tempat dalam peringatan kemerdekaan.

BACA JUGA :  Harris Bobihoe Larang Sekolah Tahan Ijazah dan Pungut Biaya Perpisahan, SPMB Diawasi Ketat

“Ada yang mengetuk rumah, dan ternyata undangan dari Pak Presiden diantar langsung oleh Pak Wakil Wali Kota serta jajaran Setneg. Kami ucapkan terima kasih dan bahagia rasanya,” kata Treyzia.

Sayuti Melik, Bukan Sekadar Orang di Balik Mesin Ketik

Nama Mohamad Ibnu Sayuti atau Sayuti Melik mungkin lebih sering muncul dalam buku sejarah sebagai “pengetik naskah Proklamasi”. Namun perannya jauh lebih panjang daripada sekadar duduk di depan mesin ketik pada malam menjelang Indonesia merdeka.

Sayuti Melik lahir di Kadisobo, Rejodani, Sleman, Yogyakarta, pada 25 November 1908. Ia tumbuh sebagai aktivis pergerakan, jurnalis dan pejuang yang sejak muda bersentuhan dengan gagasan nasionalisme.

Aktivitas politik dan tulisannya bahkan membuatnya berulang kali berhadapan dengan aparat kolonial.

BACA JUGA :  12 Pegawai dan eks Ajudan Tri Adhianto Masih Terima Gaji, Ketua Komisi I Semprot Pj Wali Kota Bekasi

Menjelang Proklamasi 1945, Sayuti termasuk kelompok pemuda yang mendorong agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan setelah Jepang menyerah kepada Sekutu.

Ia juga hadir dalam rangkaian peristiwa yang mengantarkan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok sebelum keduanya kembali ke Jakarta untuk merumuskan Proklamasi.

Puncak perannya terjadi pada dini hari 17 Agustus 1945 di kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Setelah konsep Proklamasi disepakati, Soekarno meminta Sayuti Melik mengetiknya.

Dalam proses tersebut, Sayuti melakukan sejumlah perubahan penting, antara lain mengubah “tempoh” menjadi “tempo” dan “Wakil-Wakil Bangsa Indonesia” menjadi “Atas Nama Bangsa Indonesia”, serta menyesuaikan penulisan tanggal. Naskah ketikan itulah yang kemudian ditandatangani Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia.

Dengan kata lain, ketika sejarah sedang berpacu dengan waktu, Sayuti Melik berada di salah satu titik paling pentingnya. Ia bukan penyusun tunggal naskah tersebut, tetapi menjadi tokoh yang mengetik konsep yang telah dirumuskan Soekarno, Hatta dan Ahmad Soebardjo hingga menjadi naskah Proklamasi autentik.

BACA JUGA :  Susur Sungai hingga Tanam Pohon, Wawali Bekasi Ajak Warga Masyarakat Lebih Peduli Lingkungan

Dari Sleman, Jejaknya Sampai ke Bekasi

Sayuti Melik kemudian melanjutkan kiprahnya setelah Indonesia merdeka, termasuk dalam dunia politik. Ia pernah menjadi anggota DPR RI pada periode 1971–1982. Sayuti menikah dengan wartawati sekaligus aktivis Soerastri Karma Trimurti (SK Trimurti) dan dikaruniai dua putra, salah satunya Heru Baskoro.

Kini, puluhan tahun setelah mesin ketik Sayuti Melik menyelesaikan tugas bersejarahnya, jejak perjuangan itu hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana: sebuah undangan yang mengetuk pintu rumah keluarganya di Bekasi.

Ironisnya sekaligus indah: dahulu Sayuti membantu mengetik kalimat yang menandai lahirnya sebuah negara. Kini, generasi setelahnya menerima undangan dari kepala negara untuk ikut memperingati ulang tahun negara tersebut.

Dari mesin ketik menuju undangan Istana sejarah memang kadang bekerja dengan cara yang sederhana, tetapi meninggalkan gema yang panjang.***